KolomNasihat

Jauhi Trend Mencela Pemimpin

3 Mins read
Jauhi Trend Mencela Pemimpin hater cartoon character writing bad comments social media cyberbullying cyberhate cyberharrasment internet trolling hate speech 335657 79

Mencela presiden atau gubernur terpilih yang sah, awalnya hanya dilakukan oknum buzzer murahan. Namun kini menjangkiti sebagian besar orang awam, yang bahkan tidak mampu membedakan antara tindakan ‘mengkritik’ dan ‘menghina’. Beberapa orang yang saya kenal, belakangan merasa lebih keren dan aspiratif, hanya dengan ikut-ikutan mengomentari presiden secara negatif di medsos, bahkan senang membuat-buat doa yang buruk terhadap pemerintah yang dituduhnya jahat ini. Ada juga yang senang membuat jokes hinaan, yang sama sekali tidak satire. Hal ini cukup membuat saya cukup resah.

Kian maraknya komentar bernada membenci, menghina, mengutuk, dan memfitnah pemimpin yang sah, semestinya membuat kita aware terhadap bahaya pemberontakan yang amat terlarang dalam teologi Islam Sunni. Paling tidak, membuat kita khawatir terhadap dosa lidah dan jempol yang sering dianggap kecil, tapi berkontribusi besar bagi kebangkrutan kita di akhirat kelak. Tidak menutup kemungkinan, dosa yang sedikit demi sedikit dari komentar cacian dan makian yang berlebihan itu, malah menjadi lebih buruk dari kesalahan penguasa yang tampak besar di hadapan publik. 

Tindakan melecehkan, menghina, atau pun mencaci-maki pemimpin tidak pernah dibenarkan, bahkan bagi pemimpin yang buruk sekalipun. Kita cukup mapan dengan pengetahuan ini, sebab sejarah peradaban Islam telah menyimpan sederet nama pemimpin zalim. 

Di antaranya, Al-Hajjaj bin Yusuf, seorang Khalifah yang kejam dan korup di era dinasti Umayyah. Namun nyatanya,  ulama besar yang begitu dihormati karena kesalehan dan kemuliaanya di zaman itu, seperti Umar bin Abdul Aziz dan Ibn Sirin, kerap memperingatkan orang-orang agar tidak mengutuk dan mencaci makinya secara berlebihan. Sebab, Al-Hajjaj memiliki hak kepemimpinan yang harus dihormati. Melontarkan cacian dan makian tidak menghasilkan apa-apa selain tumpukan dosa, hal itu bisa lebih merugikan daripada perbuatan pemimpin terhadapnya.

Tercatat dalam kitab al-Zuhd wa al-Raqaiq (h. 667), Ribah bin ‘Ubaidah pernah ditegur Umar bin Abdul Aziz, ketika ia mendengar nama al-Hajjaj disebut,  kemudian tidak tahan untuk tidak mencaci dan mengutuknya. Umar berkata, “tenanglah wahai Ribah! Sesungguhnya, aku telah mendengar bahwa seseorang yang disakiti dengan kesalahan besar, lalu dia terus mencerca dan meremehkan penindasnya. Sampai dia kehilangan haknya, dan dia berhutang lebih banyak kepada penindasnya.”

Bagaimanapun, dosa sendiri akan lebih buruk bagi seseorang di akhirat, dibanding kejahatan penguasa yang ditemuinya di dunia. Al-Qusyairi mencatat dalam risalahnya (1: 291), tentang seorang bernama Awf yang mulai membicarakan kesalahan-kesalahan khalifah Al-Hajjaj di rumah Ibnu Sirrin. Tidak lama kemudian, Ibnu Sirin segera berkata, “sesungguhnya Allah SWT adalah hakim yang adil. Sama seperti dia menjatuhkan hukuman terhadap Al-Hajjaj, dia akan memberikan keputusan yang mendukung Al-Hajjaj. Jika kamu menemui Allah besok, dosa terkecil yang Anda lakukan akan lebih buruk bagimu, daripada dosa terbesar yang dilakukan Al-Hajjaj terhadapmu.” 

Tidak diragukan lagi, segala macam celaan dan kutukan yang hanya bermodal lisan, dapat menjadi bumerang yang akhirnya merugikan diri sendiri di dunia maupun di akhirat. Dalam sebuah hadis, Aisyah RA pernah ditegur Nabi SAW, karena berdoa bagi kerugian pencuri yang telah mencuri barangnya. Beliau bersabda, Jangan meringankan dosanya (HR. Abu Dawud). Menurut penjelasan Al-Subki dalam syarahnya, “kutukan dan pencurian akan ditimbang pada hari kiamat. Jika kutukan lebih rendah dari pencurian, kejahatan pencuri berkurang dan hak-hak yang tersisa akan dikembalikan kepada korban. Jika pencurian lebih rendah dari kutukan, pencuri akan mendapatkan haknya yang tersisa dari orang yang mengutuknya.”

Ulama yang shalih selalu mengingatkan agar senantiasa memperhatikan dosa sendiri. Dosa pribadi bisa jauh lebih buruk dampaknya bagi diri sendiri, daripada kesalahan penguasa terhadapnya. Jangan sampai kita termasuk orang yang, sebagaimana ditulis al-Qusyairi, kehilangan seluruh catatan amal baiknya di Yaumul Hisab dan bertanya-tanya, “di mana shalatku? Dimana puasaku? Di mana tindakan ketaatan saya?” Lalu dikatakan padanya “Hilang semua amal baikmu karena kamu memfitnah manusia! ” 

Adapun pemimpin yang tidak disukai karena penyimpangan yang dilakukannya, kita perlu mengingat jawaban Nabi SAW, ketika ditanya bagaimana cara melawannya. ‘Auf bin Malik, meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “…Jika engkau menemukan sesuatu yang dibenci dari mereka, engkau harus membenci tindakan mereka tetapi jangan menarik tanganmu dari ketaatan” (HR. Muslim). Tentu saja, membenci tindakan kejahatan atau pelanggarannya, terpisah dari siapa pelakunya, akan menjadi kritik yang relevan dan mencerahkan. Sedangkan, komentar ejekan dan celaan terhadap seorang pemimpin hanyalah sampah timeline bernilai dosa, yang semestinya dijauhi.

Penting untuk disadari bersama, kekerasan verbal kepada pemimpin yang terus dipublikasikan dan menyebar dengan mudah, pada akhirnya mengarah pada perpecahan dan perang saudara, yang malah menghasilkan situasi yang jauh lebih buruk daripada kepemimpinan yang tidak disukai itu sendiri. Kekerasan verbal, berupa fitnah, hate comments, hoax, akan mengundang kekacauan, konflik, bahkan pemberontakan. Hal itu akan berakhir lebih buruk dari sekedar peralihan tongkat kekuasaan dari A ke B. 

Pada prinsipnya, seorang Muslim harus mengemukakan komentar atau nasihat yang tulus dan berpengetahuan, dengan ucapan yang tenang dan terukur. Dalam al-Quran, Allah SWT mengutus Nabi Musa AS dan Harun AS untuk berbicara kepada Firaun dengan lembut, meskipun dia adalah seorang tiran besar yang mengaku sebagai Tuhan, bahkan memperbudak dan membantai ribuan orang. Allah berfirman, “Maka berbicaralah kamu berdua kepada Fir‘aun dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut (QS. Taha: 44). 

Musa dan Harun berbicara kepada Firaun dengan maksud untuk membimbingnya kepada kebenaran, bukan untuk mengutuknya dan melontarkan serangan verbal yang kejam. Jika Allah SWT telah memerintahkan para nabinya untuk berbicara lemah-lembut dengan salah satu tiran terburuk yang pernah ada di dunia, maka sudah semestinya kita juga bertindak demikian dalam situasi kita saat ini.

Intinya, kekerasan verbal seperti hinaan dan fitnah yang terus dilontarkan, berpotensi merugikan diri sendiri dan berdampak lebih buruk daripada kejahatan penguasa yang dianggap tidak adil itu sendiri. Seorang Muslim harus menyampaikan kritik dan masukannya tanpa menggunakan kekerasan atau mengacaukan masyarakat. Cara yang tepat untuk menyeru pada kebaikan dan melarang kejahatan adalah melalui kata-kata yang mencerahkan, hal-hal positif, kreatif, tanpa menyakiti. Jadi, mari jauhi trend mencela pemimpin!

Pros

  • +

Cons

  • -
Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2021)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…