Berita

JK Jangan Menebar Teror

2 Mins read
JK Jangan Menebar Teror JK
Foto: Jusuf Kalla (JK)

Mantan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla (JK), mewanti-wanti agar masyarakat tetap waspada potensi serangan teror yang dilakukan secara serentak usai aksi bom bunuh diri di Makassar, Minggu lalu. Ia mengatakan, “Bisa jadi ini mereka merencanakan gerakan serentak nasional, ini untuk memberikan kita kehati-hatian,” ujar JK. Pernyataan itu ia ungkapkan dalam pertemuan bersama sejumlah tokoh lintas agama yang tergabung dalam Forum Komunikasi antar Umat Beragama, (FKUB) Sulawesi Selatan di Gedung Wisma Kalla Senin (29/03/21).

Namun demikian, pernyataan yang disampaikan JK tersebut terkesan memberikan ancaman dan ketakutan kepada publik. Bahwa seolah-olah setelah adanya bom di Makassar akan ada serangan teror secara nasional. Bisa dibilang, bahwa JK tengah menebar teror kepada masyarakat. Padahal, di tengah ancaman bahaya terorisme, tidak semestinya JK turut menyebarkan ketakutan itu. Sedikitnya, ada dua alasan, kenapa JK tidak seharusnya menebar teror kepada publik.

Pertama, ia adalah seorang tokoh nasional. Bisa dikatakan JK adalah seorang negarawan. Bahkan, pernah menjabat sebagai Wakil Presiden RI selama dua periode, yaitu di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Joko Widodo. Di era Presiden Abdurrahman Wahid dan Presiden Megawati pun ia dipercaya menjadi seorang menteri. Banyaknya jabatan publik yang pernah ia emban itu menunjukkan ia adalah seorang tokoh nasional yang berkaliber.

Karena itu, tidak semestinya sebagai seorang negarawan dan tokoh nasional yang berkaliber menebar ketakutan dan ancaman teror kepada publik. Sebagai seorang yang sudah lama malang melintang di dunia pemerintahan, JK harusnya tahu bahwa dalam kondisi genting seperti ini sebaiknya kita membangun narasi optimisme, bukan pesimisme. Ia harusnya membangun narasi yang memberi harapan akan terjaminnya keamanan di negeri ini, bukan bahaya kekacauan dan ancaman seperti yang telah di sebutkan JK di atas.

Kedua, di tengah ancaman terorisme, JK harusnya meyerukan pentingnya merajut kebersamaan untuk melawan terorisme. Sebagaimana diketahui, pelaku terorisme dalam tiap aksinya selalu menargetkan untuk memicu kekhawatiran dan ketakutan warga guna menciptakan kekacauan dan ketidakstabilan kondisi negara. Brian Jenkins, sebagaimana dikutip oleh Hendropiyono dalam Terorisme: Fundamentalisme Kristen, Yahudi, Islam (2009), mengatakan, terorisme merupakan penggunaan ancaman dan kekerasan yang bertujuan untuk mencapai terjadinya perubahan politik.

Dalam hal ini, apa yang telah disampaikan JK dalam FKUB di Sulsel itu, justru JK terkesan ikut menebar ketakutan dan ancaman ke publik. Pasalnya, JK dengan jelas memberikan pesan agar masyarakat waspada terhadap serangan teror nasional yang akan terjadi. Ucapan JK tersebut mengindikasikan bahwa JK turut menebar teror kepada masyarakat. Dengan kata lain, JK berusaha membumbui situasi nasional yang tengah dalam ancaman terorisme ini agar tercipta suasana kacau, mencekam, dan tidak stabil.

Maka dari itu, saya pribadi mengajak masyarakat agar tidak takut kepada aksi terorisme yang belakangan terjadi di Makassar. Sebab, target utama terorisme adalah terciptanya rasa takut dan memicu terjadinya kekacauan dan ketidakstabilan negara. Bila hal ini terjadi, maka akan sangat berbahaya. Para teroris akan merasa bangga dan jemawa. Bahwa upaya mereka untuk menebar ketakukan kepada masyarakat telah berhasil.

Begitu juga dengan ucapan JK, masyarakat tidak perlu cemas dan takut akan serangan teror nasional yang disampaikan oleh JK tersebut. Pasalnya, hingga detik ini, baik pemerintah maupun pihak kepolisian tidak pernah menyebut adanya gerakan teror nasional yang akan terjadi pasca-bom bunuh diri di depan Gereja Katedral beberapa waktu yang lalu. Masyarakat hanya perlu bersatu, memperkokoh kebersamaan dan menjadikan kebinekaan kita sebagai kekuatan melawan narasi teror dan terorisme.

Akhir kata, saya berpesan kepada Pak Jusuf Kalla agar tidak menebar teror ke masyarakat. Justru sebaliknya, Pak JK dan kita semua harus membangun optimisme, saling menjaga dan menguatkan untuk melawan ancaman terorisme ini. Kita percaya Densus 88 dan kepolisian dapat mengungkap dan memberantas habis jaringan teroris ini hingga ke akar-akarnya.

Related posts
Berita

Amal Baik Tidak Menggugurkan Kewajiban Shalat

Shalat lima waktu adalah ibadah wajib bagi setiap Muslim. Printah ini mutlak sebagai bukti pengabdian hamba kepada Tuhannya, tak bisa digugurkan dengan…
BeritaKolomNasihat

Mencermati Warisan Kolonial di Masa Kini

Kolonialisme bukan sekadar menjadi persoalan masa lalu. Kemerdekaan secara de facto dan de jure yang telah disandang bangsa ini nyatanya bukan jaminan…
BeritaKolom

Wacana Kehadiran Massa PA 212 Harus Dibatalkan

Jelang sidang vonis Muhammad Rizieq Shihab (MRS), Kamis (26/06/21), Wakil Sekretaris Jendral PA 212, Novel Bamukmin mengklaim pihaknya tak memiliki wewenang untuk…