Kolom

Ramadhan Bulan Syahrul Ukhuwah

2 Mins read
Ramadhan Bulan Syahrul Ukhuwah Ramadhan

Momentum ramadhan menjadi bulan yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat beragama Islam, bukan saja kegembiraan menunaikan ibadah tahunan, namun juga momentum berkumpulnya keluarga. Syahrul Ukhuwah atau bulan ramadhan memang tidak baru, baik isi maupun pesan namun selalu dipesan dan menjadi doktrinisasi, bahwa manusia merupakan bersaudara terlepas dari sekat beragama.

Biasanya, bulan ramadhan dipenuhi dengan berbagai kegiatan baik ekonomi maupun pergerakan warga. Tentunya hal ini merupakan tradisi yang diwarisi oleh nenek moyang maupun orang-orang terdahulu, dalam melestarikan budaya silaturahmi dan merajut persaudaraan. Hal ini tampak di dalam budaya mudik di Indonesia, menurut etimologi bahwa kata mudik berarti pulang kampung dengan waktu tertentu, dengan tujuan utama adalah silaturahmi dengan keluarga-keluarganya.

Walaupun banyak perbedaan dalam pemaknaan kata mudik dari setiap daerah, namun tidak mengurangkan tujuan utama dalam kegiatan budaya ini. Setidaknya ada tiga periode besar pergerakan warga Indonesia dari suatu tempat ketempat lain, seperti bulan sebelum puasa, bulan puasa (ramadhan sebelum idul fitri) dan hari raya kurban. Dalam sejarah Indonesia, tradisi mudik sudah berjalan sejak zaman Kerajaan Majapahit, dilakukan oleh orang-orang Nusantara dan dilakukan secara turun temurun. Pada zaman dahulu, para perantau ini pulang ke kampung halaman untuk membersihkan makam para leluhurnya yang menjadi tradisi dalam setiap tahunnya, hal ini merupakan cikal bakal menjadi tradisi mudik modern.

Kemudian sekitar tahun 1970-an baru berkembang istilah mudik di Indonesia. Ketika itu Jakarta menjadi satu-satunya kota di Indonesia yang dianggap paling maju dari kota lainnya di Indonesia. Sehingga banyak sekali orang-orang desa yang merantau ke Jakarta, setelah itu lahirlah istilah mudik yang berarti pulang ke kampung halaman. Namun, dalam tradisi mudik kali ini kemungkinan besar tidak banyak dilakukan selain karena bencana luar biasa, ada pula larangan mudik dari pemerintah pusat.

Menurut pemerintah pusat melarang pergerakan warga Indonesia (mudik) secara besar-besaran. Hal ini langsung ditangani oleh Kementerian Perhubungan Republik Indonesia (Kemenhub RI) kemudian menerbitkan Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor 13 Tahun 2021 tentang Pengendalian Transportasi Selama Masa Idul Fitri 1442 H/Tahun 2021 Dalam Rangka Pencegahan Penyebaran Covid-19. Selain itu, terdapat pula Surat Edaran (SE) Kepala Satgas Penanganan COVID-19 No. 13 Tahun 2021 tentang Peniadaan Mudik pada Bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri Tahun 1442 Hijriah selama 6-17 Mei 2021.

Tentunya hal ini merupakan tindak lanjut penanganan Covid-19 di Indonesia. Selain penanganan Covid-19, pemerintah bertujuan untuk memberikan rasa aman bagi masyarakat Indonesia apalagi jika ditambah dengan pergerakan secara besar-besaran akan menimbulkan berbagai masalah terutama penularan Covid-19 dan lainnya. Namun, hal ini tidak bisa diterima begitu saja oleh masyarakat Indonesia, selain sebagai tradisi yang ada dan telah dilakukan oleh masyarakat Indonesia berpuluh-puluh tahun hingga sekarang, hal ini merupakan bulan baik untuk merajut kembali persaudaraan.

Secara tertulis, pemerintah memberikan instruksi kepada masyarakat melarang untuk melakukan mudik di tanggal 6 hingga 17 mei saja, sedangkan tanggal sebelumnya dan sesudahnya masih bisa dilakukan. Selain itu, pemerintah tidak memberikan sanksi pidana terhadap pemudik yang melakukan perjalanan. Mengingat hal ini merupakan bulan baik yang sering dijuluki sebagai syahrul ukhuwah (bulan persaudaraan).

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 10 yang berbunyi:

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Artinya: Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.

Rasulullah SAW pernah mengatakan bahwa orang yang saling mencintai dan berkumpul karena Allah, akan ditinggikan derajatnya di surga nanti. Abu Hurairah menerangkan hadis tentang ini yang berbunyi:

“Sesungguhnya di sekitar ‘Arasy terdapat mimbar-mimbar dari cahaya. Di atasnya ada kaum yang mengenakan pakaian dari cahaya dan wajah mereka bercahaya. Mereka bukan para nabi dan syuhada. Mereka didengki oleh para nabi dan syuhada.” Para sahabat bertanya, “Siapakah mereka itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah, saling berkumpul karena Allah, dan saling mengunjungi karena Allah.” (HR. An-Nasai di dalam As-Sunan Al-Kubra).

Singkatnya, bulan ramadhan merupakan bulan yang mulia dengan berbagai keutamaan termasuk mendekatkan dan merekatkan persaudaraan dalam masyarakat Indonesia. Namun kali ini berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu, mengingat penyebaran Covid-19 masih terjadi di seluruh dunia termasuk Indonesia. 

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2021)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…