Kolom

Belajar Toleransi dari Perayaan Nyepi di Bali

2 Mins read
Belajar Toleransi dari Perayaan Nyepi di Bali perayaan hari raya nyepi 44

Bali menjadi salah satu provinsi yang masih menjunjung tinggi toleransi beragama. Bentuk toleransi tersebut misalnya, terlihat saat perayaan hari raya Nyepi yang dirayakan setiap tahun baru Saka. Sejumlah warna Muslim dan Kristen yang tergabung dalam Bantuan Komunikasi Sosial (bankomsos), saling berjaga dipemukiman umat Hindu. Warga non Hindu tersebut juga menjadi petugas khusus dalam perayaan Nyepi, yaitu menjadi pecalang. Ini adalah bukti konkrit toleransi di Bali dalam perayaan Nyepi.

Di saat masih tingginya intoleransi di beberapa daerah di Indonesia, Bali bersikap sebaliknya. Menurut data Stara Institute pelanggaran kebebasan beragama ataau berkeyakinan tersebar di 34 daerah. Dari 10 rilis provinsi dengan intoleransi paling tinggi selama 12 tahun, Jawa Barat paling banyak terdapat intoleransi dengan 629 kasus intoleransi. Kemudian DKI Jakarta dengan 291 kasus, Jawa Timur 270 kasus, Jawa Tengah 158 kasus, Aceh 121 kasus, Sulawesi Selatan 112 kasus, Sumatra Utara 106 kasus, Sumatra Barat 104 kasus, Banten 90 kasus, dan Nusa Tengara Barat 76 kasus.

Masih tingginya kasus intoleransi di beberapa daerah tersebut mesti segera diatasi. Namun memang tidak mudah, mengingat terjadinya intoleransi banyak dipengaruhi oleh macam-macam sebab, seperti faktor ekonomi, agamaa, demografi, politik, budaya, dan hukum. Namun memang akhir-akhir ini penyebab intoleransi banyak didominasi oleh faktor agama. Mungkin lebih tepatnya berjubah agama sebagai alasannya.  Tetapi kemudian, hendaknya kita bertanya pada diri sendiri, apakah kita ada keinginan menjalankan toleransi atau tidak? Dengan banyaknya perbedaan, jika tidak dimulai dari diri sendiri membangun kesadaran toleransi, rasanya akan sulit toleransi beragama akan terjalin.

Di Bali sendiri, meski amat kental dengan Hindu, nyatanya masih banyak ditemui rumah-rumah ibadah agama lain selain Hindu. Ada gereja bagi umat Katholik, gereja Protestan, masjid bagi umat Islam, kuil bagi umat Budha, dan tentunya Pura bagi untuk umat Hindu.

Dalam perayaan hari raya Nyepi, sangat terlihat sekali toleransi antar umat beragama di Bali. Pada saat hari raya tersebut umat lain menghargai perayaan tersebut dengan tidak menyalakan petasan daan bunyi-bunyian yang dapat menggangu khidmatnya Nyepi. Bahkan umat Muslim Bali mempraktekan toleransi dengan tidak menggunakan pengeras suara untuk mengumandangkan adzan.

Rasa toleransi dan saling menghargai antar umat beragama dalam perayaan Nyepi di Bali, merupakan salah satu contoh, bahwa pemahaman tentang agama dalam budaya yang berbeda dapat menciptakan komunikasi yang baik dan harmonis antar manusia. Memahami aspek agama yang berbeda tidak selamanya menjadikan kita untuk berpindah agama, melainkan untuk saling memahami seperti apa budaya agama tersebut, sehingga kita dapat menyesuaikan diri saat kita saling berintraksi.

Dalam buku pedoman perayaan Hari Raya Nyepi dijelaskan, perayaan Nyepi sesungguhnya merupakan tradisi keagamaan yang mengandung nilai-nilai luhur untuk meningkatkan kualitas iman dan taqwa kepada Tuhan. Nyepi bukan sekedar kegiatan rutin menyambut tahun baru Saka, tetapi memiliki makna spiritul yang dalam, yaitu sebagai perwujudan kasih sayang, dan pengorbanan tulus ikhlas pada Tuhan Yang Maha Esa.

Melihat begitu mendalam makna dari Hari Raya Nyepi tersebut, maka pantaslah bila kita mengabil pelajaran dari perayaan religius tersebut. Oleh karenanya, budaya yang amat indah ini mesti terus dijaga kelestarianya. Bali dengan Nyepi-nya harus menjadi contoh daerah-daerah lain yang masih tinggi intoleransinya dibanding toleransinya. Sebab, toleransi sangatlah penting, dan harus dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari kapanpun dan dimanapun. Dan sejatinya setiap agama mengajarkan toleransi, pun begitu pada ajaran Hindu dalam perayaan Hari Raya Nyepi, ada makna toleransi yang dalam.

Prof. Dr. Nurcholis Madjid, seorang cendekiawan dan pemikir Islam kontemporer, menegaskan, pada dasarnya toleransi merupakan persoalan ajaran kewajiban melaksanakan ajaran itu. Jika toleransi menghasilkan adanya tata cara pergaulan yang enak, antara berbagai kelompok yang berbeda-beda, maka hasil itu harus dipahami sebagai hikmah atau manfaat dari pelaksanaan suatu ajaran yang benar. Hikmah atau manfaat itu skunder nilainya, sedangkan yang primer adalah ajaran yang benr itu, maka sebagai primer, toleransi harus diwujudkan dan dilaksanakan dalam masyarakat.

Bagi Dr. Nurcholis Madjid, melaksanakan toleransi merupakan manifestasi dari ajaran agama yang benar. Dan dalam perayaan Nyepi itu praktik toleransi telah terjalin dengan baik. Oleh karenaya, penting bagi kita mengambil pelajaran toleransi dari perayaan Nyepi di Bali tersebut. Dengan demikian, kiranya perayaan Nyepi tetap lestari, maka sikap dan sifat toleransi antar umat beragama di Bali mesti tetap dijaga.

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2021)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…