Kolom

Jihad Pancasila ala Milenial

3 Mins read
Jihad Pancasila ala Milenial 4161004

Aksi teror bom bunuh diri di Katedral Makassar pada Minggu (28/3/2021), serta penyerangan Mabes Polri yang baru terjadi pada Rabu (31/3/2021), tentu sangat mengkhawatirkan. Sebab, kedua aksi tersebut dilakukan oleh kaum milenial.  Melihat keterlibatan milenial dalam aksi terorisme yang semakin serius, tentu perlu menjadi perhatian bersama. Milenial perlu disadarkan bahwa mencintai Tanah Airnya, merupakan sebagian dari iman. Oleh karena itu, perlu diingatkan kembali, jika milenial berperan dalam menjaga persatuan bangsa serta perdamaian. Jihadnya bukan jihad menebar ketakutan dan membuat kerusakan, tetapi jihad yang menebar kasih sayang dan kedamaian. 

Sejarah mencatat bahwa perjuangan bangsa ini, tak terlepas dari peran milenial. Dari mulai lahirnya organisasi Boedi Utomo, 1908, yaitu kesadaran pemuda untuk menjadi satu bangsa. kemudian, diikrarkannya satu kesepakatan untuk menjadi satu bangsa, bangsa Indonesia melalui gerakan Sumpah Pemuda, 1928. Sampai diproklamirkannya bangsa ini, menjadi bangsa yang merdeka.

Santri milenial pun pada saat itu, ikut berjuang dalam mempertahankan kemerdekaan. Bahkan, perjuangannya tersebut dikatakan sebagai jihad. Sebagaimana Fatwa Resolusi Jihad yang disampaikan oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari pada tanggal 22 Oktober 1945, yang merupakan seruan bagi setiap umat Muslim wajib hukumnya untuk memerangi penjajah dalam mempertahankan kemerdekaan.

Yang mana, peran milenial sangat diperlukan untuk bertempur melawan penjajah dengan sekuat tenaga, cucuran darah, dan keringat. Kekuatan yang dimiliki milenial dibutuhkan untuk mempertaruhkan nyawa demi merebut Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari tangan penjajah. Latar belakang sejarah membuktikan bahwa peran milenial dari sepanjang sejarah yaitu memperjuangkan dan mempertahankan Tanah Airnya. Bukan malah menghancurkannya dengan perbuatan keji, yaitu melakukan aksi nekat bom bunuh diri, hanya karena mendapatkan angin surga belaka. 

Terbukti bahwa milenial saat ini, rentan terpapar paham radikalisme. Dalam laporan IDN Research Institute yang bertajuk Indonesia Milenial Report, tercatat 1 dari 5 milenial, setuju terhadap sistem pemerintahan khilafah. Berdasarkan hasil survei tersebut, sebanyak 19,5% kaum milenial menyatakan Indonesia lebih ideal menjadi negara khilafah. Sedangkan menurut survei Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang terbaru, dikatakan bahwa sekitar 80% generasi muda rentan terpapar radikalisme.

Hal ini tentu sangat membahayakan terhadap nasib bangsa di masa depan. Bung Karno pernah mengatakan, “Berilah aku sepuluh orang pemuda, niscaya akan aku guncangkan dunia”. Merujuk pada pernyataannya tersebut, Bung Karno pun mengakui bahwa eksistensi milenial dalam suatu negeri menentukan masa depan negeri tersebut. Milenial sebagai aset bangsa yang paling berharga harus mendapatkan perhatian yang serius dari berbagai kalangan. Sebab, milenial adalah tonggak perubahan suatu bangsa. Dengan bangga kita katakan, milenial merupakan harapan bangsa.

Perbedaan yang menjadi ciri khas kaum milenial dengan generasi sebelumnya, yaitu dunia digital. Yang mana, dunia digital inilah yang menjadi tantangan besar bagi milenial. Milenial kritis tentu tidak akan mudah terpengaruh oleh kelompok intoleran yang berkeliaran di sosial media. Milenial memiliki tiga peran penting, yaitu sebagai agent of change, innovator, dan promoter bangsa. Hal ini dapat diwujudkan melalui jihad Pancasila.

Hasan Saleh dalam Kajian Fiqih dan Fiqih Kontemporer (2004), kata jihad berasal dari akar kata jahada, yajhadu, jahd atau juhd, yang berarti sungguh-sungguh atau berusaha keras. Jihad Pancasila berarti usaha dengan segala upaya untuk mempertahankan NKRI yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945. Milenial tentu harus meneruskan perjuangan para milenial terdahulu, yaitu menjaga NKRI dengan semangat persatuan. Jihad Pancasila dapat dilakukan oleh seluruh rakyat Indonesia, tanpa memandang agama, ras, suku, dan sebagainya.

Dalam jihad Pancasila, yang diamalkan tentu akhlak Pancasila, atau mengimplementasikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, yaitu nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan. Yang mana, nilai-nilai itulah yang kemudian menjadi modal bagi milenial dalam mempertahankan dan memajukan bangsa Indonesia, serta meneruskan semangat Sumpah Pemuda. 

Jihad ini menekankan pada sikap toleransi atau menghargai pemeluk agama lain, etika kemanusiaan yang bersifat adil dan berbasis moralitas yang menekankan kesederajatan manusia tanpa memandang agama, suku, ras, dan budaya. Menjaga persatuan dan kesatuan Indonesia, yang selama ini dijaga dengan segenap tumpah darah. Dengan begitu, jihad ini menghasilkan sebuah kedamaian, bukan ketakutan.

Jihad Pancasila ala milenial, dapat dilakukan melalui dunia maya, maupun dunia nyata. Pertama, menggunakan teknologi sebagai senjata. Milenial sebagai pengguna media sosial terbesar, harus memberikan informasi yang mengedukasi pengikutnya terkait nilai-nilai Pancasila, yang bertujuan untuk mengkontra narasi terhadap segala bentuk upaya yang hendak merongrong keutuhan bangsa ini. Yang mana, ini menjadi upaya dalam menyebarkan pesan perdamaian. Dengan begitu, akun-akun milenial, tidak lagi menjadi akun penyebar hoaks, tetapi menjadi sumber persatuan, serta inspirasi bagi semua kalangan.

Kedua, menjadi provokator kebaikan di lingkungan sekitar. Dalam hal ini, milenial sebagai kaum muda, harus ikut serta dalam lingkungannya dengan menunjukkan perilaku yang baik, dari mulai hal kecil, seperti tidak membuang sampah sembarangan, dan sikap toleransi. Selain itu, melalui inovasi dan kreativitasnya, milenial harus memprovokasi masyarakat untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang positif dan bermanfaat, seperti memberikan pelatihan yang dapat menunjang keterampilan masyarakat yang kemudian tercipta sebuah karya seni atau kerajinan. Yang mana, nantinya dapat dijual, sebagai upaya pemenuhan ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Terakhir, jihad Pancasila ala milenial dilakukan dengan cara usaha keras dalam menunjang kemampuan diri, dan menghasilkan segudang prestasi. Milenial harus berpikir jauh ke depan. Bagaimana hidupnya dapat bermanfaat, baik bagi diri sendiri, keluarga, lingkungan sekitar, sampai negara. Setiap tindakannya tentu harus berlandaskan nilai-nilai kebaikan, yaitu mengutamakan nilai kemanusiaan dan persatuan. 

Dengan demikian, Jihad Pancasila ala milenial ini mampu mewujudkan masa depan bangsa Indonesia yang cemerlang dan gemilang. Mari, kita teruskan semangat perjuangan para milenial terdahulu, dengan semangat persatuan. Menolak segala bentuk kekerasan yang mampu merusak keutuhan NKRI. 

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2021)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…