Kolom

Amien Rais Jubir Neraka?

2 Mins read
Amien Rais Jubir Neraka? th

Pernyataan Amien Rais kala mengkomandoi Tim Pengawal Peristiwa Pembunuhan (TP3) eks laskar Front Pembela Islam (FPI) berjumpa dengan Presiden Jokowi di istana ramai dibicarakan publik. Pasalnya, dalam pertemuan yang berlangsung singkat sekitar 15 menit tersebut, Amien Rais menyinggung soal hukuman neraka jahanam atas terbunuhnya eks laskar FPI di KM 50 Tol Jakarta -Cikampek. Pernyataan Amien Rais itu seolah dia paling tau soal hukuman-hukuman Tuhan. Lantas, apakah Amien Rais sudah menjadi jubir neraka?

Padahal, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) telah jelas menyampaikan hasil investigasnya, bahwa peritiwa baku tembak antara polisi dan pengawal MRS yang meregang nyawa laskar FPI merupakan pelanggaran HAM biasa, namun TP3 tak puas dan terus memburu keadilan versi mereka sendiri hingga sampai ke istana negara.

Apresiasi seharusnya kita layangkan pada Presiden Jokowi yang telah rela meluangkan waktunya di tengah fokusnya pemerintah mengatasi pandemi, menjalankan program vaksinasi diseluruh negeri. Kelogowoan Jokowi juga patut ditiru, menerima kunjungan Amien Rais cs dengan tangan terbuka, meski kita tau Amien Rais merupakan salah satu sosok yang kerap mengkritik Jokowi dengan kritikan pedas. Ini juga membuktikan Jokowi sebagai pemimpin yang mau mendengar keluh kesah rakyatnya, tanpa memandang latar belakang apapun, sekaligus menepis anggapan sebagaian orang bahwa Jokowi pemimpin otoriter.

Namun, sikap kenegarawanaan yang ditunjukkan Jokowi ternyata tidak mendapat simpati dari Amien Rais, malah justru dibalas dengan ancaman neraka jahanam oleh Amien Rais. Pernyataan Amien Rais sendiri disampaikan oleh Mahfud MD selaku Menkopolhukam dalam konfrensi pers yang disiarkan lewat kanal Youtube Kesektariatan negara. Dalam pertemuan serius itu, Amien meminta agar kasus tertembaknya enam laskar FPI diberlakukan sebbagai kasus pelanggaraan HAM berat.

Selain tidak etis dan kontroversi, pernyataan itu saya rasa kurang pantas disampaikan di istana, dihadapan Presiden. Jokowi sendiri bukan orang awam yang tidak mengerti sama sekali soal agama. Bahkan, seperti diketahui Jokowi pernah menjadi imam sholat di Afganistan, saat kunjungan kenegaraan, Senin 2/1/2018).

Amin Rais sebagai orang yang telah banyak makan asam garam, seharusnya lebih bijak dalam menyampaikan masukan dan kritik. Terlebih itu disampaikan secara langsung dihadapan Presiden dan di istana negara. Namun untungnya kita memiliki Presiden yang terbuka dan selalu legowo menerima masukan dan kritik.

Melihat Amien Rais sekarang memng membingungkan, ia dan kelompoknya sangat mudah mengaitkan sauatu permaslahan langsung dengan hukum Tuhan, seolah Tuhan selalu berada dipihaknya. Di usia senjanya, Amien Rais masih terus kelimpungan mencari momentum yang hilang. Ia mengendarai apa saja demi kepuasan politiknya. Dengan dalih menuntut keadilan yang sebenarnya bukan ranahnya dia untuk menuntut. Filsuf Yunani, Plato, pernah mengingatkan, yang menurut saya cocok dengan perilaku Amien Rais ini. Plato mengatakan, “dengan watak yang selalu berlawanan,  dalam usia muda maupun tua, semua hal akan terasa menjadi beban.”

Ya begitupun Amien Rais, semakin tua usianya, semakin merasa ingin jadi pahlawan kesiangan. Amien Rais sebenarnya tak perlu menyampaikan ancaman neraka, jika ingin jadi ahli neraka. Lebih baik Amien Rais menjadi insan Muhammadiyah yang sejati, yang menyampaikan kebaikan dengan cara yaang baik pula. Tidak boleh mengajak kebaikan dengan dimensi meaksa dan menakut-nakuti. Begitupula dalam mencegah kemungkaran, harus dengan cara-cara yang baik.

Maka sangat disayangkan sikap sekelas Amien Rais ini masih sibuk berpihak pada golongannya belaka. Padahal hukum sudah diteggakkan dengan baik, menurut saya. Selama ini narasi-narasi yang dibangun adalah memperjuangkan rakyat, memojokkan pemerintah, namun kenyatanya hanya alat untuk meraih kekuasaan pribadi.

Walhasil, pernyatan ancaman neraka yang disampaikan oleh Amien Rais di istana kepada Presiden soal kasus tewasnya enam laskar FPI, menurut saya telah salah sasaaran dan tidak relevan. Mengingat negara kita negara hukum dan hukum pun telah dijalankan. Tugas kita menaati, mengawal, dan mengkrtisi dengan cara-cara yang sesuai aturan. Dengan menyampaikan ancaman neraka kepada Presiden, apakah Amien Rais sudah jadi jubir neraka?

Pros

  • +

Cons

  • -
Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2021)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…