BeritaNasihat

Kok Aa Gym Melecehkan Perempuan?

3 Mins read
Kok Aa Gym Melecehkan Perempuan? 85792 abdullah gymnastiar atau aa gym

Bukan Aa Gym namanya jika tidak menjadi pembicaraan publik dan media. Setelah isu poligami dan perceraiannya yang mengecewakan jutaan jemaah ibu-ibu. Kini, dai kondang (pada masanya) tersebut kembali menjadi bulan-bulanan netizen. Pasalnya, rekaman suara ceramah Aa Gym yang menyebutkan istrinya sudah ‘turun mesin viral’ di jagat maya. Ungkapan tersebut, rasanya membuat hati saya miris. Bagaimana mungkin seorang ustadz melecehkan perempuan dengan menggunakan istilah “turun mesin”.

Turun mesin, dalam konteks hubungan pernikahan adalah sebuah kiasan yang memang dipakai untuk menggambarkan menurunnya kualitas atau performa seksualitas seseorang. Jika ditunjukkan kepada seorang istri, ungkapan turun mesin sebanyak tujuh kali, artinya istri tersebut sudah mengandung dan melahirkan anak sebanyak tujuh kali, dan kondisi tersebut berpengaruh pada performa seksualitasnya.

Kiranya, perkataan Aa Gym tersebut spesifik bukan hanya sebatas ungkapan semata, tetapi sebuah penghinaan dan pelecehan berkonotasi seksual terhadap perempuan. Bahkan, ungkapan tersebut bermakna  peyorasi yang bernuansa patriakis.  Terlepas dari kontroversi yang dituai, seseorang seharusnya lebih bijak dalam memilih dan penggunaan kata-kata, termasuk istilah ‘turun mesin’. Sebab, dalam peraturannya terdapat potensi hukuman penjara 3 tahun bila melontarkan istilah tersebut.

Dalam UU PKDRT, No. 23 Tahun 2004, kekerasan psikis dimaknai sebagai perbuatan yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, atau penderitaan psikis berat pada seseorang. Meski tidak melukai secara fisik, kekerasan psikis termasuk ke dalam tindak pidana dengan ancaman paling lama 3 tahun.  

Nyatanya, Aa Gym bukan lah ustadz pertama yang melakukan pelecehan seksual secara verbal dalam isi ceramahnya. Sebelumnya, terdapat sederet penceramah yang melakukan pelecehan verbal terhadap perempuan, sebut saja Riziq Syihab, Maheer-Thuwailibi, Khalid Basalamah dan lainnya. Mereka yang melebelkan dirinya ustadz telah menjadikan perempuan sebagai second class serta memodifikasikan perempuan dalam isi materi ceramahnya.

Padahal, Islam sendiri mengangkat derajat perempuan bahkan kedudukannya setara dengan laki-laki, tak ada yang lebih mulia antara satu dengan yang lainnya, kecuali hanya ketakwaannya. Perempuan memiliki hak yang sama dengan laki-laki sebagaimana ungkapan al-Quran “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal, baik laki-laki maupun perempuan” (Q.S. Ali Imran: 93).

Begitulah konsep Islam yang sungguh memuliakan perempuan dengan begitu indah. Namun anehnya, konsep Islam dalam memuliakan perempuan ini tidak tergambar dalam sikap ustadz tersebut. Nampaknya, gelar ustadz dapat disematkan kepada siapapun dengan sesuka hati. Ustadz yang dahulu bertugas mengajar ajaran agama, kini seperti kehilangan standar. Tidak heran, selalu ada saja kita temui ajaran kebencian, kemarahan, dan pelecehan dari seorang yang didukung sebagai ustadz.

Di Indonesia sendiri, kesadaran atas pelecehan seksual baik verbal maupun non-verbals masih sangat minim. Sapaan dan percakapan yang menjurus ke intensi seksual diakui pernah diterima sejumlah perempuan, tetapi sedikit yang menyadari hal tersebut masuk kategori pelecehan. Dari hasil Survei Pelecehan Seksual di Ruang Publik dengan persentase sebanyak 64 persen dari 38.766 perempuan, 11 persen dari 23.403 laki-laki, dan 69 persen dari 45 gender  lainnya  pernah  mengalami  pelecehan  di  ruang  publik. Kebanyakan dari korban mengaku bahwa mereka pernah mengalami pelecehan yang diterima secara verbal, yaitu komentar atas tubuh sebanyak 60 persen, fisik seperti disentuh  sebanyak  24  persen  dan  visual  seperti  main  mata  sebanyak  15  persen.

Walaupun hasil survei tersebut sudah terbit, tetapi masih banyak masyarakat yang belum aware mengenai isu tersebut. Hal ini dikarenakan adanya stereotip gender yang dibentuk oleh patriarki sehingga menimbulkan makna ganda, yaitu catcalling sebagai candaan dan catcalling sebagai pelecehan seksual.

Sementara, mengenai para pelaku pelecehan, Robin Stern seorang psikolog dan direktur rekanan dari Yale Center for Emotional Intelligence mengungkapkan bahwa terdapat orang-orang yang mendapat kesenangan dari melecehkan orang lain, termasuk perempuan. Dengan menyinggung lawan bicaranya, orang-orang tersebut, merasa lebih berkuasa. Hal ini sesuai dengan apa yang diungkapkan Aa Gym dalam rekaman yang sama setelah mengatakan istilah “turun mesin”. Dengan bangganya, ia membenarkan bahwa ungkapan itu sebagai bentuk kecintaannya.

Padahal sebenarnya Tidak ada yang mengharapkan seorang yang membawa citra agama seperti usadz, tega melakukan penyimpangan di hadapan para jamaahnya sehingga membuat penyimpangan sosial, termasuk pelecehan seksual secara verbal menjadi halal di tengah masyarakat.

Maka dari itu, adanya isu Aa Gym dengan menggunakan istilah “turun mesin” merupakan bagian dari melecehkan perempuan secara verbal. Aa Gym yang notabanenya sebagai penceramah dan dai kondang (kala itu), bukan haanya sebatas menjaga hati, tetapi juga menjaga perkataan dan jangan nodai perempuan.

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…
Berita

Amal Baik Tidak Menggugurkan Kewajiban Shalat

Shalat lima waktu adalah ibadah wajib bagi setiap Muslim. Printah ini mutlak sebagai bukti pengabdian hamba kepada Tuhannya, tak bisa digugurkan dengan…