Kolom

Mendesak Sertifikasi Dakwah

3 Mins read
Mendesak Sertifikasi Dakwah 202b4202 1449 4a62 958c ab92d3ef7dd6

Melihat banyaknya kasus ustadz yang tidak memiliki etika ketika berdakwah, membuat miris kita semua. Berbahaya, apabila seseorang yang dianggap ustadz memiliki sifat angkuh, suka menantang, mengancam, dan sejenisnya, diberikan ruang untuk berkelana menyampaikan ceramahnya. Jika hal tersebut terjadi, nantinya akan merugikan kita semua termasuk negara. Mereka akan mendoktrin jamaahnya agar melakukan perbuatan-perbuatan buruk. Untuk itu, dalam mencetak pendakwah, pemerintah harus segera membuat program sertifikasi ulama agar para pendakwah memiliki standardisasi. Hal ini perlu dilakukan demi mencetak ulama-ulama yang memiliki pemikiran moderat.

Salah satu contoh, yakni kasus dakwah Yahya Waloni yang dianggap tidak mencerminkan ustadz sebagaimana mestinya. Sudah sering dia berceramah yang membuat publik terheran-heran. Selain pernah mengaku menabrak anjing dengan sengaja karena alasan hewan najis, dalam pantauan terakhir dia mendoakan ulama kharismatik, sekaligus cendekiawan muslim Muhammad Quraish Shihab agar cepat mati. Lagi dan lagi, dia kembali menebar kontroversi untuk sekian kalinya. Demi mendapatkan perhatian, dia kerap kali membuat pernyataan yang bikin publik tercengang. Selain Yahya Waloni, masih banyak seseorang yang dianggap ustadz, berceramah tanpa menggunakan akal, yang tidak bisa disebutkan satu per satu.

Sementara itu, Rasulullah SAW melarang keras mendoakan orang lain cepat meninggal dunia, apalagi jika orang yang didoakan itu adalah sesama Muslim. Dalam HR. Bukhari No 5673 menyebutkan, Janganlah salah seorang di antara kalian mengharapkan kematian. Jika dia orang baik, semoga saja bisa menambah amal kebaikannya. Dan jika dia orang yang buruk (akhlaknya), semoga bisa menjadikannya bertaubat. Untuk itu, seseorang yang mendoakan orang lain cepat meninggal termasuk orang yang tercela dan harus diperbaiki akhlaknya.

Selain Hadis, al-Quran pula sudah mengingatkan kita untuk tidak saling menghina atau menebar kebencian antar umat manusia, melalui QS. Al-Hujurat Ayat 11 yang mengatakan, Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah suatu kaum tidak menghina kaum yang lain, karena bisa jadi mereka yang dihina lebih baik dari yang menghina. Dan jangan pula, perempuan-perempuan menghina perempuan lain, karena bisa jadi perempuan yang dihina lebih baik dari perempuan yang menghina. Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruknya panggilan adalah panggilan yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.

Dari situ kita tahu, bahwa untuk menyebarkan agama Islam tidak perlu mengolok-ngolok dan menyudutkan agama lain atau bahkan menghina sesama, karena itu adalah perbuatan yang salah dan Allah SWT pun tidak menyukainya. Islam melarang perbuatan melampaui batas, seperti gaya ceramah Yahya Waloni di atas. Artinya, Islam selalu mengajak umatnya ke jalan tengah atau kemoderatan. Karena, sesungguhnya agama Islam adalah agama yang toleran. Moderat dalam memandang segala hal, dengan maksud untuk menyatukan segala niat baik dan hubungan sesama umat manusia.

Di sisi lain, menurut Haidar Bagir, dalam buku Islam Tuhan Islam Manusia menyebutkan, “dipercaya bahwa daya berpikir manusia bisa melewati tahap demi tahap pendakiannya menuju tingkat yang paling tinggi, jika daya-daya itu dibebaskan dari pengaruh buruk nafsu amarah.” Maka dari itu, setiap orang diharuskan merubah sikap, dari pemarah menjadi ramah agar dibebaskan dari pengaruh buruk demi menebar cinta dan kasih dari agama Islam. Kemudian, dengan menebar cinta dan kasih, kita dapat membentuk ruang-ruang sosial dengan menebar cahaya ilmu yang damai.

Fenomena ustadz seperti Yahya Waloni ini sudah lama meresahkan masyarakat yang mencintai negeri. Tentunya, hal tersebut harus segera diatasi. Jika pemerintah lengah, maka peristiwa dakwah yang menggunakan doktrinasi berbahaya tersebut dapat membahayakan negara. Karena nantinya banyak orang yang akan menjadikannya patokan dalam hidup. Artinya, Yahya Waloni akan dijadikan guru bagi seseorang yang awam dan ingin belajar agama. Seperti kita ketahui, Yahya Waloni dalam berceramah tidak menggunakan akal dan asal ceplas-ceplos sana-sini. Maka dari itu, beragamalah dengan akal agar dapat hidup dengan damai.

Sementara itu, problem terbesar umat manusia saat ini, yakni masih adanya seseorang yang tidak memiliki akal. Hal tersebut akan menyebabkan terhambatnya suatu umat menuju peradaban. Dalam Islam, seorang Muslim dituntut untuk menebar Islam yang rahmatan lil alamin. Di negara ini, Muslim harus menggandeng semua elemen anak bangsa untuk meneruskan tradisi keramahan Islam yang pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Hal ini juga pernah dicontohkan dan diamalkan para pendiri bangsa. Dahulu mereka menebar tradisi syariah dengan santun dan menyapa semua elemen bangsa dalam bingkai persaudaraan kebinekaan tanpa mengganggu siapapun.

Untuk itu, demi terciptanya negeri yang damai, pemerintah perlu membuat kaderisasi ulama moderat. Dengan cara membuat program sertifikasi bagi seseorang yang ingin menjadi ulama atau pendakwah. Hal tersebut harus segera dilakukan agar negeri ini melahirkan ulama yang menyebarkan kedamaian dan ketentraman. Dengan demikian, semoga kejadian-kejadian menebar kebencian tidak terulang lagi dan semoga pemerintah segera membuat program sertifikasi dakwah bagi para ulama demi melahirkan ulama yang moderat di negeri ini.

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2021)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…