Dunia IslamKolom

Kezuhudan Sufi yang Disalahpahami

3 Mins read
Kezuhudan Sufi yang Disalahpahami sufi ibnu taimiyah

Stigma masyarakat terhadap pasif bersosial dan menjauhi dunia menjadi impresi sufi. Pasalnya, ajaran tasawuf kerap ditengarai bertolak belakang dengan modernitas dan kemajuan ekonomi. Padahal, orang kaya maupun orang miskin, keduanya bisa menjadi zuhud. Oleh karena itu, stigma masyarakat demikian mesti diluruskan agar tidak ada kesalahpahaman terkait ke-zuhudan dalam dunia persufian.

Jika ditelusuri dalam kamus KBBI asketisme dapat diartikan sebagai zuhud. Yakni sebuah sikap biarawan atau rahib-rahib yang menyangkal kehidupan dunia dengan harapan bisa menyucikan diri dan kemudian bisa bertemu dengan tuhan. Lantaran konsep asketisme identik dengan zuhud, maka pada gilirannya melahirkan konsep lain yang makna praktisnya yaitu faqr (kefakiran).

Itu sebabnya, tak jarang orang-orang menilai, bahwa jalan sufi untuk mendekatkan diri pada Allah SWT adalah dengan kefakirannya. Berpakaian lusuh, rajin ibadah tanpa memikirkan dunia, hidup murung, dan merasa diri ini tidak mempunyai apa-apa dan hina menjadi perkara runtutan yang harus dilalui para sufi agar kebutuhannya kepada Tuhan kian bertambah sebagai yang maha mencukupi. Sikap demikian pula, bukan berarti tidak ada para sufi yang memuji cara hidup seperti ini.

Dalam buku Haidar Baghir, Mengenal Tasawuf (2019), apa yang menjadi pemahaman kita selama ini bisa jadi kesalahpahaman atas pemaknaan zuhud yang mesti faqr. Nabi pernah bersabda, kefakiran adalah kebanggaanku, tetapi makna yang dimaksud Nabi di sini bukan fakir terhadap harta melainkan sikap merasa fakir (butuh dan bergantung) pada Allah SWT. Lazimnya, ketergantungan ini disalahpahami dengan sikap tawakkal yang hanya berdoa dan shalat dengan banyak rakaat, tetapi mengenyampingkan ikhtiar mengais rezeki, keduanya harus dilakukan dengan seimbang.

Pada dasarnya zuhud merupakan kunci dalam konsep tasawuf. Jika orang miskin dan orang kaya bisa menjadi zuhud, lantas bagaimana konsep zuhud yang sebenarnya? Tentu ini yang mesti dicatat ulang oleh mereka yang terlanjur menengarai zuhud itu harus jauh dari segala nuansa duniawi. Sebab Nabi SAW pernah bersabda, apa yang dimaksud dengan keduniawian itu. Beliau menjawab, segala sesuatu yang menyebabkan kamu mengabaikan dan melupakan Tuhanmu.

Sebagaimana tujuan tirakat para sufi, yakni memperoleh kebahagiaan hakiki dengan menjernihkan jiwanya. Manusia yang dominan sulit untuk mengendalikan hawa nafsunya, cenderung diperbudak oleh kenikmatan dunia tak terkecuali harta, tahta, dan keindahan. Lantaran hal tersebut, ujian kenikmatan yang rentan menjerumuskan manusia pada sikap mengabaikan atau melupakan yang acap kali melibatkan pada wacana anti barang duniawi.

Maka dari itu, hendaknya tidak terkecoh dengan wacana tersebut. Orang yang kaya dapat ber-zuhud dengan kekayaan yang dimilikinya. Yaitu, bersyukur atas kenikmatan yang diterimanya, tetapi tidak pernah lupa bahwa apa yang dimilikinya tidak lain hanya titipan yang mana hak orang lain pun turut berada dalam tanggungannya. Sebab itu, kesadaran untuk senang dalam berbagi dan tolong menolong denga napa yang dimilikinya secara ikhlas tanpa pamrih sekadar mengharap ridha dari Tuhannya. Sikap ikhlas merupakan bagian dari terbebaskannya jiwa dari keterikatan duniawi. Perkara tersebut, barang tentu menjadi jalan ke-zuhudannya.

Syahdan, orang yang miskin juga dapat ber-zuhud dengan kepapaannya. Sebagaimana impresi kepapaan yang lekat dengan para sufi dengan tidak menjadikan ketidakpunyaannya pada harta bagian dari petaka, melainkan rasa syukur atas dihindarinya dari ujian kerentanan materi, terlebih agar diri seseorang kian bergantung pada Tuhannya. Kendati kemiskinan bukan pilihannya, jalan zuhud telah terbentang luas baginya. Namun, tuntutannya sebagai manusia untuk tetap mencari rezeki dengan bekerja harus dipenuhi demi penghidupannya.

Mengutip Sufyan al-Tsauri dalam buku Islam Madzhab Cinta, Cara Sufi Memandang Dunia (2015) mengilustrasikan beberapa tipe orang yang tidak memiliki harta akibat mengabaikan pekerjaan. Orang yang berilmu jika tidak mempunyai penghidupan, tentu akan menjadi wakil bagi kedzaliman dan kesewenangan. Orang yang rajin ibadah yang tidak memiliki penghidupan dapat dipastikan akan memakan dengan agamanya, dan orang bodoh tidak memiliki pekerjaan akan menjadi duta besar bagi kefasikan. Sejatinya, apa yang digambarkan Sufyan al-Tsauri terhadap orang yang tidak bekerja sungguh mengerikan dan bumerang bagi orang lain.

Di antara sufi yang berniaga dan hidup makmur meski tak mengharapkannya, misal Al-Hallaj digelari al-Kazzaz, yang mencari nafkah dengan memintal kapas. Imam Junaidi al-Baghdadi dijuluki al-Qawariri, penjual barang pecah belah, dan masih banyak sufi lainnya yang berbaur dengan masyarakat dan membangun kehidupan mapan yang bermanfaat. Mestinya sufi yang sejati demikian, karena Nabi yang sudah pasti lebih dari sufi tidak membuatnya menyendiri berlama-lama untuk merenung dan gemar dalam berniaga.

Menyangkal adanya stigma masyarakat terhadap ke-zuhudan sufi yang anti duniawi merupakan pemahaman yang tidak kompleks. Salah satu sufi yang cemerlang nan masyhur dalam sejarah perkembangan tasawuf adalah Muhyiddin Ibn ‘Arabi, yang juga dikenal dengan Syaik al-Akbar. Kedermawanan, rendah hati, dan ketinggian ilmunya mengantarkannya pada makrifat. Seorang sufi yang menyibukkan tangannya untuk mengurusi dunia, tetapi hatinya  sibuk mengingat Tuhannya.

Pada akhirnya, dapat dipahami bahwa menjalani kehidupan tasawuf bukan berarti harus miskin harta, yang terpenting manusia belajar untuk membebaskan diri dari belenggu dunia, tahta, harta, keindahan fana dan hatinya hanya terpaut untuk Tuhannya. Bisa jadi seseorang tidak memiliki harta, tetapi hatinya terus memikirkan dunia, lantas menenggelamkan Allah SWT dari hatinya.

Demikian ke-zuhudan sufi yang kebanyakan disalahpahami kaum modernis. Semoga kita dapat terhindar dari kecintaan duniawi yang memberi kebahagiaan fana dan fatamorgana, karena cinta yang murni hanya tertuju pada Tuhan pencipta semesta alam, pemilik kebahagiaan abadi.

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2021)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…