KolomNasihat

Gangguan Mental Bukan Lemah Iman

3 Mins read
Gangguan Mental Bukan Lemah Iman 93201941116 nsjum8x432 mental health

Umat Islam pada umunya sering mengaitkan masalah kesehatan mental dengan fenomena non-medis, seperti lemahnya iman, penyakit ‘Ain, kerasukan Jin, sihir, dan ilmu hitam. Tidak jarang pula, Muslim  memberikan stigma terhadap keluhan mental seseorang, di antaranya “anxiety itu akibat dari lemahnya iman”, “stress berarti kurang shalat”, atau “orang beriman tidak mungkin depresi”. Keyakinan tentang gangguan kesehatan mental disebabkan oleh setan atau jin pun masih berkembang secara luas di kalangan Muslim negeri ini.

Padahal, meskipun ilmu hitam adalah fenomena yang nyata, tidak semua masalah kesehatan mental disebabkan kekuatan supernatural. Hasil penelitian Hussein Rassool, yang berjudul Evil Eye, Jinn Possession, and Mental Health Issues (2019:58), cukup untuk menyingkap kenyataan bahwa, apa yang sering dipercayai masyarakat Muslim sebagai gangguan setan, kebanyakan adalah gangguan kesehatan yang dapat disembuhkan melalui perawatan medis. Oleh sebab itu, dalam menangani gangguan kesehatan, satu-satunya yang mestinya kita cari tahu adalah diagnosa medis. Alasan ‘lemah iman’ bukanlah diagnosis yang pantas kita gunakan, karena hanya Allah SWT yang dapat menilainya.

Akibat stigma terhadap gangguan kesehtan mental, banyak kaum Muslim yang tidak mengakses pengobatan medis, menderita dalam diam, tidak terdiagnosis. Dalam makalah berjudul Mental Health Stigma in the Muslim Community (2013: 24-25), beberapa peneliti melaporkan bahwa memeriksakan gangguan mental dianggap “memalukan” di kalangan Muslim. Bahkan wanita yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga pun, merasa malu mencari layanan kesehatan mental formal. Ada juga, komunitas Muslim yang menolak gagasan skizofrenia sebagai penyakit, tetapi menganggapnya sebagai kehendak Allah yang mesti diterima apa adanya.

Nampaknya, ada perubahan signifikan dalam meyikapi penyakit mental di kalangan Muslim. Tidak terhitung berapa banyak orang Muslim yang hanya mendapat ceramah ‘solat dan zikir’, saat menderita stress, kecemasan, atau trauma. Tanpa disadari, Muslim sebenarnya kehilangan kontak dengan sistem penyembuhan holistik warisan Islam, yang mencakup kesehatan mental. Pada perinsipnya, Allah SWT mendorong untuk mengambil langkah-langkah untuk mengatasi kesedihan atau gangguan emosional, Jangan engkau biarkan dirimu binasa karena kesedihan… (Al-Fatir: 8).

Faktanya, sunnah Nabi SAW juga mendorong umat Islam untuk mencari bentuk pengobatan yang holistik, secara spiritual, psikologis, dan medis yang tersedia bagi mereka. Rasulullah SAW senantiasa mengajarkan untuk menjaga kebersihan dan kesehatan badan, mengajarkan kesabaran, serta doa-doa khusus untuk menghadapi gangguan emosi, seperti ketakutan, kecemasan, dan kesedihan. Tidak sampai disitu saja, Nabi SAW juga mendorong agar kita mencari segala bentuk pengobatan yang tersedia. Beliau bersabda “wahai para hamba Allah, berobatlah. Sebab, Allah  tidaklah meletakkan sebuah penyakit melainkan meletakkan pula obatnya… (HR. Ahmad)

Sama seperti kita, para nabi yang memiliki keimanan sempurna pun, mengalami dan mengakui tekanan emosional yang intens, yang bahkan lebih parah dari kita. Misalnya, Nabi Muhammad SAW mengalami kesedihan yang begitu dalam selama setahun yang disebut periode ini “Amul Huzni” (tahun kesedihan). Saat beberapa anggota keluarga yang mata dicintainya meninggal dunia secara berturut-turut.

Kesedihan Nabi SAW sering diperparah oleh tekanan sosial dan ekonomi yang sangat besar pada dirinya dan para pengikutnya. Beliau juga merasakan sakitnya penolakan orang-orang kafir terhadap pesan-pesan yang dibawanya. Tetapi beliau senantiasa berusaha mengatasinya, sehingga berhasil membangun kekuatan mental dan kecerdasan emosional.

Selain melalui terapi spiritual, Rasulullah juga tidak pernah mengabaikan pentingnya berobat secara fisik atau medis. Saat ada orang lain yang menderita kesedihan, Rasulullah selalu menawari mereka perawatan fisik dan medis untuk meringankan tekanan emosionalnya. Beliau juga dikenal memanfaatkan Talbinah, sejenis sup hangat dari biji-bijian yang dicampur madu dan susu, untuk mengobati kecemasan dan stress yang disebabkan oleh kesedihan. 

Maka dari itu pula, ketika ada anggota keluarga akan meninggal, Aisyah RA selalu mengumpulkan kerabat dekat dan teman-temannya, dan menyuguhkan sepanci Talbinah dan Tharid, hidangan-hidangan yang dipercaya dapat memberikan efek obat bagi kesedihan dan tekanan psikologis. Aisyah RA kemudian memberi tahu mereka, “Makanlah, karena aku mendengar Rasulullah berkata, Talbinah menenangkan hati orang sakit dan menghilangkan sebagian kesedihannya” (HR. Bukhari)

Talbinah merupakan salah satu produk penyembuhan yang biasa digunakan bersama dengan pengobatan spiritual di zaman Nabi SAW. Inilah gambaran sifat holistik penyembuhan dari Islam. Dengan cara ini, Nabi Muhammad meletakkan dasar bagi apa yang akan menjadi tradisi Islam yang kaya dalam merawat kesehatan mental pada generasi setelahnya, yaitu menggabungkan perawatan spiritual dan medis. Bagaimanapun, kita tidak boleh mengabaikan pengobatan medis sebagai sarana untuk mencari kesembuhan.

Singkatnya, gangguan kesehatan mental tidak boleh distigma sebagai kelemahan iman, sebab hal itu dapat menghalangi seseorang untuk mencari pengobatan medis yang dibutuhkannya. Manusia tidak bertanggung jawab untuk menilai lemah-kuatnya iman seseorang, hanya Allah SWT yang dapat mengetahui keadaan spiritualitas kita semua. Rasulullah SAW telah mengajarkan penanganan holistik secara spiritual dan fisik bagi orang yang mengalami gangguan kesehatan. Jadi, seorang Muslim harus memiliki sikap positif terhadap penyembuhan dan kesejahteraan mental.

Pros

  • +

Cons

  • -
Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2021)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…