Sunan Bonang, Wali Seniman

0
38

Raden Mahdum Ibrahim, putra Sunan Ampel yang dikenal dengan nama Sunan Bonang adalah tokoh Wali Songo yang ulung dalam berdakwah. Ia menguasai beragam bidang keilmuan, termasuk seni dan sastra. Sunan Bonang kerap mengajarkan Islam melalui wayang, tembang, dan sastra sufistik. Karya sufistik yang digubahnya, dikenal dengan nama Suluk Wujil.

Sunan Bonang adalah putra Sunan Ampel dari perkawinan dengan Nyai Ageng Manila, putri Arya Teja, Bupati Tuban. Dalam Babad Risaking Majapahit dan Babad Cerbon, Raden Qasim adalah adik Sunan Bonang, yang kelak menjadi anggota Wali Songo dan dikenal dengan sebutan Sunan Drajat. Sunan Bonang lahir dengan nama Mahdum Ibrahim dan menurut perhitungan B.J.O. Schrieke dalam Het Book van Bonang (1916), Sunan Bonang diperkirakan lahir sekitar tahun 1465 Masehi.

Oleh karena ibu kandungnya yang berasal dari Tuban dan adik kandung ibunya, Arya Wilatikta, menjadi Adipati Tuban, Sunan Bonang sejak kecil memiliki hubungan khusus dengan keluarga Bupati Tuban, yang sampai wafat pun ia dimakamkan di Tuban. Kiai Agus Sunyoto menyebutkan dalam Atlas Wali Songo, kisah hubungan dekatnya dengan Sunan Kalijaga, terlihat dari konteks kekeluargaan, sebab Arya Wilatikta, paman Sunan Bonang adalah ayah dari Sunan Kalijaga, yang tak lain adalah saudara sepupunya.

Dalam hal keilmuan, Sunan Bonang belajar ilmu agama dan pengetahuan umum dari ayahandanya sendiri, yakni Sunan Ampel. Ia belajar bersama santri-santri Sunan Ampel yang lain, seperti Sunan Giri, Raden Patah, dan Raden Kusen. Selain berguru kepada ayahnya, Sunan Bonang juga berguru kepada ayahnya Sunan Giri, yaitu Syekh Maulana Ishak di Malaka.

Pada awalnya, tempat dakwah Sunan Bonang adalah daerah Kediri, yang menjadi pusat ajaran Bhairawa-Tantra, dengan cara membangun masjid di Singkal yang terletak di sebelah barat Kediri. Menurut Babad Daha-Kediri, usaha dakwah Pangeran Mahdum adalah dengan pendekatan yang cenderung bersifat kekerasan, seperti merusak arca yang dipuja penduduk dan mengubah aliran Sungai Brantas dengan ilmu yang dimilikinya. Namun, model dakwah tersebut melahirkan kegagalan.

Dikisahkan dalam Babad Daha-Kediri, Sunan Bonang menghadapi penolakan dari penduduk setempat berupa konflik (dalam bentuk perdebatan dan pertarungan fisik) dengan Ki Buto Locaya dan Nyai Plecing, yang tak lain merupakan penganut Bhairawa-bhairawa di daerah Kediri. Ketidakberhasilannya, sebagaimana dikisahkan dalam Babad Sangkala, saat terjadi kerusuhan di Kediri tahun 1499 J/1577M, Adipati Kediri, Arya Wiranatapada dan putrinya dinyatakan hilang.

Setelah kurang berhasil melaksanakan dakwah di Kediri, menurut Hikayat Hasanuddin, Sunan Bonang pergi ke Demak atas panggilan “Pangeran Ratu” untuk menjadi imam Masjid Demak. “Pangeran Ratu”, kiranya sebutan bagi Raden Patah, kakak ipar Sunan Bonang. Sebutan Sunan Bonang, guru suci yang berkediaman di Bonang, juga berkaitan dengan tempat tinggal barunya, yakni daerah Bonang di Demak. Tidak lama kemudian, jabatan sebagai Imam Masjid Demak ditinggalkan dan Sunan Bonang dikisahkan tinggal di Lasem.

Pada tahun 1402 Saka (1480 M), dalam naskah Carita Lasem, Sunan Bonang tinggal di bagian belakang dalem Kadipaten Lasem, kediaman kakak kandungnya, Nyai Gede Maloka, janda dari mendiang Pangeran Wiranagara, Adipati Lasem. Kakaknya dikisahkan meminta meminta Sunan Bonang untuk merawat makam nenek mereka, Bi Nang Ti dan makam Pangeran Wirabajra dan putranya, Pangeran Wiranegara, mendiang ayah mertua dan suami Nyai Gede Maloka.

Pada usia tiga puluh tahun, menurut Carita Lasem, Sunan Bonang dijadikan wali negara Tuban yang mengurusi berbagai hal terkait agama Islam. Sejak saat itu, ia sering terlihat berada di Tuban. Dalam berdakwah, Raden Mahdum Ibrahim dikenal sering menggunakan kesenian untuk menarik perhatian masyarakat, salah satunya sebagai penemu perangkat gamelan Jawa yang disebut bonang, sejenis alat musik dari bahan kuningan berbentuk bulat dengan tonjolan di bagian tengah, mirip gong berukuran kecil.

Dalam proses reformasi seni pertunjukan wayang, Sunan Bonang dikenal sebagai dalang yang menyebarkan ajaran rohani melalui pagelaran wayang. Menurut Primbon milik Prof. K.H.R. Mohammad Adnan, Sunan Bonang diketahui selain meneliti pengembangan ilmu pengetahuan, juga telah menyempurnakan susunan gamelan atau menggubah irama lagu-lagu, bahkan menambah ricikan (kuda, gajah, harimau, garuda, dan lain-lain) dalam mengembangkan pertunjukkan wayang.

Sunan Bonang yang dikenal memiliki pengetahuan mendalam tentang kesenian dan kesusastraan Jawa, juga diketahui telah menggubah sejumlah tembang macapat. Salah satu gubahan Sunan Bonang dalam tembang macapat yang terpopular adalah Kidung Bonang yang disampaikan dalam pupuh Durma, yang berisi semacam mantra untuk menangkis segala macam penyakit dan pengaruh jahat yang merugikan manusia.

Selain dikenal sebagai ahli penggubah tembang-tembang Jawa, Sunan Bonang adalah guru tasawuf yang diyakini memiliki kekuatan keramat, sebagaimana para wali. Dakwah Sunan Bonang yang disampaikan melalui kesenian ini mendapat banyak perhatian masyarakat. Sebab keuletan dan kegigihannya dalam berdakwah, Ia mampu menjadikan sejumlah penduduk masuk Islam, terutama para ajar (pendeta) di pulau tersebut.

Sebagai seorang Wali seniman, Sunan Bonang telah berhasil menyampaikan dakwah Islam di Lasem. Meski demikian, menurut Sadjarah Dalem, Babad Tanah Jawi, dan Carita Lasem, Sunan Bonang dikisahkan tidak memiliki istri dan putra, yakni hidup tidak menikah atau membujang sampai wafat. Akhirnya, perjuangan dakwah Sunan Bonang wajib kita kenang, dan lanjutkan di era kekinian.[]