BeritaKolomNgopi

Kunjungan ke NTT, Bukti Presiden Jokowi Dicintai Rakyat

Saat Presiden Joko Widodo berkunjung ke Nusa Tenggara Timur (NTT), warga benar-benar antusias menyambut kedatangan rombongan mobil kepresidenan. Terlihat dalam sejumlah video di media sosial, masyarakat banyak yang bersukacita. Sambutan yang luar biasa menandakan kerinduan warga NTT terhadap Presiden Jokowi. Tak hanya itu, kehadiran Presiden Jokowi ke tempat lain juga senantiasa disambut dengan animo baik warga. Maka dari itu, kunjungannya ke NTT, membuktikan bahwa Presiden Jokowi sangat dicintai rakyat.
Kolom

Jangan Kriminalisasi Nakes

Empat petugas forensik Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Djasamen Saragih, Kota Pematang Siantar, menjadi tersangka dalam kasus penistaan agama setelah memandikan jenazah seorang perempuan berusia 50 tahun, yang berstatus suspek Covid-19. Mereka dijerat dengan Pasal 156 huruf a juncto Pasal 55 ayat 1 tentang Penistaan Agama. Sebelumnya, para petugas nakes tersebut dilaporkan oleh Fauzi Munthe, yang berstatus suami pasien. Dia mengaku tak terima jenazah istrinya dimandikan oleh empat pria yang bukan muhrimnya. Kasus seperti ini bisa disebut dengan kriminalisasi nakes.
KolomNasihat

Jangan Politisasi Makam Gus Dur

Politisi Partai Demokrat Rachland Nashidik melalui akun Twitternya menyebutkan, bahwa makam Gus Dur dibangun oleh negara. Dia mengatakan hal tersebut, karena buntut dari polemik pembangunan Museum SBY-Ani, yang banyak menuai kritik dari kalangan masyarakat. Di cuitannya itu, dia membanding-bandingkan pembangunan makam Gus Dur dengan Museum SBY-Ani. Tudingan Rachland tersebut, melahirkan kekecewaan masyarakat dan keluarga Gus Dur. Maka itu, sebagai manusia kita tidak boleh asbun dengan mempolitisasi makam Gus Dur, demi kepuasan dan kepentingan pribadi.
Kolom

Berantas Tuntas Radikalisme

Nampaknya sulit sekali membasmi paham radikalisme di negeri ini. Setiap pemerintah berhasil membubarkan dan melarang keberadaan organisasi yang berpaham radikal, pasti ada saja individu atau kelompok baru yang memiliki ideologi berbahaya tersebut. Ada pula mereka yang sudah pernah ditindak dan mendapat sanksi hukum, tetapi tak mempunyai rasa jera. Mereka tetap saja berfikir, bahwa paham radikal yang mereka punya adalah ajaran yang paling baik. Maka itu, radikalisme ini harus diberantas tuntas tanpa pandang bulu, sampai ke akar-akarnya.
Kolom

Waspada, Media Sosial Senjata Kelompok Radikal

Di media sosial khususnya Twitter, kita sering menemui kata atau kalimat yang menyerukan penegakan paham khilafah. Bahkan, kalimat tersebut kerap mewarnai tren populer di halaman Twitter. Saat ini, kaum radikal memanfaatkan ruang-ruang siber demi meneror musuh-musuh untuk menyebarkan ideologinya. Kemudian, beredarnya informasi hoaks di sejumlah media, menjadi faktor pendukung untuk menggemukkan dan memperluas aksi-aksi teror yang dilakukan kelompok radikal. Oleh karena itu, kita semua harus mewaspadai penyebaran paham radikal di media sosial yang dilakukan kelompok radikal.
Kolom

Kaum Milenial Harus Mencontoh Nasionalisme Jenderal Soedirman

Panglima Besar Jenderal Soedirman adalah pahlawan kebanggaan bangsa yang terkenal dengan strategi perang gerilyanya untuk melawan musuh pada zaman penjajahan. Walau mengalami sakit parah hingga harus ditandu, dia berjuang tanpa pamrih, tak kenal lelah, pantang menyerah serta rela berkorban demi negara. Moral yang dia miliki tersebut, perlu dijunjung tinggi dengan penuh kebanggaan dan diamalkan dalam berbagai kegiatan kehidupan sehari-hari. Perjuangannya dan namanya akan selalu diingat oleh anak bangsa. Oleh karena itu, kaum milenial harus mencontoh nasionalisme Jenderal Soedirman.
Kolom

Belajar Islam dari Kang Jalal

KH. Dr. Jalaluddin Rakhmat atau yang biasa kita panggil dengan Kang Jalal, telah berpulang ke haribaan Allah SWT. Negeri ini sangat berduka sekali, karena satu per satu tokoh Muslim kebanggaan kita telah pergi. Kang Jalal sangat banyak sekali meninggalkan warisan karya-karyanya. Mulai dari ilmu, pemikiran, hingga buku, utamanya buku-buku bertemakan keislaman. Cendekiawan yang satu ini adalah salah satu pemikir Muslim moderat yang ada di negara ini. Maka dari itu, kita patut memberinya gelar pahlawan Islam. Kemudian, kita juga harus belajar agama Islam dari Kang Jalal.
Kolom

Polri, Tangkap Yahya Waloni

Yahya Waloni telah mengakui, bahwa dirinya pernah dengan sengaja menabrak seekor anjing sampai terpental, hingga pincang, karena dianggap hewan najis. Hal ini membuat masyarakat pecinta hewan geram atas tindakannya. Warga juga menuntut dia untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya tersebut. Kemudian, tidak sedikit publik yang mengecamnya. Perlu kita ketahui, perlakuan Yahya Waloni terhadap anjing tersebut memenuhi unsur penganiayaan terhadap hewan dan dapat dijatuhi sanksi, karena hal itu sudah masuk ke ranah pidana. Maka itu, Polri sebagai instansi yang berwajib, harus segera menyelidiki dan menangkap Yahya Waloni.
Kolom

Jejak Gus Dur Perjuangkan Minoritas Tionghoa

Gus Dur adalah pahlawan yang dijuluki sebagai bapak pluralisme. Pria yang memiliki nama asli Abdurrahman Wahid, sangat peduli dengan keberagaman dalam berbagai hal di negeri ini. Salah satunya, saat menjadi Presiden RI keempat, dia berani mendobrak diskriminasi pada warga Tionghoa. Melalui perjuangannya yang membela warga minoritas Tionghoa, dia pun dijuluki sebagai bapak Tionghoa Indonesia. Dengan sendirinya, sejarah akan mencatat perjuangan Gus Dur dalam membela kaum minoritas, utamanya warga Tionghoa yang saat itu kerap kali mengalami diskriminasi.
Kolom

Penahanan Pentolan FPI, Bukan Kriminalisasi Ulama

Sejumlah pentolan Front Pembela Islam (FPI), berhasil ditahan oleh Kejaksaan Agung RI. Penahanan tersebut merupakan lanjutan kasus kerumunan di Petamburan, pada November 2020 lalu. Hal ini tidak ada kaitannya dengan tindakan kriminalisasi ulama. Tokoh FPI tersebut ditahan, karena harus bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri yang melanggar hukum. Perlu kita pahami, penahanan tersebut adalah murni dari menindaklanjuti perkara kerumunan di Petamburan. Maka demikian, penahanan beberapa pentolan FPI tersebut, bukan bentuk dari kriminalisasi ulama.