Dunia Islam

Hati-hati Ustadz Pro-Khilafah HTI

2 Mins read
HTI Hati-hati Ustadz Pro-Khilafah HTI Hati-hati Ustadz Pro-Khilafah HTI muktamar khilafah mneaew prv

Di media sosial, bertebaran dakwah tentang doktrin khilafah, khususnya khilafah ala Hizbut Tahrir Indonesia. Para penggiat media sosial, umumnya mengenal beberapa ustadz yang mendakwahkan hal tersebut. Salah satu ustadz yang prok-hilafah ini cukup terkenal, bahkan tak sedikit publik figur yang dekat dengannya, dan akrab bergabung dalam kajiannya.

Publik figur ini cukup kuat peranannya di masyarakat, karena apa yang dilakukan selalu menjadi sorotan. Beberapa akhir ini, tren hijrah yang dilakukan para seleb mengundang anggapan baik, sehingga mendapat tempat di hati masyarakat. Bukti perubahan hijrah tersebut beragam, misalnya berjilbab, menghapus foto di media sosial yang menampakkan aurat, memakai pakaian yang lebih tertutup atau syar’i,  menghapus tato, dan lain sebagainya.

Para fanbase setia yang melihat ini, mereka tak panjang pikir lagi untuk mengikuti trennya. Baik dari tren kisah hijrahnya, gaya pakaian, dan termasuk mendatangi tausiah ustadz yang pernah dikaji oleh artis tersebut. Biar dikatakan tak ketinggalan zaman. Fenomena ini sudah lumrah, anggap saja artis itu bintang ketika malam, semua penduduk bumi dapat melihat karenanya dianggap paling bersinar, dan mereka ingin seperti itu.

Sadar tak sadar, kajian ustadz yang pro-khilafah ini melakukan hal persuasif kepada jemaahnya. Menyisipkan doktrin-doktrin khilafah. Cepat atau lambat akan ada pengaruhnya. Doktrin khilafah berisikan ajakan untuk mempersatukan umat Islam di dunia. Tujuannya menegakkan Syariat Islam yang kemudian dipimpin oleh seorang khalifah. Begitupun, jabatannya khalifah tak dibatasi oleh waktu. Di dalam buku Mengenal Lebih Dekat Hizbut Tahrir [Indonesia], ditegaskan bahwa mereka meyakini bahwa Indonesia akan menjadi pusat Islam, sehingga keuntungannya adalah Indonesia dapat bertambah dan luas wilayahnya. 

Meski populasi penganut umat Islam Indonesia lebih banyak. Namun, tak menjadikannya sebagai negara khilafah. Kita tahu Indonesia adalah negara penuh keragaman. Keistimewaan macam budaya, suku, adat istiadat, ras, bahasa, bahkan agama. Semboyan bangsa Indonesia adalah Bhineka Tunggal Ika, artinya beraneka ragam, tapi tetap satu jua.

Sebabnya, Indonesia adalah satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan, dan para pahlawan kemerdekaan Indonesia berjuang untuk itu. Lalu apa yang terjadi, jika pejuang khilafah menyakini bahwa Indonesia menjadi pusat sistem khilafah.

Antisipasinya kita harus mendukung keutuhan yang menjadi kebanggaan negara. Sebenarnya bukannya melarang mengikuti kajian atau tausiah ustadz khilafah, hanya saja perlu hati-hati supaya tak mudah terpengaruh pada doktrin-doktrin mereka. Mereka yang berpikir untuk memperluas kekuasaan wilayah Indonesia, adalah para pecandu nafsu kekuasaan dan ketamakan dunia.

Memperoleh pengetahuan itu boleh kepada siapa saja. Akan tetapi, perlu adanya filter dan sumber yang valid. Bagi kita yang awam pengetahuan agama, hendaknya memilih ustadz yang sudah jelas keilmuan dan akhlaknya. Saya melihat video ustadz yang mengkampanyekan khilafah ini viral di media sosial, terlihat sedang memberikan dakwah dan membacakan sebuah penggalan ayat al-Quran, namun ia keliru melafazkan dan mengartikan ayatnya.

Bandingkan dengan Prof. Dr. M. Quraish shihab, yang mendapat bintang kehormatan dari Pemerintah Mesir sebagai cendekiawan Muslim Indonesia. Kepiawannya dalam bidang Al-Qur’an tak diragukan lagi sebagai ulama tafsir, pemahaman terhadap hadis dan cabang keilmuan lainnya sebagai syarat mufassir telah ia kuasai. Akhlaknya akrab pula dengan sifat rendah hati. Namun, masih saja ada yang melecehkan dan lebih memuji ustadz khilafah itu.

Miris, melihat cara kebanyakan orang memilih ustadz yang kurang berhati-hati. Dengan hanya mementingkan kepuasan yang ingin didengar. Seyogianya, kepakaran seseorang perlu diperhitungkan sebagai rujukan keilmuan, agar tak salah memilih jalan dan tak sempit pandang.

Pada akhirnya usaha menyaring informasi bertema keagamaan dan memilih ustadz kurang diperhatikan. Jika kepentingan mereka hanya jatuh pada tren, kemungkinan berisiko terdampak pengaruh dari doktrin-doktrin khilafah. karena itu, perlu diluruskan kembali niat dan kehati-hatiannya dalam memilih ustadz.

Related posts
BeritaDunia IslamKolom

Zuhairi Misrawi akan Harumkan Indonesia di Arab Saudi dan Timur-Tengah

Pengamat Timur Tengah, merupakan identitas pertama yang saya kenal dari seorang Zuhairi Misrawi atau yang kerap disapa Gus Mis. Persisnya, perjumpaan awal…
BeritaDunia Islam

Zuhairi Misrawi dari NU untuk Arab Saudi

Intelektual muda NU, Zuhairi Misrawi dikabarkan akan dilantik menjadi Duta Besar Arab Saudi. Ini kabar baik bagi kita semua. Mengingat konsistensi Zuhairi…
Dunia IslamKadrun TVKolom

Aisyah RA Bukan Simbol Pernikahan Dini

Di zaman kita, pernikahan dini menjadi masalah sosial yang cukup serius. Berdasarkan publikasi laporan Pencegahan Perkawinan Anak (2020) yang dirilis Kementerian Perencanaan…