Nasihat

Toleransi itu Budaya Kita

3 Mins read
Toleransi itu Budaya Kita 1602580708 keragaman indonesia

Sudah sejak lama, pemerintah menyatakan dengan tegas akan melakukan penanggulangan yang serius terhadap radikalisme. Upaya pemerintah untuk mengevaluasi terkait cara-cara pencegahan radikalisme juga terus dilakukan. Selain itu, pemerintah mencoba menyematkan istilah baru terhadap kata radikalisme agama menjadi “manipulator agama”. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat memahami bahwa ancaman dan keharusan untuk terus melawan gerakan radikalisme.

Sementara, adanya radikalisme bukan hanya terjadi di Indonesia, akan tetapi juga ada di seluruh dunia. Apalagi, ditambah dengan derasnya arus informasi era 4.0 yang membuat gerakan radikalisme ini menjadi semakin masif. Hal ini tentunya menjadi tantangan bagi kita semua.

Sebenarnya, radikalisme bukanlah monopoli satu agama saja. Tetapi hampir semua agama juga menghadapi problem yang sama, yakni terdapat sebagian pemeluknya yang gagal memahami pesan-pesan luhur agama. Sehingga membonsai agama untuk melegalkan teror dan kekerasan.

Selain itu, yang dikhawatirkan dengan maraknya paham radikalis ini adalah adanya nilai-nilai intoleransi yang diajarkan oleh kelompok-kelompok radikalisme. Kelompok tersebut nyatanya kurang bisa menerima adanya perbedaan. Menganggap paham atau ajaran yang dianut kelompok di luarnya adalah salah.

Misalnya dalam hal ibadah. Pastilah dalam menjalankan ibadah setiap agama mempunyai cara yang berbeda-beda. Namun, kelompok-kelompok radikalisme ini tidak mewajari perbedaan-perbedaan seperti itu. Kelompok ini juga kurang terbuka dalam menerima kritikan dan saran dari pihak lain.

Padahal dalam konteks agama, Islam mengajarkan bahwa perbedaan seharusnya dijadikan sebagai kekayaan sekaligus keindahan, agar kita senantiasa bersikap saling menghargai satu sama lain. Sebagaimana Allah SWT telah menjadikan umatnya untuk bisa bersatu, berbangsa, dan bersuku-suku. Tentunya, tidak lain agar satu sama lain dapat saling mengenal dan menghargai.

Dengan ini, seharusnya manusia, terutama umat Muslim dapat mewajari adanya perbedaan. Bahkan, lebih dari itu, diajarkan pula bahwa Islam tidak didakwahkan dengan paksaan. Dalam konteks Indonesia, karena karakteristik masyarakatnya yang majemuk, maka dari itu perbedaan ragam budaya sebenarnya sudah menjadi hal yang wajar dan lumrah.

Secara geografis, letak wilayah kita sudah tersebar dan membentuk kepulauan. Secara demografis, kita terdiri dari beragam ras dan etnis. Secara sosiologis, kehidupan bangsa kita sejak dahulu pun sudah mengajarkan sikap toleransi. Karena itu, jangan sampai keragaman ini dirusak oleh virus-virus ekstremisme dan radikalisme.

Sementara itu, setidaknya terdapat tiga model toleransi yang lazim dipraktikkan di antaranya, pertama toleransi antar sesama (intern) umat beragama. Dalam tradisi Islam, perbedaan bukan perkara baru. Munculnya empat madzhab fikih menjadi bukti shahih betapa dunia Islam sangat menghargai perbedaan. Meski berbeda, empat imam besar tersebut tidak pernah saling menyalahkan apalagi saling mengkafirkan. Justru, perbedaan membuat mereka saling melengkapi.

Tak terhitung pula jumlah kitab yang ditulis ulama Muslim terdahulu untuk mengkaji, membandingkan, dan kemudian mendiskusikan berbagai pandangan yang berbeda dengan argumen masing-masing. Perbedaan pemikiran dimaknai sebagai bagian ikhtiar mencari kebenaran dan kebaikan bersama. Tidak terbatas hanya pada hukum fikih, perbedaan pendapat di kalangan umat Islam terjadi di bidang ilmu lain, seperti tafsir, syarah hadist, ulumul quran, ulumul hadist, tauhid, tarikh, maqashidus syariah, dan lain sebagainya.

Kedua, toleransi antar umat beragama. Meski Islam dianut oleh mayoritas penduduk di Indonesia, bukan berarti agama lain layak dinafikan. Mesti dibangun kesadaran bahwa kita hidup di sebuah negara yang menjamin kebebasan beragama. Apapun agamanya, kita wajib saling menghormati. Tak perlu mencampuri apalagi menghina agama lain. Dalam kehidupan lintas agama, Islam memiliki konsep yang sangat tegas dan toleran., seperti firman Allah SWT, “Untukmu agamamu, untukku agamaku.” (Q.S. al-Kafirun: 6). Oleh karena itu, toleransi antarumat beragama termasuk salah satu risalah penting dalam sistem teologi Islam. Karena sedari awal, Islam telah memberikan petunjuk bagaimana cara menghadapi keberagamaan dengan arif dan bijaksana.

Ketiga, toleransi dalam kehidupan bernegara. Adalah bagian dari sunnatullah, Indonesia terdiri dari berbagai suku, budaya, dan agama yang berbeda-beda. Masyarakat Muslim merupakan satu di antara enam pemeluk agama lainnya. Demikian pula, agama Islam telah dianut oleh beragam suku di Indonesia. Dalam kehidupan sehari-hari, pasti akan banyak dijumpai bentuk praktik keberagamaan, salah satunya adalah tercerminkan dalam berbagai ormas keagamaan.

Sementara itu, dilihat dari sejarahnya, leluhur bangsa kita sudah mencontohkan nilai-nilai toleransi. Teringat bagaimana dulu para wali songo menyebarkan ajaran agama Islam di Nusantara melalui beragam media yang disesuaikan dengan budaya masyarakat setempat.

Selain melakukan misi menyebarkan ajaran Islam, para wali juga melakukan dan menghargai keragaman budaya yang dimiliki di setiap daerah. Hal ini merujuk pada perintah Allah SWT bahwa diutusnya Nabi Muhammad SAW adalah untuk menjadi rahmat. Menebar kedamaian dan keadaban. Begitupun apa yang dilakukan oleh para wali songo dalam menyebarkan ajaran Islam adalah semata-mata untuk menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang menjadi rahmat bagi semua.

Kini, kita sebagai umat muslim, juga mempunyai misi untuk menyebarkan agama Islam yang rahmatan lil ‘alamin, harus bisa bersikap moderat dan toleran, terutama dalam menanggapi ragam budaya yang ada. Rasa toleransi rasanya sudah menjadi ruh bagi bangsa Indonesia dan juga masyarakatnya.

Hal ini bisa terlihat dari aktivitas yang kita lakukan sehari-harinya atau pada momen tertentunya. Misalnya saat hari perayaan Idul Fitri. Sesekali masyarakat non-Muslim pun turut membantu menjaga kekhusyukan umat muslim saat melaksanakan shalat Idul Fitri. Begitupun yang dilakukan umat Muslim saat datangnya perayaan hari Nyepi di Bali, masyarakat yang beragama Islam turut menghargai dengan tidak melakukan aktivitas yang mengganggu pada hari itu. Apabila sikap-sikap toleransi terus tumbuh, maka dari itu kehidupan di masyarakat dan dunia dapat senantiasa harmonis. Karena pentingnya toleransi ini dijadikan sebagai prinsip hidup bersama.

Dengan demikian, untuk meningkatkan kesadaran tentang prinsip-prinsip toleransi, sekaligus untuk menghormati keragaman budaya, kepercayaan, dan tradisi. Juga ditekankan pentingnya memahami risiko-risiko yang disebabkan dari sikap intoleransi. Oleh karena itu, semoga kita terus tumbuh dalam baluran rasa toleransi yang tinggi terhadap sesama. Segala bentuk ajaran yang merujuk pada sikap intoleransi tentunya harus dihindari, karena sejatinya kita hidup dalam keberagaman.

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…
KolomNasihat

Pengendalian Diri di Tengah Pandemi

Sepekaan belakangan ini, media kita dipenuhi dengan berita lonjakan kasus Covid-19, keterbatasan fasilitas kesehatan, dan angka kematian pasien. Kita cukup sepakat bahwa…