Kolom

Aksi Terorisme Masih Mengancam Negeri

3 Mins read
Aksi Terorisme Masih Mengancam Negeri ledakan bom bunuh diri di Makassar
Rekaman CCTV tilang elektronik, yang menggambarkan peristiwa dugaan bom bunuh diri di Makassar. (Tangkapan layar Youtube)

Lagi dan lagi, aksi terorisme terjadi di bumi Nusantara. Kali ini peristiwa tersebut terjadi di Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (28/3/2021) lalu. Kejadian yang tak terduga itu serentak mengejutkan publik. Sebelumnya, Datasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri telah menangkap puluhan terduga teroris di negeri ini, pada Januari hingga Maret 2021. Penangkapan itu juga termasuk dengan pengikut dari Jamaah Ansharut Daulah (JAD) di beberapa lokasi Sulawesi Selatan, pada Januari lalu. Dari penangkapan terduga teroris dan aksi terorisme yang terjadi beberapa waktu lalu, kita semua harus waspada, karena aksi-aksi terorisme masih mengancam negeri.

Sementara itu, sangat banyak sekali penyebab tumbuh suburnya ideologi jahat terorisme, tetapi salah satunya adalah memahami agama secara dangkal dan belajar agama kepada orang-orang yang radikal atau fundamentalisme terhadap suatu kepercayaan. Sering kali para pelaku teroris memandang diri mereka dan aksi terornya sebagai tindakan suci serta berguna bagi kemanusiaan. Kemudian alasan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi juga memengaruhi berkembangnya dengan mudah strategi terorisme. Dalam buku Terorisme Fundamentalis Kristen, Yahudi, Islam menyebutkan, perkembangan terorisme yang sesuai dengan kemajuan teknologi, mengakibatkan semakin besarnya resiko kehancuran alam dan kehidupan manusia.

Di negeri ini sendiri, terorisme diidentikan dengan agama Islam. Karena kebanyakan dari pelaku memiliki ciri-ciri khas individu seorang Muslim yang ke Timur Tengah-an. Seperti pakaiannya, ucapannya ketika melakukan aksi (mengucapkan takbir), nama kelompok yang ke-Arab-Araban, nama pelaku, hingga ideologi kolot para pelaku. Fundamentalisme agama penyebab timbulnya terorisme. Mereka melakukan aksi terorisme dengan alasan jihad, agar masuk surga dan bertemu dengan bidadari. Hal inilah yang mengakibatkan seseorang terdoktrinisasi dengan mudah. Tidak jarang nilai-nilai kebenaran diambil dari kaidah-kaidah agama yang ditafsirkan dan dimanipulasi untuk memancing seseorang melakukan aksi teror.

Walakin, dalam sejarahnya terorisme tidak selamanya identik dengan Islam, ada juga individu penganut kepercayaan lain yang melakukannya. Kelompok teroris bisa berasal dari agama atau ideologi yang berbeda-beda. Banyak para pelaku terorisme yang berangkat dari tafsir ajaran kepercayaan dan agamanya masing-masing. Jadi aksi terorisme pasti didasari atau berawal dari, salah dalam memahami suatu kepercayaan.

Namun perlu kita ketahui, Islam bukan sebagai agama teroris atau agama penyebar paham ekstrem. Pada faktanya Islam adalah agama kedamaian dan agama yang Rahmatan lil Alamin. Dalam konteks bernegara, berislam berarti menjaga hubungan baik dengan masyarakat sekitar, lantaran itu menjadi bagian dari pembangunan bangsa. Agama Islam menyimpan nilai-nilai perdamaian dan berpegang teguh pada ajaran yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW. Dalam agama Islam juga mengajarkan kemoderatan yang berarti menghormati segala perbedaan.

Di samping itu, aksi terorisme akan menimbulkan dampak buruk bagi ideologi dan ketahanan suatu bangsa. Aksi terorisme akan melemahkan ketahanan politik, pangan, ideologi , kebangsaan, kebudayaan, dan lain sebagainya. Kelompok terorisme akan selalu berusaha menggeser Pancasila dan menggantikan sistem pemerintahan yang berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menggunakan sistem atau ideologi yang mereka anut. Dalam hal ini, para pelaku teror telah mengancam eksistensi Pancasila dan UUD NRI Tahun 1945.

Sementara itu, dalam menerapkan strategi pencegahan kebangkitan terorisme, harus melalui tindakan yang sesuai dengan undang-undang yang berlaku. Menurut saya, menindak pelaku terorisme tidak hanya melihat dari aspek hukuman mati saja. Karena pelaku terorisme sendiri tidak akan jera jika melihat sesamanya dihukum mati. Teroris tidak akan takut dengan hukuman mati yang diterimanya. Karena mati adalah tujuan akhir dari para pelaku terorisme.

Kemudian langkah-langkah penanganannya dan mencegah penyebaran aksi terorisme sendiri, yaitu pemerintah yang terkait harus menindak tegas instansi yang ikut mendanai aksi-aksi terorisme. Dan pemerintah harus sering melakukan seminar atau pengajaran kebangsaan dari ujung ke ujung negara ini. Karena pada faktanya, banyak dari pelaku teror adalah seseorang yang rendah akan pemahaman nasionalisme. Jika pemerintah dan kita semua tidak berperan dalam menanggulangi terorisme, maka hal tersebut akan menurunkan rasa nasionalisme yang dimiliki setiap anak bangsa.

Dengan demikian, peristiwa terorisme yang terjadi di Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan tersebut, harus dijadikan pelajaran untuk kita semua. Dari kejadian tersebut, ternyata aksi terorisme masih mengancam negeri dan mengancam kehidupan setiap individu di negeri ini. Peristiwa tersebut harus kita perangi, karena kejadian itu merupakan ancaman serius bagi negeri ini. Maka demikian, kita perlu waspada dan mengantisipasi keberadaan pelaku teror di sekitar kita yang akan melancarkan aksinya. Oleh karena itu, kita semua harus menjalin kerja sama semua elemen. Melalui kerja tersebut diharapkan akan menghasilkan suatu keamanan negara yang diharapkan seluruh kalangan masyarakat.

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2021)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…