Kolom

Ancaman Terorisme di Tengah Pandemi

2 Mins read
Ancaman Terorisme di Tengah Pandemi o 1a49q3ip1184a1fi2fnk1u9fgvha

Ancaman aksi terorisme di tengah pandemi Covid-19 semakin meningkat. Penangkapan puluhan terduga teroris oleh apparat kepolisian sejak awal pandemi merebak kian menunjukkan adanya ancaman tersebut. Bahkan, ancaman pun juga mejadi semakin nyata saat bom bunuh diri di Gereja Katerdal Hati Kudus Yesus, Makasar, Sulewesi Selatan. Di tengah fokus bangsa yang sedang menghadapi pandemi, teroris tak pernah surut apalagi melemah niatnya. Mereka masih saja memanfaatkannya untuk kepentingan teror.

Sejak pandemi Covid-19 merebak di Tanah Air, Maret 2020 lalu. Tak sedikit yang mengira akan berimbas pula pada ancaman terorisme. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Apparat kepolisian menangkap banyak terduga teroris di berbagai tempat. Tak hanya itu, dibanyak penangkapan, sejumlah material untuk kepentingan teror ditemukan oleh aparat. Mereka juga disebutkan telah menyiapkan aksi teror.

Selain itu, kelompok teroris terus melebarkan sayapnya. Perekrutan teroris tak berhenti di tengah pandemic. Kontak fisik yang dibatasi selama pandemi, tidak menghentikan upaya mereka untuk terus merekrut agen teroris baru. Sebut saja, kegiatan kelompok teroris yang paling meningkat adalah radikalisasi dengan memanfaatkan media sosial. Perekrutan tersebut dilakukan dengan kombinasi antara penawaran narasi melalui media sosial dan pertemuan tatap muka.

Bahkan umumnya, perekrutan terjadi di antara sel-sel yang telah terbentul. Di sisi lain, target perekrutan juga kerap menyasar keluarga muda yang berusia di bawah 30 tahun, karena dinilai lebih mudah untuk dipengaruhi.

Meminjam laporan kajian The Habibie Center yang mempublikasikan pada 22 Februari 2021, bahwa kelompok  ekstremisme dengan kekerasan menganggap masa pandemi adalah saat yang tepat untuk melakukan serangan balik dan perekrutan. Mereka melakukan upaya perekrutan dengan menarik simpati melalui beragam aksi, terutama yang terkait Covid-19, seperti membuka pusat paduan dan kemanusiaan dan pendidikan alternatif yang murah untuk masyarakat.

Pertemuan secara daring juga berperan penting dalam konsolidasi kelompok. Misalnya kegiatan pembaiatan. Namun, bukan berarti pertemuan secara luring atau tatap muka langsung tak mereka lakukan. Justru mereka tetap melaksanakannya. Meskipun pola rekrutan dan radikalisasi yang digunakan tetap sama, seperti sebelum pandemi, akan tetapi intensitasnya justru semakin kuat karena aksi yang dilakukan di bawah permukaan dan tidak terdeteksi dari luar.

Untuk kelompok terorisme Jaringan Ansharut Daulah (JAD) misalnya, mereka menyasar pasangan muda dengan melibatkan anak-anak dan keluarga. Pelibatan keluarga dinilai memiliki efek psikologi yang lebih besar, disbanding dengan hanya dilakukan laki-laki atau suami.

Adapun dari sisi pendanaan, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) mencatat, selama 2020 ada lebih 1.300 transaksi mencurigakan yang diduga terkait dengan aliran dana terorisme. Transaksi biasanya menggunakan metode yang bervariasi, seperti transfer bank, anjugan tunai dan lainnya. Hal ini menunjukkan pendanaan bagi teroris juga tak pernah surut saat pandemi.

Masih intensnya pergerakan kelompok terorisme di tengah pandemi, ditambah lagi ancaman teror yang kian nyata, taka da jalan lain lagi kecuali upaya pencegahan terorisme pun harus diintesifkan. Selain pentingnya apparat kepolisian untuk terus menelusuri dan menindak mereka yang menjadi bagian dari jaringan teroris, di masa pandemi ini juga kelompok teroris tetap eksis karena anggapan tafsir yang mengatasnamakan agama tetap ada.

Untuk mengatasinya, diperlukan proses deradikalisasi yang bertujuan memutus mata rantai melalui penguatan tafsir dari kelompok mayoritas, seperti NU dan Muhammadiyah. Keterlibatan pemerintah untuk mengurangi masalah-masalah sosial, seperti ketimpangan ekonomi, kemiskinan, kultur dan politik, agar tafsir kelompok teroris tidak lagi relevan di masa kini.

Bahkan di luar itu, pentingnya literasi digital juga sangat ditekankan. Hal ini untuk dapat mencegah paham-paham radikalisme yang ada di media sosial. Literasi digital tersebut dapat dilakukan salah satunya dengan melibatkan mantan narapidana terorisme. Sebab, mereka adalah orang yang telah masuk dan mengalami langsung di dalam jaringan teroris.

Mereka diharapkan dapat mengarahkan orang lain yang mungkin tertarik dan tengah mencari informasi mengenai terorisme agar tidak tergelincir dan masuk pada jurang pemahaman teroris yang salah kaprah.

Maka dari itu, meskipun ancaman terorisme terus melebarkan sayapnya di tengah pandemi, akan tetapi kita tak boleh lengah untuk berkolaborasi melakukan upaya pencegahan. Sebab, kolaborasi yang kuat berbagai elemen masyarakat, termasuk apparat pemerintah, maka lambat laun, aksi teroris akan surut bahkan menghilang.

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2021)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…