Kolom

SBY Jubir Tuhan?

3 Mins read
SBY Jubir Tuhan? 3959422879

Presiden keenam Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kembali mencuri perhatian, setelah memberikan pandangannya terkait tahun 2020 lalu yang menurutnya menjadi tahun yang cukup berat karena adanya pandemi Covid-19. SBY juga mengomentari program vaksinasi yang digalangkan pemerintah ramai diperbincangkan publik. Dalam pandanganya, SBY meminta agar tidak serta merta berharap lebih terhadap vaksinasi. Menurutnya, sikap seperti itu tidak disukai Tuhan. Atas pernyataan itu, banyak pihak menilai, apakah SBY telah jadi jubir Tuhan?

Pernyataan SBY dengan membawa nama Tuhan bukan sekali ini saja, pada tahun 2016, melalui akun Twitternya, SBY juga mengkritisi jalannya pemerintahan Jokowi. Ia menuliskan, “Ya Allah, Tuhan YME. Negara kok jadi begini. Juru Fitnah dan hoaks berkuasa dan merajalela. Kapan rakyat dan yang lemah menang?” Kritik ini menjadi tidak pantas keluar dari seorang SBY, yang notabene adalah seorang mantan Presiden. Dalam hal ini, menurut pandangan saya SBY telah menurunkan kualitas dirinya sebagai seorang mantan Jendral TNI.

Tidak salah memang memberi komentar dengan membawa nama Tuhan, itu adalah salah satu cara untuk menarik simpati dan meyakinkan orang. Namun jangan seolah SBY paling tau apa yang Tuhan sukai. 10 tahun SBY memimpin Indonesia periode 2004-2014 bukan tanpa celah. Era kepemimpinanya negara ini juga tidak mendapatkan kejayaanya. Malahan kita saksikan banyak proyek-proyek mangkrak bernilai triliunan yang merugikan negara. Seperti proyek jalan tol Pemalang-Semarang, jalan tol Comanggis-Cibitung, jembatan Merah-Putih Ambon, Bandara Kertajati, dan proyek listrik, yang semuanya selesai era Jokowi. Lalu pertanyaannya, apakah Tuhan juga suka yang mangkrak-mangkrak itu?

Tak hanya soal proyek-proyek yang mangkrak, sederet isu kontroversi era SBY juga tak bisa diabaikan begitu saja. Kasus penyelamatan Bank Century pada November 2008, kasus kriminalisasi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang memunculkan sebutan “cicak vs buaya”, dan kasus mafia pajak yang melibatkan sosok Gayus Tambunan, serta kasu-kasus lainnya yang tak berujung.

SBY boleh saja mengkritisi pemerintah, namun juga mesti bercermin diri, sudah sesempurna apa dulu kepemimpinannya? Jangan terus mengkritik, padahal dulunya lebih bobrok. Memberi pandangan seolah mewakili suara Tuhan memang epik, akan tetapi sejarah tidak bisa dibohongi begitu saja. Seperti pendapat Abraham Lincoln yang mengatakan bahwa, “Anda bisa menipu semua orang sementara waktu, dan beberapa orang sepanjang waktu, tetapi anda tidak bisa menipu semua orang sepanjang waktu.”

Artinya, SBY sebagai sosok yang pernah menjadi orang nomor satu di negeri ini, tidak lantas kemudian seakan-akan urusanya dengan rakyat telah selesai dan urusan Tuhan ia mengetahui betul. Memori-memori kelam zaman kepemimpinanya masih jelas tergambar. Dengan pernyataan membawa nama Tuhan bukan berarti otomatis terhapus kesalahannya pada bangsa ini. Atau bahkan merasa dirinya telah paling suci dan bersih dari dosa, lalu dengan bangganya mengatakan ini Tuhan tidak suka, ini Tuhan suka. Atas dasar apa SBY berkata seperti itu? Sepanjang ingatan saya, tidak pernah sekalipun terdengar kabar, ulama atau habaib mengatakan hal demikian.

Sikap demikian itu menunjukkan SBY tidak memahami keadaan masyarakat saat ini. Ia hanya mengawang-awang pandangan dirinya tanpa mempedulikan keadaan bangsa dan negara. Sama sekali ini tak patut untuk dicontoh. Vaksinasi adalah bagian dari ikhtiar pemerintah untuk membangkitkan serta memulihkan kesehatan dan perekonomian nasional. Sudah selayaknya kita sambut dengan gembira dan optimisme. Tidak ada yang berpendapat bahwa semua datang dari langit begitu saja. Tidak ada pula yang berfikiran setiap peluang baik datang tanpa campur tangan Tuhan, tidak. Sebagai bagian dari ikhtiar, kita meyakini vaksinasi dapat menjadi obat penangkal Covid-19 ini, lalu kemudian kemudian menjadikan ekonomi akan bangkit dan meroket, kita harus yakini itu.

Saya rasa tidak ada yang salah dengan sikap optimisme, sebab Tuhan juga tidak suka terhadap kaum yang berputus asa, seperti tersirat dalam al-Quran surat Yusuf ayat 87. Dan juga, sikap optimisme serta keyakinan itu adalah bukti kita masih percaya pada Tuhan. Bila sikap semacam ini menurut SBY Tuhan tidak sukai, lantas sikap seperti apa yang disukai Tuhan? Sangat tidak elok seorang mantan Presiden banyak mengkritik kebijakan Presiden yang menggantikannya. Apalagi kritikannya bernada menghasut rakyat untuk tidak yakin pada kebijakan pemerintah, itu semakin menunjukkan dirinya bukan elite politik yang telah dewasa.

Ketimbang menjadi jubir Tuhan, yang belum tentu kebenarannya, SBY seharusnya dapat menjadi pengayom untuk meyakinkan rakyat agar mendukung dan tidak mempersulit vaksinasi. Ini menjadi penting, melihat di luaran sana masih ada sebagian kelompok yang menolak untuk di suntik vaksin Covid-19. Padahal, angka kasus penyebaran Covid-19 hingga kini terus meningkat, per Selasa (12/1/2021), kasus positif Covid-19 di Indonesia bertambah sebanyak 10.047 orang. Dengan demikian, total kasus positif terinfeksi virus corona menjadi 846.765 orang. Sementara itu pasien yang meninggal bertambah 302, total menjadi 24.645 orang. Itu adalah angka yang sangat memperihatinkan.

Kita semua berharap, dengan ikhtiar vaksinasi pandemi segera berakhir, kehidupan kembali normal seperti sediakala, tidak lagi khawatir terpapar virus Covid-19. Semua pihak harus saling bekerja sama, saling bahu-membahu, mengingatkan satu sama lain bersatu mensukseskan vaksinasi yang telah lama dinanti, agar pandemi ini lekas tersudahi.

Sikap SBY pun sebagai orang yang telah berpengalaman memimpin negara ini, menghadapi rakyat dari Sabang sampai Merauke harus berubah. SBY harus tunjukkan, bahwa ia sosok negarawan sejati yang bijak dan mampu menjadi teladan yang dapat merangkul semua kalangan untuk bersama-sama mensukseskan upaya pemerintah memulihkan ekonomi dan kesehatan nasional. Jangan lagi bersikap sok religius dan merasa paling dekat dengan Tuhan. Setiap kritiknya, hendaklah yang  santun dan membangun, tidak lagi meresahkan masyarakat. Namun bila sikap SBY segala-galanya seolah menyampaikan pesan Tuhan, mungkin SBY telah jubir Tuhan?

Related posts
Kolom

Demokrat Sudah Menjadi Partai Dinasti Bukan Demokrasi

Peralihan kekuasaan, posisi Ketua Umum (Ketum) Partai Demokrat (PD) dari orang tua ke anak, menjadikan organisasi tersebut dicap sebagai partai dinasti. Pada umumnya di negeri ini, partai-partai menganut sistem demokrasi. Namun, apa yang dilakukan PD telah melukai sistem demokrasi partai. Awalnya hal itu terjadi, karena dipilihnya secara aklamasi Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) pada Kongres ke-V PD tanggal 15 Maret 2020. Maka itu, terlihat sekali bahwa PD sudah menjadi partai dinasti, bukan lagi demokrasi.
KolomNasihat

Diskursif Agama dan Negara Kontemporer

Gelombang populisme Islam menguat sejak kran reformasi dibuka. Berbagai arus aliran Islam transnasional masuk dan menginfiltrasi kaum Muslim Indonesia. Negara penganut Islam…
BeritaKolom

Zuhairi Misrawi, Jubir Arab Saudi

Tersebar berita, bahwa Kiai Zuhairi Misrawi atau yang akrab disapa Gus Mis ditunjuk oleh Presiden Jokowi sebagai Duta Besar Indonesia untuk Arab…