Kolom

FPI Tidak Agamis, Tapi Kelompok Islamis

4 Mins read
FPI Tidak Agamis, Tapi Kelompok Islamis FPI 3

Mari kita coba menghanyutkan diri dalam lagu Michael Jackson “Heal the World”. Lagu ini dirilis pada 23 November 1992 itu mengandung syair istimewa, terutama yang berbunyi…create a world with no fear together we’ll cry happy tears…, yang berarti ciptakan dunia tanpa rasa takut bersama kita akan menangis bahagia. Pesan memukau yang disampaikan Michael Jackson demikian cemerlang, demikian terang.

Jauh tahun sebelumnya, di Madinah, lebih dari 1300 tahun silam, Nabi Muhammad SAW. membangun pemerintahan Islam sebagai agama masa depan yang menjunjung tinggi peradaban kemanusiaan. Agama yang merupakan fondasi utama dalam mewujudkan negara demokratis, di mana kebebasan, kesetaraan, persamaan hak asasi, dan keadilan, dapat terus berkembang. Meski istilah demokratis baru dikenal pada saat revolusi Amerika (1776) dan revolusi Perancis (1789).

Konstitusi pemerintahan Nabi dituangkan dalam apa yang kita kenal sebagai Piagam Madinah. Antara orang-orang beragama dan seluruh umat Islam, baik dari kalangan Muhajirin, maupun Ansor, serta siapapun yang turut mengikuti, menyusul, dan berjuang bersama-sama adalah satu umat. Di sini Nabi membentuk konstitusi yang mengakui adanya kepentingan bersama, tanpa memandang suku, golongan, ras, etnis, agama dan lain sebagainya. Nabi tidak membangun negara agama dan menyingkirkan agama-agama lainnya.

Nabi tentu representatif agamis dengan ajaran Islam. Nabi juga sosok yang dapat mempersatukan pelbagai perbedaan. Orang yang memeluk Islam sebagai agama kebenaran, siap membela Nabi dalam pertempuran. Namun, dengan tegas Nabi menyatakan bahwa Islam adalah agama yang mengedepankan dan menjunjung tinggi perdamaian.

Rasanya kita patut mempertanyakan kepada diri sendiri, sebenarnya apa makna agama? Mengapa perilaku orang beragama banyak menciptakan ketakutan terhadap orang-orang yang berbeda. Kekakuan, kekerasan, ekstremitas dan teror seringkali digaungkan oleh orang-orang beragama. Dengan memekikkan kalimat suci “takbir” seraya mencaci, memaki, bahkan membunuh, sama sekali bukan ajaran orang-orang beragama. Banyak kesalah-kaprahan dalam keberagaman kaum muslimin pada khususnya terhadap agama yang dipeluk dan seringkali tidak imbang dengan semangat keberagamaan yang berkobar-kobar. Ini masih ditambah dengan lemahnya semangat belajar tentang agamanya itu akibat rasa mapan dan aman (KH. A. Mustofa Bisri, 2016: 8-9).

Agama yang seharusnya merupakan kekuatan nilai-nilai perilaku sosial, justru diputarbalikkan oleh pelaku yang berjubah agamis untuk membuat konflik horizontal dengan apa yang disebut radikal. Front Pembela Islam (FPI) misalnya. Sejak organisasi ini lahir tahun 1998, pelbagai aksi kontroversialnya, yakni merazia, mengancam warga negara tertentu, sweeping, konflik dengan organisasi lainnya, bentrok dengan penduduk serta warga, dan seterusnya.

Perilaku FPI bukan perilaku agamis. FPI adalah ormas yang hanya berkutat pada Islam politik atau kita sebut sebagai kelompok fundamentalisme Islam (Islamic fundamentalism) dan tidak agamis akibat tindakan yang dilakukan sama sekali tidak mencerminkan sebagai orang yang beragama. Paling mutakhir, HRS dan menantunya membenarkan pemenggalan kepala.

FPI hanya organisasi “Islamis” dan bukan sebagai organisasi “agamis”. Maka tidak aneh, unsur politis, kebencian, dan caci-maki keluar dari mulut tercela yang mendoakan buruk terhadap orang lain dan menghinakan seorang perempuan di acara Maulid Nabi dua pekan lalu. Mengapa saya memetakan antara kelompok Islamis dan seorang agamis? Masyarakat agamis lebih bersifat membangun kedamaian penuh cinta. Sementara masyarakat Islamis lebih pada politik primordial yang ambivalen.

Istilah “Islamis” acap kali digunakan oleh orang-orang sekuler untuk menunjuk mereka yang memperjuangkan Islam dalam konteks politik, persis ketika Emmanuel Macron presiden Perancis dalam pernyataannya yang menunjuk ekstrem Islamis terhadap pelaku pemenggalan seorang guru pada bulan lalu. Tidak salah jika kaum sekuler melabeli dengan istilah itu berdasarkan apa yang mereka lihat. Para pemimpin Islamis politik juga menggunakan istilah itu dewasa ini. Kelompok al-Jama’ah al-Islamiyyah Mesir dan Jemaat-e-Islami Pakistan.

Belum lagi Partai al-Islah di Yaman menyebut mereka sebagai partai islami, Islamic Salvation Front (Front Penyelamat Islami) di Aljazair, Gerakan Islamis Zaidi Houthi Yaman, Revolusi Iran disebut dengan istilah revolusi Islami, dan seterusnya. Maka FPI di Indonesia pun kita baca sebagai kelompok Islamis. Apalagi dakwahnya yang kaku dan keras, dan belakangan mengancam memenggal orang lain serta mengandung unsur politik dan kebencian yang menghinakan orang lain.

Sebelum kaum sekuler, secara terminologi, sebenarnya Islamis merupakan istilah yang sudah lama. Untuk membuktikan istilah itu telah lama didengungkan, saya hanya mengutip judul kitab yang ditulis oleh rujukan akidah mayoritas umat Islam dan FPI sendiri, yakni Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari. Kitab ini diberi judul Maqalat al-Islamiyyin (Keyakinan Kaum Islamis).

Walaupun terminologi yang dimaksud Imam al-Asy’ari dan dalam konteks apa Imam al-Asy’ari menggunakan istilah ini, mungkin beragam definisi dan berbeda jika dikontekstualisasikan sekarang ini. Imam al-Asy’ari menggunakan istilah ini untuk menggambarkan setiap sekte—Murji’ah, Mu’tazilah, Jahmiyyah, Imamiyyah, Mufaddilah, Rafidhah, Zaidiyyah, Mughiriyyah, Khitabiyyah, Mansuriyyah, Khawarij dan seterusnya—yang mengklaim diri mereka paling Islam atau Muslim yang tentunya juga paling agamis.

Pada intinya, Imam al-Asy’ari sangat percaya bahwa tidak semua Islamis adalah Muslim, dan seorang Muslim memiliki derajat yang lebih tinggi daripada seorang Islamis. Mungkin jelas berbeda penggunaannya dewasa ini. Akan tetapi seorang Muslim tentu bersaksi bahwa tiada Tuhan yang layak disembah kecuali Allah SWT. dan Nabi Muhammad SAW. adalah Rasulullah. Kemudian beriman dan mempertanggungjawabkan setiap ucapan dan tindakan yang kita lakukan.

Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan dan berkata, “Sungguh, aku termasuk orang-orang Muslim (yang berserah diri)?” (Q.S. Fushilat [41]: 33).

Seorang Muslim tentu akan berperilaku agamis inklusif. Syahadat, shalat, puasa, zakat, dan haji, seorang Muslim agamis yang berserah diri kepada-Nya, semestinya tertransendensi juga dalam akhlak kesalehan sosial. FPI yang menggunakan dakwah melalui metode amar makruf nahi munkar, lebih condong ke nahi munkar saja. Dakwah berarti mengajak pada kebaikan. Orang yang mengajak tentu tidak memaksa, apalagi memerintah. Dakwah merupakan sebuah ajakan yang bernuansa romantik dan bersifat merayu bagai seorang suami mengajak istri yang dicintainya. Karena agama bukan sebuah hubungan antara atasan dan bawahan yang bersifat perintah.

FPI sering kali mengumandangkan nama Tuhan, tapi tidak menghadirkan Tuhan. Agama telah mengalami disrupsi oleh karena perilaku umatnya yang bersifat destruktif. Kelompok Islamis seringkali menampilkan wajah Islam yang cemberut terhadap perbedaan. Bagi mereka, agama merupakan derita dan ketertindasan. Padahal agama adalah pembebasan, ketenangan, dan kedamaian yang menyejahterakan.

Tidak mungkin terwujud keadilan dan kesejahteraan tanpa adanya ketenangan dan perdamaian. Tentu demi tegaknya tonggak perdamaian, diperlukan toleransi, tenggang rasa, gotong royong, dan saling bahu membahu membantu sesama. Menciptakan model moralitas keislaman agamis yang kontributif pada masyarakat. Bukan sebaliknya islamis—demam politisasi agama—yang tidak pernah lelah dengan konflik serta merogoh kocek si bandar besar untuk ongkos sosial, politik, dan ekonomi yang teramat mahal. Hanya akan merusak agama dari dalam tubuh bagai penyakit kronis yang tak terobati.

Pendeknya, FPI merupakan kelompok Islamis yang miskin. Miskin hati, cinta, dan kasih kemanusiaan. Kenyataannya, seorang yang agamis—ulama, cendekiawan, habib, kiai, dai, mubaligh, dan semua komponen beriman pemuka agama—memiliki tugas yang cukup sederhana, yakni melindungi kehidupan dengan keharmonisan penuh kabut kedamaian, dan tidak menciptakan rasa takut. Maka kita bersama menangis bahagia sebagaimana penggalan bait syair Michael Jackson.

Related posts
Dunia IslamKolomNasihat

Pernikahan di Bawah Umur Bukan Sunnah

Orang-orang yang melangsungkan pernikahan di bawah umur kerap menganggap pernikahannya adalah sunnah Nabi. Praktik ini tak lain berlandaskan hadis Nabi Muhammad SAW…
BeritaKolomNasihat

‘Dakwah’ Berbahaya Yahya Waloni

Bukan satu dua kali gelanggang dakwah negeri kita diisi oleh seorang yang mengaku penceramah, tetapi ucapannya hanya membuat gerah. Kali ini Yahya…
Dunia IslamKolomNasihat

Proses Pengharman Minuman Keras dalam Al-Quran

Larangan minum Khamr atau minumam keras merupakan aturan makan minum yang paling terkenal dalam Islam. Sebagian besar Muslim, sangat aware dengan makanan…