Kolom

Hoaks NASAKOM Gaya Baru Tengku Zulkarnain

2 Mins read
Hoaks NASAKOM Gaya Baru Tengku Zulkarnain zul

Pernyataan Tengku Zulkarnain melalui Twitternya yang mengatakan adanya kemungkinan munculnya Nasionalisme, Agama, dan Komunis (NASAKOM) gaya baru, terlalu mengada-ada. Bisa disebut, itu ucapan hoaks untuk memancing kebencian publik pada pemerintah yang sah saat ini.

NASAKOM adalah masa lalu, tidak akan bangkit lagi, baik secara ideologi maupun sebagai gerakan politik. Oleh karenanya, baiknya Tengku Zulkarnain tidak menyebar hoaks tersebut di tengah persoalan bangsa yang amat berat, yakni pandemi Covid-19. Jangan sampai, hanya karena ia dan kelompoknya tidak menduduki jabatan strategis di pemerintahan, lantas membuat berita-berita yang tidak benar dan tidak berdasar itu. Adalah sebuah kekeliruan apabila Tengku Zulkarnain berpandangan ditahanya Muhammad Rizieq Syihab cs sebagai bentuk tiruan gaya NASAKOM, itu jelas keliru. Mereka (MRS cs) adalah pelaku kriminal, sudah sepantasnya berhdapan dengan hukum.

Tengku Zulkarnain mestinya paham dan berhati-hati dalam berucap. Apalagi, Tengku Zulkarnain mengakui dirinya sebagai ustadz pendakwah. Apa pantas seorang pendakwah menyebarkan hoaks? Apa pantas pendakwah mengajarkan ujaran kebenjian? Tentu tidak pantas bukan? Siapapun, terlebih yang membawa embel-embel agama, tak pernah dibenarkan menyebarkan berita hoaks. Berita bohong atau hoaks sangat berbahaya, sebab, banyak kejahatan besar dimulai dari hoaks-hoaks dan ujaran kebencian. Kita tentu ingat peristiwa seorang guru yang di penggal di Prancis pada 16 Oktober 2020 lalu. Tak lain adalah buah dari berita hoaks.

Sebagai insan yang sadar teknologi, Tengku Zulkarnain harusnya mendakwahkan hal-hal yang membawa pada arah persatuan dan kesatuan, meski dalam linkaran kebergaman. Kita tau penghuni media sosial sangat beragam usia, beragam pengetahuannya dan sebagainya. Boleh saja mengajarkan kritik, karena kritik itu memang baik. Bahkan Prof. Dr. Nurcholis Madjid dalam buku Teologi Inklusif Cak Nur, pun membenarkan soal kritik. Tetapi jangan mengktitik dengan kebencian. Kritiklah pemerintah dengan kritikan yang membangun, yang tidak membawa pada perpecahan dan perselisihan antar anak bangsa.

Dengan usia yang tak lagi muda, Tengku Zulkarnain baiknya ajarkan para pengikutnya bagaimana menjadi pribadi-pribadi yang baik, atau mengajarkan nilai-nilai Pancasila yang luhur. Bahkan, saya lebih senang melihat Tengku Zulkarnain sibuk menimang cucunya saja dirumah, atau berkebun menikmati hidup. Tak usah lagi bercapek-capek menjadi oposisi yang radikal.

Saya sendiri tidak begitu paham dengan uangkapannya yang mengatakan, “jangan sampai ada NASAKOM gaya baru.” Survai di lapangan menunjukkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan Presiden Jokowi masih tinggi. Artinya, gerakan-gerakan yang dimaksudkan Tengku Zulkarnain (NASAKOM gaya baru) tidak pernah ada, hanya awang-awang barisan sakit hati belaka dan mayoritas rakyat tidak merasakan itu hal yang nyata.  

Hasil survai Indometer pada Februari 2021 menunjukkan tingkat kepuasan publik terhadap Presiden Jokowi, meski telah setahun lebih diguncang pandemi Covid-19 dan kemrosotan ekonomi, tingkat kepercayaan berada di angka 70,1 persen. Begitu pula dengan hasil survai yang dilakukan Voxpopuli Research Center, menunjukkan angka yang hampir sama yakni 70 persen. Hasil survai Indonesia Election and Strategic (IndEX) menghasilkan angka 70,9 persen kepuasan publik terhadap pemerintahan Jokowi.

Kita seharusnya beruntung memiliki Presiden seperti Jokowi. Tidak kompromi pada koruptor, pada terorisme, pada kelompok radikal dan intoleran. Membangun Indonesia tidak pilih-pilih, hampir semua merata. Tengku Zulkarnain juga pasti tau itu, hanya saja ia terlalu gengsi untuk mengakui, maka ia goreng isu-isu kebangkitan NASAKOM dan PKI, untuk menjatuhkan pemerintahan yang sah.

Tidak mengapa jika Tengku Zulkarnain menjadi salah satu orang yang tidak puas dengan kinerja Jokowi, tetapi jangan pula kemudian menyebar hoaks NASAKOM ke publik tanpa bukti otentik. Bangsa kita telah memiliki ideologi yang sah dan final yaitu Pancasila. Dan tujuan negara ini berjalan sesuai amanat UUD 1945 alenia keempat yang berbunyi, “Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, meleksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”.

Dengan demikian, giringan opini kemungkinan adanya NASAKOM gaya baru menurut Tengku Zulkarnain, dipastikan adalah hoaks. NASAKOM dengan segenap kisah suramnya, adalah sudah menjadi milik masa lalu. Indonesia sudah sangat serasi dengan Pancasilanya, meski dalam praktiknya masih belum semua sesuai Pancasila, tetapi setidaknya, bangsa ini telah memiliki landasan berfikir dan landasan hukum yang dapat dijadikan pedoman hidup berbangsa dan bernegara.

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2021)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…