Resolusi Jihad Santri Melawan Kepandiran

0
42

Santri dikenal sebagai komunitas etik yang lahir dari norma agama dan kearifan lokal yang terlembaga dalam tradisi pesantren. Dalam istilah Nur Syam (2007), santri adalah kalangan yang didasarkan pada kualifikasi ketaatan beragama.

Pesantren sebagai barak penggemblengan santri, lahir sejak Islam pertama kali masuk ke Nusantara. Peradaban pesantren adalah akumulasi dari hasil karya manusia yang kreatif dan inovatif. Pesantren mengambil peran dalam pelembagaan ajaran agama yang berakulturasi dengan kearifan lokal. Tidak hanya transfer ilmu, pesantren juga menjadi tempat penggemblengan nilai, spiritual, dan mental. Sejak itu proses Islamisasi di Nusantara berlangsung massal.

Tidak melulu intelektual, kaum santri tercatat berkontribusi dalam bela negara. Pada 22 Oktober 1945—kini diperingati sebagai Hari Santri Nasional— Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa monumental yang kemudian dikenal dengan Resolusi Jihad. Atas dasar fatwa ini, terjadilah pertempuran 10 November yang melibatkan ribuan santri dan kalangan sipil. Resolusi tersebut berisi penegasan sikap untuk mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia dari Belanda dan sekutunya. Dalam pandangan dunia internasional, kemerdekaan Indonesia saat itu belum seutuhnya diperhitungkan.

Potret tersebut sepatutnya bisa menjadi suntikan semangat bagi santri untuk semakin peka dan mau mengabdi kepada umat dan bangsa. Musuh nyata tapi tak berwujud yang kita hadapi saat ini ialah kebodohan.

Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat rendah. Hanya 0,001% yang artinya tiap 1000 orang Indonesia cuma 1 orang yang gemar membaca. Adapun menurut riset yang bertajuk World’s Most Literate Nation Ranked, dari 61 negara, Indonesia menempati posisi ke-60 terkait minat baca.

Fakta ini sangat memprihatinkan sekaligus memalukan. Buku dan pena adalah senjata utama untuk memberantas kepandiran. Ilmu bak pelita untuk menyongsong kegemilangan peradaban. Banyak dalil agama yang menyatakan keutamaan ilmu dan empunya. Sedangkan ketidaktahuan adalah perkara yang menyiksa, bahkan ia terdefinisi sebagai perihal yang hina.

Sayyidina Ali Pernah berujar, “Tidak ada musuh yang lebih zalim dari kebodohan”. Ada satu riwayat hadis dari al-Haddad yang berbunyi, “Ketika menciptakan kebodohan, Allah memanggilnya, ‘Majulah!’ Kebodohan itu justru mundur. Sebaliknya, ketika Dia memintanya untuk mundur, ia malah maju. Allah lalu mengatakan, “Demi kemuliaan-Ku, Aku tidak menciptakan makhluk yang paling Kubenci selain dirimu. Aku jadikan dirimu seburuk-buruk makhluk-Ku.”

Kebodohan merupakan neo-kolonialisme yang jauh lebih berbahaya dari penjajahan fisik. Kebodohan akan membawa kita pada kehancuran dan semakin menjauhkan dari kontestasi percaturan global. Wabah minat baca rendah yang melanda masyarakat negeri ini adalah ladang jihad yang potensial untuk digarap oleh santri. Melalui Resolusi Jihad, Kiai Hasyim Asy’ari telah mewariskan semangat menolak segala bentuk penjajahan dan penindasan.

Saat ini, santri harus membentuk kesepahaman untuk gugur gunung menangani problematika ini. Kekayaan khazanah intelektual dan spiritual yang telah ditempa di pesantren adalah modal kuat untuk mendidik dan membersamai masyarakat agar keluar dari jerat kebodohan. Selama ini, “kaum sarungan” terbukti masih menjadi barometer moralitas umat Islam. Hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat masih menaruh kepercayaan kuat pada santri dan pesantren.

Hari ini kita dihadapkan dengan anomali, di mana kebebalan berpikir dianggap kaprah dan seseorang yang membaca buku dipandang kolot. Kaum santri tak boleh tinggal diam melihat penyimpangan dan krisis sosial ini.

Ada satu pepatah Arab yang mengabarkan bahwa istirahat tempatnya di surga. Pernyataan ini menyentil siapapun yang masih berusia untuk tidak berhenti berjuang. Karena harga diri hidup terletak pada perjuangan. Jihad melawan kepandiran dengan penguatan literasi adalah upaya yang harus senantiasa digelorakan sepanjang masa. Wallahu a’lam.