Dunia IslamNasihat

Jaga Lisan Saat Berpuasa

2 Mins read
Jaga Lisan Saat Berpuasa silent

Menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan, identik dengan menahan lapar dan dahaga. Namun, jika kita membaca kembali nash agama. Bukan hanya makanan dan minuman yang wajib dihindari kaum Muslim yang tengah berpuasa. Melainkan juga perkataan kotor dan bohong.

Perkataan kotor dan bohong adalah dua hal yang kerap kali disepelekan serta tidak disadari banyak orang. Kedua hal tersebut sangat diwanti-wanti Rasulullah SAW agar tidak dilakukan umatnya. Beliau bersabda, banyak sekali orang yang berpuasa, ia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali rasa lapar [HR Ibn Majah]. Untuk itu, tidak heran jika ulama lebih banyak menghabiskan waktunya di masjid demi menghindari diri dari perbuatan tersebut.

Perilaku berbohong dan bergosip di masa sekarang, tidak hanya berlangsung di lingkungan masyarakat saja, tetapi juga di media sosial atau dunia maya. Karenanya, kita harus berhati-hati dalam mengunggah suatu narasi yang belum diketahui kebenarannya. Saring dahulu sebelum sharing (berbagi). Tabayyun (mengkonfirmasi) suatu berita terlebih dahulu, sebelum membaginya kepada orang lain. Dengan begitu, diri kita dan orang lain akan selamat dari perkataan bohong (hoaks).

Oleh karena itu, jika tidak ingin puasa kita percuma, maka menjaga lisan harus kita upayakan. Sebagaimana sabda Nabi SAW, barang siapa tidak meninggalkan perkataan bohong dan melakukan perbuatan bohong, maka Allah tidak membutuhkan makanan dan minuman yang ditinggalkan (puasanya) lagi [HR Bukhari].

Hadis ini menjelaskan, bahwa puasa bukan sekadar menahan diri dari rasa lapar dan dahaga melainkan juga menjaga lisan dari perkataan kotor dan bohong. Jika seseorang yang berpuasa tidak menahan diri dari perkataan kotor dan bohong, maka sebagaimana dijelaskan Ibn Baththal dalam Syarh Sahih al-Bukhari, nilai puasanya akan berkurang. Dibenci Allah dan puasanya tidak diterima.

Berbeda dengan pendapat tersebut, Imam al-Syafi’i, Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Ahmad ibn Hanbal, dan mayoritas ulama selain al-Auza’i menyatakan, bahwa redaksi dalam hadis di atas ditujukan sebagai peringatan kepada orang-orang yang bergosip (berbicara bohong) di bulan Ramadhan. Untuk itu, mereka tidak perlu membatalkan puasa dan menggantinya di hari lain selain Ramadhan.

Meskipun kebanyakan ulama menganggap perkataan tercela dan bohong tidak membatalkan puasa. Namun kemaksiatan tersebut sebenarnya membatalkan atau mengurangi pahala puasa. Ulama mengatakan, “kemaksiatan tidak membatalkan puasa sebagaimana makan dan minum, tetapi ia terkadang menghilangkan pahalanya”. Sebab manusia setiap harinya tidak terlepas dari dosa dan kemaksiatan, seperti perkataan Imam Ahmad, “andaikan ghibah itu membatalkan puasa, niscaya kita tidak dapat berpuasa.”

Tergelincirnya lidah lebih berbahaya dari tergelincirnya kaki. Perkataan itu bukan sekadar peribahasa semata, tetapi juga fakta. Ketika kita mencela orang lain, tanpa kita sadari, mereka yang dicela merasa sakit hati dan telah terdzalimi. Ketika kita bergosip dan apa yang digosipkan sampai ke telinga orang yang bersangkutan. Tidak hanya konflik yang dapat timbul, tetapi juga kekecewaan dan sakit hati.

Percuma jika kita berpuasa menahan lapar dan dahaga seharian, tetapi kita aktif mencela orang lain atau mengirim hoaks melalui akun media sosial kita. Percuma jika kita berpuasa menahan makanan dan minuman yang halal, tetapi masih melakukan kemaksiatan yang haram dilakukan. Untuk itu, menjaga lisan adalah upaya yang harus kita lakukan demi ibadah puasa yang maksimal. Sebab kita tidak tahu, apakah kita masih bisa melaksanakan puasa di bulan Ramadhan tahun depan?

Dengan demikian, menjaga lisan dari membicarakan kejelekan orang lain, menjaga lisan dari mencela orang lain, dan menjaga lisan dari perkataan dusta adalah upaya perwujudan ibadah di bulan Ramadhan, khususnya puasa secara maksimal. Ketika kita terbiasa menjaga lisan, maka di kemudian hari, kita juga akan terbiasa menahan diri dari perkataan dusta dan tercela.[]

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…
KolomNasihat

Pengendalian Diri di Tengah Pandemi

Sepekaan belakangan ini, media kita dipenuhi dengan berita lonjakan kasus Covid-19, keterbatasan fasilitas kesehatan, dan angka kematian pasien. Kita cukup sepakat bahwa…