Dunia IslamKolom

Ustadz Kok ‘Nyeleb’?

3 Mins read
Ustadz Kok ‘Nyeleb’? di

Tampilnya para ustadz atau muballigh di layar kaca sudah menjadi suatu hal yang lazim. Di samping mengemban misi dakawah nan mulia, sejumlah ustadz tampak begitu ‘mesra’ bergaul dengan para selebriti. Menariknya, perilaku selebriti tersebut lantas ditiru para muballigh. Yakni, berpenampilan glamor, memberi tontonan yang asyik tanpa memperhatikan substansi, dan memasang tarif layaknya artis.

Saat mengamati fenomena ini, sejumlah pertanyaan bermunculan dalam benak saya. Jika dakwah Islam memang bertujuan mengajak umat Islam menjalankan syariat dan istiqomah mengerjakannya, atau bermaksud mempromosikan Islam kepada non-Muslim, maka bagaimana seharusnya pendakwah bersikap? Benarkah ketika berdakwah Nabi SAW bermewah-mewahan, sementara umat Islam tengah kesulitan? Apakah Nabi selektif menentukan Jemaah saat berdakwah? Atau apakah Nabi lebih banyak melucu saat berdakwah? Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Tentunya, sebagai seseorang yang jauh lebih paham soal syariat secara teoritis dan praktis, para pendakwah semestinya lebih tahu bagaimana seharusnya bersikap. Tidak hanya menjadikan ayat al-Quran dan sunnah Rasulullah SAW sebagai materi dakwahnya, melainkan menghayati dan meresapi pula ajaran serta nilai yang terkandung di dalamnya pada kehidupan sehari-hari.

Untuk lebih memperjelasnya, mari kita simak sebuah ayat dalam surah al-Shaff berikut; hai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan hal-hal yang kalian tidak lakukan? Amat besar murka di sisi Allah, bahwa kalian mengatakan apa-apa yang tidak kalian kerjakan (al-Shaff (61): 2-3).

Secara khusus, ayat tersebut menyampaikan agar para pendakwah tidak memisahkan antara ucapan dan perbuatan. Misalnya, ketika para pendakwah menyampaikan kepada jemaah untuk bersedekah, maka ia semestinya juga menerapkannya. Sebagaimana Rasulullah SAW yang tidak pernah berdakwah hanya di lisan saja, melainkan menjadi uswah hasanah yang diteladani umatnya.

Rasululllah SAW menyampaikan, shalatlah kalian seperti kalian melihat aku shalat [HR Bukhari]. Dengan begitu, para sahabat tidak merasa kesulitan saat menjalankan perintah-Nya. Meskipun dalam hal kewanitaan Rasulullah tidak mengerjakannya, tetapi sebagai gantinya, salah seorang isteri beliau yang mencontohkan.

Maksudnya, seorang muballigh atau ustadz yang ceramah-ceramahnya didengar oleh banyak orang, sudah sepatutnya menjadi teladan pula. Tidak hanya omong kosong belaka. Bukan pula seseorang yang sibuk memperkaya diri dan memarjinalkan kepentingan orang-orang yang lemah, sementara dirinya hanyut dalam gelimang harta.

Ketimpangan antara ucapan dan perbuatan inilah yang kemudian menurunkan kredibilitas seorang ustadz atau muballigh di mata masyarakat. Ironisnya, umat Islam justru memilih untuk mengikuti gaya hidupnya ketimbang ceramah-ceramahnya. Menggunakan merk pakaian ustadz A. Atau pergi ke salon mewah langganan ustadz B.

Akibatnya, umat tidak tercerahkan. Padahal, salah satu tugas pokok ustadz atau muballigh dalam berdakwah adalah memberikan tuntunan, mencerahkan dan mencerdaskan umat, bukan malah memalingkan mereka. Oleh sebab itu, tidak heran jika kita melihat umat Islam jalan di tempat. Atau bahkan hidup dalam kemunduran, karena ustadz memiliki peran penting dalam membentuk kualitas umat.

Di sisi lain, ustadz yang gemar nyeleb ini juga kerap kali berdakwah hanya sebagai tontonan yang menghibur saja, bukan tuntunan sebagaimana Rasulullah SAW berdakwah. Membuat vlog yang menjelaskan detail rumahnya yang mewah, melucu dalam setiap ceramah tanpa memperhatikan substansi atau isinya, dan lain sebagainya. Hal-hal seperti itu sudah menjadi rahasia umum. Ironisnya, jemaah sekarang malah ingin mendengarkan ceramah yang lucu saja, tanpa peduli apa isi ceramahnya. Atau menyaksikan kehidupan indah nan glamor sang ustadz. Yang penting asyik dan lucu, titik.

Berkat tontonan yang minim tuntunan ini, umat kemudian mengalami krisis akhlak dan ajaran Islam. Umat menjadi sangat jauh dengan pesan-pesan moral al-Quran. Merasa asing dengan kehidupan dan perilaku Nabi SAW. Asupan materi yang begitu sedikit jelas tidak cukup untuk memenuhi rasa dahaga spiritualitas umat.

Padahal, jika merujuk pada al-jami’ al-shaghir karya al-Suyuthi, disebutkan bahwa rumah-rumah Rasulullah, meskipun memang terdapat sembilan buah, tetapi sangat pendek. Apabila ada seseorang yang berdiri, maka acungan tangannya dapat mengenai langit-langit rumah. Saking kecilnya, rumah-rumah istri Nabi ini dinamakan al-hujurat dalam al-Quran, yang berarti kamar-kamar.

Sedangkan kehidupan sehari-hari Nabi SAW adalah berdakwah, yakni mengisi kajian rutin malam hari untuk laki-laki dan pengajian khusus Wanita seminggu sekali, menjadi imam shalat tiap waktu, menjadi khatib, dan lain-lain. Sebagai kepala rumah tangga, beliau juga membantu pekerjaan domestik yang kerap kali dikerjakan perempuan. Seperti menjahit baju, memperbaiki sandal, dan memerah susu kambing peliharaannya. Namun per;u ditegaskan, beliau sama sekali tidak mengambil upah dari hasil dakwahnya, melainkan menjual kurma untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Di masa sekarang, berdakwah bukan merupakan suatu kewajiban, tetapi sudah menjadi mata pencaharian. Menariknya, cuan atau keuntungan pribadi menjadi tujuan. Meskipun sulit untuk hidup persis seperti Nabi SAW, tetapi gaya hidup sederhana Nabi SAW semestinya kita teladani.

Nabi Muhammad SAW sejatinya mengajarkan kepada kita, bahwa kekayaan yang sebenarnya terletak pada hati, bukan harta. Selalu merasa cukup dan bersyukur adalah kunci. Hidup mewah atau harta yang bergelimang tidak akan pernah memuaskan hati yang miskin. Sebaliknya, hati yang kaya akan selalu merasa cukup dalam keadaan apapun.

Untuk itu, ustadz kok nyeleb? sebagai orang yang paham agama, sudah semestinya seorang ustadz atau muballigh memberikan tuntunan yang bermanfaat bagi umat. Membela kepentingan orang-orang yang lemah. Bukan malah memberikan tontonan yang hanya mengasyikkan atau meledakkan tawa, tanpa mengisi dahaga spiritualitas jiwa.[]

Pros

  • +

Cons

  • -
Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2021)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…