Dunia IslamKolom

Hikmah Puasa Ramadhan

4 Mins read
Hikmah Puasa Ramadhan hikmah puasa dari sisi sosiologis

Setiap ibadah yang disyariatkan dalam Islam, pasti memiliki hikmah. Namun, hikmahnya sendiri ada yang sudah diketahui ada yang masih tersembunyi. Ada yang sudah jelas bagi manusia dan ada yang masih menjadi rahasia. Tugas kita adalah menemukan hikmah-hikmah tersembunyi tersebut. Pengetahuan akan hikmah ini sangat penting, karena akan memotivasi dan menguatkan keyakinan kita dalam beramal ibadah kepada Allah SWT.

Tetapi yang perlu digarisbawahi adalah, bahwa hikmah bukanlah penentu atau kunci dalam menjalankan amal. Hikmah bisa dicari dan dipikirkan tanpa meninggalkan amal. Jika nanti hikmah itu terungkap, akan dapat menguatkan kontinuitas amal kita. Dan kalaupun sampai akhir hayat tidak juga tidak diketahui hikmah itu, tidak berarti memutuskan amal yang telah jelas ada dalilnya. Allah, sesunguhnya tidak membutuhkan apapun dari hamba-hamba-Nya. Namun sebaliknya, manusialah yang membutuhkan Allah.

Andaikan seluruh manusia beribadah kepada Allah ataupun tidak ada satupun yang beribadah kepada Allah, Dia tetaplah Tuhan bagi semesta alam yang kekuasaanya tidak berkurang. Maka dari itu, hikmah yang dilakukan manusia, sejatinya akan kembali pada manusia juga. Puasa merupakan ibadah yang istimewa. Allah SWT berfirman dalam hadis qudsi; Puasa itu untuk-Ku dan Aku (Allah) yang akan membalasnya (HR. Bukhari Muslim).

Puasa Ramadhan memiliki sejumlah hikmah dan maslahat bagi manusia. Secara umum, hikmah puasa bisa diklasifikasikan menjadi tiga. Pertama, hikmah ruhiyah. Artinya, puasa merupakan ibadah yang langsung menyentuh dimensi ruhani. Porsinya bahkan lebih besar dari ibadah-ibadah lainnya. Jika zakat memiliki dimensi harta yang besar, shalat tedapat dimensi gerak, dan ibadah haji memiliki dimensi gerak serta harta yang juga banyak, puasa lebih concern pada dimensi ruhani. Karenanya, ada hikmah ruhiyah dalam ibadah puasa ini.

Pertama, puasa mensucikan jiwa manusia. Dengan menjalankan ibadah puasa, manusia telah memilih untuk menahan diri dari hal-hal yang sebenarnya halal untuknya. Sejak terbit fajar sampai terbenamnya matahari, orang yang berpuasa menahan diri untuk tidak makan dan minum. Seandainya puasa tidak dilakukan karena Allah, niscaya kita malakukan semau sendiri, makan atau minum ditempat tertutup. Disinilah hikmahnya puasa, melatih seseorang untuk menahan hawa nafsunya yang merupakan bagian inheren dari kotoran jiwa. Berkat puasa yang dilakukan karena Allah, sifat-sifat buruk akan tersaring, karena dalam puasa ada paksaan untuk mengerem berbagai hasrat yang dicendrungi manusia.

Kedua, puasa mengangkat unsur ruhani di atas materi pada diri manusia. Allah menciptakan manusia dari unsur materi dan non materi, yaitu tanah dan ruh. Pada saat manusia menuruti unsur tanah yang cendrung pada dunia, maka kedudukanya akan turun, bahkan melebihi binatang. Allah SWt menggambarkan dalam al-Quran surat al-Araf ayat 179, Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.

Sebaliknya, ketika manusia mengikuti unsur ruh yang cendrung pada akhirat dan mencintai hal-hal bernuansa langit, maka kedudukannya akan melambung tinggi ke drajat malaikat. Pada saat berpuasa di siang hari yang sangat panas, unsur tanah dalam diri manusia mengajak untuk minum. Tetapi ia lebih memilih untuk mengikuti unsur ruhani untuk tetap berpuasa. Demikian juga ketika perut kita lapar, unsur tanah akan membawa ajakan untuk makan. Bagi orang yang berpuasanya karena Allah, ia akan memenangkan unsur rohani untuk tetap menahan rasa lapar sampai waktu berbuka tiba.

Kemenangan ruhani inilah yang akan membawa pada kebahagiaan sejati manusia di hadapan Tuhannya kelak. Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan, yaitu kebahagiaan saat berbuka dan kebahagiaan saat bertemu dengan Tuhannya, dia berbahagia dengan puasanya.

Ketiga, puasa melatih kesabaran. Inti dari kesabaran adalah menahan diri. Menahan diri dari dorongan untuk segera memiliki atau melakukan sesewatu yang negatif. Puasa membiasakan kesabaran, karena pada puasa kita menahan diri untuk tidak memenuhi sesewatu yang menjadi kebutuhan pokok manusia sehari-hari, yaitu makan dan minum. Kesabaran ini pada akhirnya akan mengikis kedengkian dan sifat-sifat buruk lainnya. Nabi Muhammad SAW bersabda, Puasa adalah bulan kesabaan dan tiga hari di setiap bulannya dapat melenyapkan kedengkian dalam dada (HR. Tabrani).

Ketiga hikmah ruhiyah ini harus dilakukan secara baik dan bersungguh-sungguh. Sebab, unsur ruhiyah satu perkara yang tidak mudah dijalani. Ia tidak secara otomatis terbentuk begitu saja, namun melalui proses panjang yang melelahkan. Tetapi yakinlah, buah dari perjalanan panjang nan sulit tersebut, pada saatnya kita akan petik buahnya yang manis.

Kedua, hikmah medis. Betapa banyak penyakit medis yang berawal dari pola makan yang tidak sehat. Dan betapa banyak penyakit yang berawal dari pencernaan. Hikmah medis puasa telah terbukti melalui berbagai penelitian. Diantara hikmah medis ini, seperti yang ditulis Said Hawa dalaam bukunya Al-Islam, diantaranya, puasa memberi kesempatan beristirahat bagi alat pencernaan setiap hari. Dengan peristirahatan yang teratur ini, maka alat pencernaan semakin sehat. Dan sudah menjadi hal yang lazim, puasa dipakai untuk mengobati beberapa pasien ketika akan melakukan oprasi besar.

Selanjutnya, puasa telah terbukti kebenaranya secara ilmiah, bahwa memperbanyak makan bisa menimbulkan penyakit yang munculnya berkaitan erat dengan kebiasaan banyak makan, seperti penyakit rematik, liver, tekanan daraah tinggi, dan kencing manis. Oleh karena itu, tidak diragukan lagi  bahwa puasa akan bisa memberikan kesempatan istirahat bagi tubuh setiap tahunnya dalam waktu yang tertentu, yaitu seperduabelas dari umur si pasien.

Ketiga, hikmah sosial. Dengan berpuasa seorang Muslim dilatih oleh Allah untuk merasakan lapar. Rasa lapar ini diperlukan oleh orang-orang yang kesehariannya berkecukupan yang mungkin tidak pernah merasakan lapar kecuali dengan berpuasa. Dengan merasakan lapar, diharapkan orang-orang kaya yang berkecukupan akan bisa merasakan juga seperti apa yang dirasakan kaum fakir miskin. Selanjutnya akan timbul rasa empati dan tergerak untuk berbagi. Hikmah sosial lainnya yaitu puasa melatih kejujuran pribadi. Dengan kejujuran ini, maka kehidupan sosial akan berjalan harmonis.

Itulah beberapa hikmah puasa. Setelah kita mengetahui hikmah-hikmah daripada puasa, seyogianya kita dalam berpuasa lebih bersungguh-sungguh karena Allah SWT. Jangan sampai kita menjadi orang yang berpuasa yang hanya mendapat rasa haus dan lapar belaka. Seperti yang disabdakan Nabi kita Muhammad SAW, Banyak diantara orang yang berpuasa, tidak memperoleh sesuatu dari puasanya, kecuali rasa lapar dan dahaga. (HR. Imam Nasa’I dan Ibnu Majah).  

Telah banyak hadis yang mengajarkan cara berpuasa yang diridlo Allah SWT, maka jika kita ingin mendapat keberkahan dan merasakan hikmah daripada puasa, jalan yang telah diajarkan Rasulullah lah yang mestinya kita ikuti. Puasa adalah ibadah istimewa, oleh karenaya mari kita songsong dengan cara yang istimewa. Semoga kita senantiasa terjaga dari lelaku puasa yang hanya mendapatkan rasa lapar dan dahaga. Dengan mendalami hikmah puasa, harapannya puasa semakin menjadikan kita sebagai hamba yang bertaqwa.

Pros

  • +

Cons

  • -
Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2021)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…