KolomNasihat

Renungan Surah Al-Ashr

3 Mins read

Menghargai waktu dan menatanya dengan baik merupakan karakteristik orang shalih. Sebaliknya, membiarkan diri melayang tanpa tujuan, tidak tahu apa yang harus dilakukan, sehingga sebagian besar waktu akan menjadi sia-sia adalah perilaku yang tercela. Peringatan agar tidak buang-buang waktu, selalu menjadi topik serius dari para ulama Islam. Kita harus memperhatikan produktivitas diri dan menyusun rangkaian aktivitas ibadah untuk setiap siang atau malam kita. Imam al-Ghazali dalam Bidayat al-Hidayah (2004:120) menuliskan teknik yang kita kenal saat ini sebagai time management. “Tetapkan pada setiap periode waktu beberapa fungsi khusus, yang dipertahankan dan tidak ditinggalkan untuk hal lain pada waktu itu. Dengan cara ini barakah waktumu akan terbukti.” 

Kita mengalami waktu sebagai rangkaian panjang yang mengalir dari masa lalu, melalui saat ini dan ke masa depan. Di dalam al-Quran, Allah SAW bersumpah atas nama waktu. Hal itu menekankan bahwa umat Islam harus benar-benar memperhatikan waktunya. Demi Masa! sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran. (QS. Al-Ashr). 

Surat ini  membuat kita waspada dengan waktu dan apa pun yang kita alokasikan dalam waktu hidup kita. Sumpah “demi masa” diambil untuk menggugah kesadaran kita agar melihat waktu melalui mata iman. Surah ini adalah seruan kepada kita agar tidak jatuh dalam kelalaian (ghaflah), menyia-nyiakan waktu, dan pada akhirnya membahayakan keselamatan. Surat al-Ashr merupakan panggilan untuk terus berdzikir, menginternalisasikan iman yang penuh, mempraktikkan kesabaran yang indah, dan menumbuhkan adab dengan waktu yang telah dianugerahkan kepada kita. Amanat dari surah ini amat komprehensif, tidak heran jika Imam Syafi’i berkata, law tadabbur al-nas hadzihil surah la was’athum, “Jika orang hanya merenungkan surah ini, itu akan cukup bagi mereka.”

Dalam Surat ini, Allah bersumpah demi Waktu, ciptaan-Nya yang penuh teka-teki ini. Seruan dibuat untuk waktu, karena dalam rentang waktu-lah takdir kita tidak pernah berhenti terungkap, peristiwa-peristiwa dalam hidup kita dimainkan, dan kita menemukan tanda-tanda Allah di dunia untuk direnungkan maknanya.

Ayat berikutnya menyambar bagaikan petir. Sungguh, manusia berada dalam kerugian. Al-Qur’an, dalam menyuarakan kerugian ini, bisa saja mengatakan al-insanu fi khusr, ‘Umat manusia dalam keadaan rugi’. Tetapi, dalam ayat itu ditambahkan penekanan, inna serta  la. dua kata terpisah yang menandakan penekanan dan kekuatan. Terjemahan literalnya jadi bisa berbunyi, Sesungguhnya manusia benar-benar dalam keadaan rugi. Penekanan ganda itu tentu saja membawa gravitasi bagi pentingnya masalah ‘waktu’ tersebut.

Lalu, apa yang dimaksud dengan ‘kerugian’ itu? as-Suyuthi dalam Tafsir al-Jalalayn (612) menafsirkannya sebagai kerugian dalam transaksi kehidupannya’ (fi tijaratihi). Al-Quran memang kadangkala menggunakan perdagangan atau transaksi bisnis sebagai metafora kehidupan seperti perdagangan atau transaksi bisnis (tijarah), misalnya QS. As-Shaff ayat 10. Jadi, waktu adalah modal manusia yang bisa diinvestasikan dengan bijak dan saleh, atau disia-siakan. Tetapi, manusia kerap merugi karena menyalahgunakan modalnya, dan membuangnya, dengan berpaling dari Allah dan Akhirat dan terjun langsung ke dalam godaan duniawi. Artinya, orang yang hanya memperhatikan keuntungan materialnya saja, akan rugi. Karena asetnya yang akan dihitung pada akhir hari itu menunjukkan kerugian spiritual yang besar.

Ada empat kualitas yang harus kita miliki agar terhindar dan dikecualikan dari kerugian besar tersebut, yang tertulis dalam ayat selanjutnya, Al-Ashr ayat 3. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran

Pertama, beriman dengan keyakinan yang benar dan tulus terhadap Keilahian dan Keesaan Allah SWT, dan dalam apa yang diturunkan kepada Nabi terakhirnya-Nya. Kedua, mengerjakan kebajikan dengan tulus melakukan kebaikan demi mencari keridhaan dan penerimaan-Nya. Seperti, menunaikan hak yang berhubungan dengan Allah serta, yang berhubungan dengan sesama manusia (huquq al-‘ibad). Beberapa penafsir menunjukkan bahwa kedua kualitas ini berhubungan dengan kesalehan dan kesempurnaan internal diri seseorang. 

Ketiga, saling menasihati untuk mengikuti kebenaran semua realitas yang telah diwahyukan. Termasuk perihal lain yang kebenarannya tidak dapat disangkal. Keempat, saling menasihati untuk kesabaran, dalam hal ibadah dan ketaatan kepada Allah. Mengingat bahwa mayoritas penafsir berpendapat bahwa surah ini diturunkan di Makkah, berarti  kesabaran sebagaimana yang dipraktikkan Muslim awal di Mekkah, seperti dalam menahan penghinaan, penistaan, dan penderitaan minoritas Muslim yang harus bertahan menghadapi permusuhan, serangan atau perlakuan tidak simpatik. 

Jadi, dua kualitas pertama berbicara tentang pentingnya memperbaiki dan mengembangkan keimanan dan keshaihan di dalam diri, sedang dua kualitas lainnya menunjukkan kewajiban untuk membantu orang lain dengan lebih baik. Jadi surah ini menegaskan agar kita mengambil bagian dalam menjaga keselamatan untuk jiwa kita sendiri, sekaligus keselamatan masyarakat.

Kehidupan kita saat ini berada di antara dua periode waktu, yaitu masa lalu dan masa depan. Apapun kesalahan yang kita lakukan di masa lalu dapat diperbaiki dengan penyesalan dan taubat yang ikhlas. Sedangkan, masa depan bisa diperbaiki dengan tekad untuk tidak melakukan dosa dan menjauhkan diri dari ketidaktaatan.

Kesimpulannya, waktu manusia di bumi amat cepat mencair setiap detik, seiring setiap hembusan napas. Jika dia menghabiskan waktu dengan melakukan yang sia-sia, yang tidak bernilai ibadah, bahkan terlarang, maka inilah kerugian manusia yang sebenarnya. Oleh karena itu, di kehidupan ini kita tidak boleh kehilangan keimanan, ketaatan kepada Allah, tulus membantu orang lain dan menjaga kesejahteraan manusia. Itulah ketekunan yang harus kita upayakan sepanjang hidup ini, agar waktu kita menjadi produktif dan mendapat ridha Allah SWT.

Pros

  • +

Cons

  • -
Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2021)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…