Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

3 Mins read
Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata tenaga medis covid 19a

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2021). Akibat penambahan jumlah kasus yang melonjak berkali-kali lipat, kamar isolasi di sejumlah rumah sakit pun menjadi penuh, dan tak lagi bisa menampung pasien. Bahkan, ketersediaan oksigen di sejumlah rumah sakit di DI Yogyakarta sudah semakin menipis. Situasi yang semakin hari, semakin menakutkan. Yang mana, situasi hari ini menunjukkan bahwa Covid-19 menjadi suatu kegentingan yang semakin nyata.

Dalam situasi yang sudah genting seperti ini, tetap masih saja ada masyarakat yang tidak percaya akan keberadaan Covid-19. Mereka meremehkan virus ini, padahal sudah banyak korban yang telah membuktikan keganasannya. Selain itu, masih banyak yang mempercayai bahwa pandemi sebagai konspirasi. Bukan hanya itu, mereka pun mempercayai kabar bahwa vaksin telah disusupi chip sehingga enggan untuk divaksin. Isu yang tergolong sangat konyol, namun tetap dipercaya oleh banyak orang, dan merugikan lebih banyak orang-orang yang tengah berjuang melawan pandemi ini.

Kombinasi hoaks yang terus berkembang dengan penanganan yang buruk dari pemerintah ini membuat situasi pandemi di Indonesia semakin genting dan kritis. Tak heran jika muncul istilah herd stupidity. Herd stupidity alias kebodohan komunal dalam mengatasi pandemi Covid-19 sudah lama “tercapai” Indonesia. Hal tersebut disampaikan oleh Epidemiolog dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Pandu Riano yang menyatakan bahwa kondisi tersebut tercipta lantaran masyarakat maupun pemerintah melakukan kebodohan bersama yang memicu lonjakan kasus Covid-19.

Herd stupidity adalah plesetan dari “herd immunity” yang seharusnya menjadi salah satu solusi untuk mengakhiri pandemi Covid-19. Bertolak belakang dengan herd immunity, herd stupidity membuat pandemi semakin menjadi-jadi. Hal ini disebabkan oleh masyarakat yang tetap memaksakan untuk mudik lebaran 2021, kurang ketatnya aturan yang dibuat pemerintah, abai terhadap protokol kesehatan, masyarakat mengalami pandemic fatigue yang membuat mereka lalai terhadap prokes, merasa aman karena sudah divaksin, dan logical fallacy masyarakat terhadap Covid-19.

Yang kemudian berdampak pada lonjakan kasus pasien positif pada gelombang kedua virus corona di Indonesia. BOR (bed occupancy rate) fasilitas kesehatan menipis, mutasi virus semakin cepat, dan angka kematian meningkat. Akibat lonjakan kasus Covid-19 yang semakin tinggi, menyebabkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun drastis sebesar 1,87 persen atau turun 112,25 poin. Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI, Laksono W Widodo menyatakan bahwa penurunan IHSG karena kekhawatiran investor terkait melonjaknya kasus Covid-19 di Indonesia baru-baru ini.

Beberapa regulasi pun telah dibuat pemerintah, baik pusat maupun daerah untuk membatasi aktivitas masyarakat, di antaranya seperti, Surat Edaran Menteri Agama Nomor.13 Tahun 2021 Tentang Pembatasan Pelaksanaan Kegiatan Keagamaan di Rumah Ibadat. Kemudian, Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 14 Tahun 2021 Tentang Perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Berbasis Mikro Dan Mengoptimalkan Posko Penanganan Corona Virus Disease 2019 Di Tingkat Desa dan Kelurahan untuk Pengendalian Penyebaran Corona Virus Disease 2019.

Namun, implementasi di lapangan lagi-lagi tidak berjalan sebagaimana mestinya. Aparat yang bertugas untuk menindak pun, tidak benar-benar memberikan sanksi terhadap para pelanggar prokes. Misalnya, di daerah Pamulang, Tangerang Selatan, saya melihat aparat yang tengah mendatangi sebuah tempat makan yang pada saat itu ramai anak-anak muda yang tengah berkumpul. Saya pikir kerumunan tersebut akan dibubarkan. Ternyata, hanya diberikan sedikit teguran sambil didokumentasikan. Setelah itu, tidak ada penindakan lanjut, yang kemudian tidak memberikan efek jera sama sekali dan kerumunannya pun masih berlangsung pada saat itu juga. Yang lebih parahnya lagi, pemilik kedai tersebut menganggap jika teguran yang diberikan petugas hanya sekadar pencitraan. Kejadian ini memperlihatkan masih minimnya kesadaran masyarakat dan ketidakseriusan aparat dalam memutus angka penyebaran Covid-19.

Situasi ini harus kita lewati bersama dengan kesadaran. Kesadaran bahwa pandemi ini tidak bisa disepelekan. Jangan menunggu virus ganas ini menyerang tubuh kita, atau orang-orang tercinta terlebih dahulu, baru kita menyadari bahwa virus ini benar-benar ada. Beberapa hari ini, teman-teman dekat saya dinyatakan positif Covid-19, dan harus melakukan isolasi mandiri. Di mana, mereka harus merasakan kesakitan dan tidak bisa  ditemani oleh siapapun. Melihatnya saja saya merasa sangat sedih, apalagi membayangkan para pasien yang tengah berjuang di rumah sakit dengan berbagai macam keterbatasan, sungguh ini sangat mengiris hati. Tentu kita tidak ingin ini terjadi kepada keluarga, teman, dan orang-orang sekitar kita.

Mendekati Hari Raya Idul Adha, semoga kita dapat menahan diri untuk tidak melakukan kerumunan, baik itu ketika beribadah, maupun melakukan kegiatan lain. Dengan demikian, kegentingan ini harus kita atasi dengan kesadaran untuk menjaga diri sendiri dan orang-orang tersayang. Selain memperkuat fasilitas kesehatan, para tenaga kesehatan yang selama ini berjuang pun harus kita pikirkan. Maka dari itu, mari tingkatkan kesadaran dengan cara mematuhi protokol kesehatan.

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…
Kolom

Eksploitasi Teroris Terhadap Anak-Anak

Selain dijadikan sebagai simpatisan milisi, dalam beberapa survei dan keterangan penyintas anak-anak dijadikan sebagai istri dan dieksploitasi oleh beberapa anggota teroris. Tidak hanya terjadi di kelompok-kelompok besar, seperti ISIS, Al-Qaeda, dan Boko Haram namun juga terjadi di kelompok kecil yang tersebar dari berbagai negara, dimana anak-anak rentan akan perilaku eksploitasi dan kekerasan lainnya.