KolomNasihat

Fenomena Matinya Kepakaran

2 Mins read
Fenomena Matinya Kepakaran doe

Meskipun Dadang Subur alias Dewa Kipas, tidak memiliki gelar dan bukan seorang pemain catur professional. Namun, netizen Tanah Air mendukungnya bak seorang pemain catur yang hebat. Sementara Irene Sukandar, seorang grand master internasional asal Indonesia justru dicibir lantaran hendak bertanding melawan Dadang. Peristiwa tersebut membuktikan matinya kepakaran, yakni ketika amatir lebih dipuja dan didukung penuh daripada pakarnya.

Dalam buku The Death of Expertise, Tom Nichols menjelaskan fenomena yang terjadi di dunia maya, khususnya media sosial. Bagaimana media sosial memengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap para pakar. Tepatnya, ia memaparkan fenomena matinya kepakaran yang terjadi di Amerika Serikat dengan cara membuktikan, bahwa siapa saja berhak berbicara tentang apa saja di media sosial. Baik para pakar, maupun para amatir.

Di samping kemudahan yang kita dapatkan dari media sosial, ternyata ia juga memiliki sisi gelap atau negatif, yakni menyuburkan ketersebaran hoaks atau informasi palsu dari para amatir. Ditambah masalah yang kerap kali kita alami, yaitu bias konfirmasi. Maksudnya adalah kecenderungan alami untuk hanya menerima bukti yang mendukung hal yang sudah kita percayai. Bukan hal-hal benar yang seharusnya kita ketahui untuk meluruskan pemahaman atau informasi yang salah. Tak ayal, bias konfirmasi menjadi masalah inti yang ada tidak hanya pada para amatir. Melainkan juga para pakar.

Padahal, sebaik dan sebanyak apapun kita mempelajari suatu bidang melalui internet, tanpa Pendidikan formal dan non-formal. Atau mengetahui ilmu dengan cara berbekal penelusuran internet, maka kita tetap membutuhkan pakar untuk menjelaskan dan memaparkan ilmu tersebut. pakar adalah orang-orang yang jauh lebih tahu mengenai suatu pokok bahasan dibandingkan kita semua.

Di antara para pakar sejatinya ada pakar. Maksudnya, dibandingkan orang awam, seorang dokter baru memang lebih memenuhi kualifikasi untuk mendiagnosa suatu penyakit. Namun, ketika dihadapkan suatu persoalan yang lebih rumit, maka dokter baru ini tidak lebih mahir dan andal dari dokter spesialis.

Masalahnya inti yang sebenarnya kita alami adalah kita mendengar apa yang ingin kita dengar dan menolak fakta yang tidak kita sukai. Dengan kata lain, kita ingin mendukung atau mencari kebenaran terhadap apa yang kita yakini. Karenanya, tidak mengherankan jika dewa kipas awalnya lebih diunggulkan dan didukung publik daripada Irene.

Begitu pula halnya dalam pengetahuan keagamaan. Di media sosial, setiap orang bisa berbicara tentang apa saja dan kapan saja. Ditambah kecenderungan kita untuk mengidolakan seorang muballig atau dai yang viral, lucu, serta kekinian, daripada ulama yang moderat, mapan, dan pakar secara keilmuan. Sederhananya, kemasan konten lebih diperhatikan dan digemari daripada substansi atau isi konten tersebut.

Islam secara khusus ternyata menanggapi fenomena ini. Kita seharusnya merujuk kepada para pakar ketika terdapat suatu persoalan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu mengatakan, Rasulullah SAW bersabda, jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi. Ada seorang sahabat bertanya, “bagaimana maksud amanat yang disia-siakan wahai Nabi?” Beliau menjawab, jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu [HR Bukhari].

Hadis ini menjelaskan, bahwa agama pada dasarnya mengajarkan kita untuk bertanya suatu perkara kepada ahlinya. Jika tidak, maka kita akan tersesat dan mengalami kerusakan. Jika kita memiliki keluhan sakit gigi, maka datang dan berkonsultasi kepada dokter gigi. Bukan justru konsultasi kepada seorang penjahit yang meskipun pernah mengalami sakit gigi. Namun, setiap masalah kemungkinan besar memiliki penyelesaian yang berbeda.

Dengan demikian, fenomena matinya kepakaran tidak hanya terjadi di Amerika, melainkan juga di Tanah Air kita. Untuk itu, kesadaran terhadap kebutuhan para pakar sangat diperlukan. Bukan hanya demi mengatasi matinya kepakaran yang sebenarnya. Melainkan menyelamatkan dunia dan keilmuan dari kemunduran serta kehancuran dunia ilmu pengetahuan, termasuk pengetahuan keagamaan.[]

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2021)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…