Kolom

Urgensi Moderasi Beragama di Media Sosial

3 Mins read
Urgensi Moderasi Beragama di Media Sosial ilustrasi keluarga muslim dok freepik

Masifnya radikalisme atas nama agama di Indonesia semakin meluas dan mendoktrin berbagai lapisan masyarakat. Ancaman itu juga tersebar melalui beragam media, tak terkecuali media sosial. Interaksi antar masyarakat untuk mencari pengetahuan seputar agama kini terhubung secara maya (artificial). Akan tetapi pada praktiknya, kelompok Islam radikal ini lebih banyak berkampanye dan menitikberatkan pada aspek nahi munkar dengan provokasi, ujaran kebencian, dan mudah mengkafirkan sesama Muslim. Tentu hal itu sangat berbeda dengan gerakan Islam moderat yang mengampanyekan Islam ramah.

Mereka para provokator ini, bergumul di media sosial dan memiliki hasrat yang besar untuk mendirikan negara Islam atau khilafah. Mereka para eksponen radikalis ini terpukau dengan segala hal yang berkaitan tentang Islam. Meskipun, barangkali Islam sendiri tidak menghendaki hal yang demikian. Wacana-wacana pengkerdilan terhadap kaum minoritas juga sering digencarkan oleh para radikalis ini. Mereka menginginkan agar Indonesia yang telah menjadi negara majemuk dapat terpecah belah dengan berbagai propaganda yang ditawarkan.

Fenomena takfir juga tidak kalah ramai di laman media sosial. Inilah yang melahirkan berbagai tuduhan seperti sesat, kafir, dan liberal. Tentunya, tuduhan tersebut diniatkan untuk membunuh karakter orang atau kelompok yang akan  diserang. Tujuan lain juga adalah agar masyakat tidak lagi percaya dengan segala yang disampaikan oleh penguasa yang membela Indonesia dan Pancasila.

Berbagai wacana kegamaan para radikalis ini tentu memenuhi hampir seluruh dinding media sosial. Hal tersebut, menjadikan media sosial oleh para kalangan Islam kanan atau yang sering disebut Islam konservatif, telah memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan paham-paham keagamaan yang bersifat eksklusif.

Padahal sebenarnya, moderasi beragama merupakan bagian tak terpisahkan dari sikap dan praktiknya di Indonesia, termasuk keberagamaan dari setiap agama. Karakter itulah yang selama ini menjaga bangsa agar tidak terpecah-belah, dan mengilhami nuansa kehidupan bernegara dan berbangsa di tengah masyarakat. Praktik keberagaman menjadi contoh bagi sikap moderasi beragama, khususnya bagi mayoritas Islam yang ada di Indonesia. Penerapan inilah yang termasuk kepada cara berpikir dan bersikap yang sejalan dengan konsepsi Islam  yang moderat (wasathiyah) atau jalan tengah.

Menurut KH. Ma’ruf Amin, Islam moderat (wasathiyah) adalah Islam yang santun, tidak kasar, tidak galak, dan sesuai dengan apa yang dilakukan Nabi Muhammad SAW. Selain itu, moderasi juga mengajak kepada orang dengan sukarela. Ia juga menambahkan bahwa terdapat  empat kaidah dalam ajaran Islam. Yang pertama yaitu santun, tidak keras dan tidak radikal. Kedua memiliki rasa rela, tidak memaksa dan tidak mengintimidasi. Ketiga adanya toleransi, tidak egois dan tidak fanatis. Kemudian yang terakhir, saling mencintai, tidak saling bermusuhan dan membenci. Di sisi lain, pendapat Abi Qurais Shihab juga mengatakan bahwa moderasi memiliki tiga kunci, diantaranya pengetahuan, mengganti emosi keagamaan dengan cinta agama, serta selalu berhati-hati. 

Dari kedua pandangan tersebut, Penguatan keagamaan moderat sangat penting untuk terus dilakukan, khususnya  di media sosial. Pemuda Muslim di Indonesia seharus memiliki semangat beragama yang moderat, yaitu santun, toleran, damai, dan membawa pada kebaikan dan persaudaraan. Bukan beragama yang penuh kebencian, kekerasan, dan membawa perpecahan. 

Dalam konteks ini juga, para pendakwah seharusnya bukan hanya fokus dengan  gagasan moderasi beragama yang hanya menjadi pembicara di kampus atau mengisi kajian di mesjid, akan tetapi juga bisa ‘turun gunung’ dan ikut mewarnai wacana yang ada media sosial. Meskipun kini, kehadiran kajian-kajian daring yang diinisiasi oleh para ulama moderat seperti Ulil Abshar Abdallah, Abdul Moqsith Ghazali, Nadirsyah Hosen, dan Husein Ja’far Al Hadar, harus menjadi contoh dan diikuti oleh ulama atau cendekiawan moderat lainnya. Mereka harus terlibat dalam kontra-wacana radikalisme di media sosial. Jangan sampai, wacana yang berkembang di dalamnya lebih banyak dikuasai oleh kalangan Islam radikalis.

Keterlibatan kalangan Islam moderat dalam pertarungan wacana di media sosial, setidaknya akan memberi dua harapan bagi Islam Indonesia. Pertama, dapat meminimalisir potensi radikalisme dan intoleransi, terutama di kalangan anak muda. Kedua, kehadiran kajian-kajian oleh ulama dan cendekiawan moderat pada dunia virtual tersebut dapat kembali mengubah wajah Islam Indonesia menjadi ramah dan mengembalikan benih-benih moderatisme dan inklusifisme beragama di Indonesia.   

Selain terus memperbanyak penetrasi dakwah digital, tampilan, narasi, dan kemasan yang menarik tentang moderasi beragama juga penting diperhatikan. Peneliti Universiti Kebangsaan Malaysia, Hew Wai Teng (2015), dalam penelitiannya, tentang dakwah digital di Indonesia dan Malaysia, menyebutkan bahwa keberhasilan dakwah para ustadz di media sosial, karena dipengaruhi oleh tiga aspek, pertama estetika visual. Kedua, mengguatkan cara yang komunikatif (seperti forum tanya-jawab). Ketiga, strategi marketing yang dilakukan di media sosial.

Dengan demikian, pentingnya menguatkan dakwah moderasi beragama secara digital dengan kemasan menarik dan ciamik sangat perlu dilakukan.  Pun, dakwah moderasi beragama juga tak boleh ketinggalan. Dakwah konvensional memang tetap harus berjalan, akan tetapi menyepelekan dakwah digital hari ini jelas kesalahan fatal. Oleh karen itu, dakwah Islam moderat mesti terus dibangun dan terus menyebarkan ajaran-ajaran agama secara ramah dan damai. Jangan sampai, dinding media sosial justru dikuasai oleh penyebar ideologi radikalisme agama. 

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2021)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…