Kolom

Eksploitasi Teroris Terhadap Anak-Anak

2 Mins read
Eksploitasi Teroris Terhadap Anak-Anak eksploitasi anak

Selain dijadikan sebagai simpatisan milisi, dalam beberapa survei dan keterangan penyintas anak-anak dijadikan sebagai istri dan dieksploitasi oleh beberapa anggota teroris. Tidak hanya terjadi di kelompok-kelompok besar, seperti ISIS, Al-Qaeda, dan Boko Haram namun juga terjadi di kelompok kecil yang tersebar dari berbagai negara, dimana anak-anak rentan akan perilaku eksploitasi dan  kekerasan lainnya.

Menurut Riyan salah satu simpatisan ISIS berasal dari Indonesia,  bahwa anak-anak dijadikan sebagai budak seksual setelah menstruasi pertama. Ungkapan ini sama seperti yang simpatisan ungkapkan dalam buku Returnees Indonesia, Membongkar Janji Manis ISIS. Kecenderungan pasukan teroris ISIS, sangat gemar mengincar perempuan-perempuan muda terlebih wanita belia yang baru menstruasi pertama kali. Perilaku seperti ini, pedofil dimana mereka mengincar anak-anak 14 tahun kebawah terlebih pasukan ini menggunakan ayat-ayat sebagai justifikasi pembenaran terhadap perilaku seperti ini.

Selain itu, juga dikutip dari buku yang sama bawa kekejaman kelompok ISIS sangat tampak dengan kasat mata, dimana mereka membiarkan anak-anak yang berada dalam wilayah mereka bermain dengan mayat dan anggota tubuh mayat yang ada. Dari narasumber yang ada, mengatakan bahwa ia menyaksikan selama ditempat kelompok teroris di Suriah, tidak sedikit anak-anak bermain bola menggunakan bagian kepala dari mayat yang ada, perilaku seperti ini merupakan yang tidak lagi manusiawi lagi. Terlebih anak-anak didoktrin sedemikian rupa, sehingga tidak mengenal akan kemanusian.

Dalam pandangan ilmu kesehatan, wanita yang masih berusia belia sangat rentan terhadap keguguran dan penyakit lainnya. Sehingga wajar apabila banyak korban hasil dari tipu daya kelompok teroris, secara khusus mengalami keguguran dikarenakan kekurangan akan pemahaman dan paksaan dari beberapa anggota teroris. Selain itu, perempuan yang berusia dewasa maupun anak-anak acap kali berganti-ganti suami, hal ini disebabkan pemahaman kelompok teroris seperti ISIS dan lainnya menganggap perempuan tidak lebih dari objek pemuas nafsu belaka.

Perilaku aniaya dan lainnya yang ditampilkan oleh kelompok teroris ISIS, tidak lebih seperti parade kejahatan sangat jauh terbalik jika menganggap mereka sebagai pembela agama. Pembantaian warga, hingga mencuri dari berbagai kelompok merupakan tindakan kriminal bukan hanya dilihat dari sudut pandang hukum positif, namun juga dari sisi agama.

Banyak dari simpatisan ISIS yang berangkat menuju Suriah dan Irak, bukanlah bertujuan membangun negara kekhalifahan, dimana sistem ortodok keagaman menjadi sistem utama. Namun, terdapat keinginan lainnya seperti keuntungan ekonomi, pendidikan, dan pekerjaan. Bisa dipastikan bahwa kelompok teroris, baik pendahulu maupun simpatisan tidak semua beranggapan mereka bisa membangun sebuah negara, namun mereka bisa mendapatkan berbagai keuntungan materiil.

Walaupun kelompok ISIS mengaku sebagai kelompok yang benar-benar menjalankan pelaksana perintah Islam dan Ilahi, justeru tidak pernah melaksanakan perintah wajib dari syariat Islam. Pengalaman ini, acap kali diperlihatkan oleh militer ISIS baik pasukan utama, maupun pasukan simpatisan kepada publik. Sebagai contoh kecil dari persoalan ini, Dira yang merupakan salah satu narasumber yang ikut berbaiat dan hijrah ke Suriah mengatakan bahwa, pernah menemukan MTA ISIS yang tidak mengetahui bahwa shalat subuh merupakan kewajiban seorang mukmin.

Dari pengakuan narasumber yang pernah berangkat ke Irak dan Suriah, membuat kita berpikir tidak masuk akal bahwa masih saja ada orang-orang yang berkeinginan untuk berangkat ke negara yang penuh konflik kemanusian tersebut. Terlebih, mereka rela membawa baik semua hartanya dan keluarga mereka termasuk anak-anak. Jika menggunakan istilah kekinian, mereka yang membawa anak-anak beserta keluarganya tidak ubah seperti seorang germo atau penadah pekerja seksual pada umumnya. Namun doktrin terorisme dan fanatis terhadap keyakinan membuat banyak orang-orang tertipu akan dari peyelewengan dari pemahaman agama tersebut.

Pada umumnya, kelompok teroris yang berafiliasi secara langsung dengan kelompok ISIS, Al-Qaeda maupun yang lainnya tidaklah memiliki rasa kemanusian terhadap orang lain termasuk kepada keluarganya. Akhir kata, keberhasilan doktrinisasi merupakan kunci utama dimana simpatisan ini akan melupakan rasa kemanusiannya dan menjelma sebagai penjahat perang dan lainnya. Terlebih, dari sekian banyak kasus yang terjadi dialami oleh retunees teroris Indonesia adalah kepercayaan dengan kelompok terlalu berlebihan tanpa mendalami terlebih dahulu, sehingga berbuah pada eksploitasi terhadap keluarganya.

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2021)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…