Kolom

Bung Karno Ajari Kita Toleransi Beragama

3 Mins read
Bung Karno Ajari Kita Toleransi Beragama Toleransi bung karno

Bung Karno merupakan bapak bangsa yang telah meletakkan dasar-dasar kuat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Salah satu dasar tersebut ialah perihal toleransi beragama. Sejak awal berdirinya negara ini, Bung Karno telah mencurahkan segala tenaga dan pikirannya untuk membangun fondasi dasar tersebut demi terbentuknya kerukunan beragama antarwarga negaranya. Bagaimana Bung Karno merealisasikan hal itu?

Dalam sejarahnya, Bung Karno adalah seorang Muslim yang taat dan menghargai perbedaan. Ia juga seorang Muslim yang sangat toleran. Meskipun ia seorang Muslim yang taat dan pemimpin negara yang mayoritas warga negaranya Muslim, tetapi ia sangat mencintai keberagaman, menghormati, dan melindungi pemeluk agama lain tanpa terkecuali.

Dalam hal ini, Bung Karno pernah menyatakan bahwa prinsip Bhineka Tunggal Ika sudah sangat jelas mengatur hidup soal toleransi beragama. Ia mengatakan, “Ingat, kita ini bukan dari satu agama! Bhineka Tunggal Ika—Bhinna Ika Tunggal Ika—, berbeda-beda tetapi satu. Demikianlah tertulis di lambing negara kita. Dan tekanan kataku sekarang ini kuletakkan kepada kata Bhinna, yaitu berbeda-beda” (Soekarno, 1965: 207).

Berbekal prinsip Bhinneka Tunggal itulah, setiap tindakan Bung Karno selalu mencerminkan sikap yang toleran dan melindungi pemeluk agama lain. Bagi Bung Karno, semua pemeluk agama adalah sama. Karena itu, ia menolak memberikan perlakuan khusus untuk salah satu pemeluk agama tertentu. Atas dasar itu, tidak heran bila Bung Karno pernah diganjar tiga medali penghargaan dari Vatikan. Ia menyatakan, “Aku orang Islam yang hingga sekarang telah memperoleh tiga buah medali tertinggi di Vatikan” (Prasetyo, 2017: 48).

Sebagai seorang pemimpin bangsa, Bung Karno selalu berupaya untuk melindungi, mengayomi, dan menyatukan semua pemeluk agama. Karenanya, dalam sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 1 Juni 1945, ia menyebut negara Indonesia nantinya adalah negara yang mengayomi semua agama dan golongan. Ia mengatakan, “Kita mendirikan negara Indonesia yang kita semua harus mendukungnya. Semua buat semua! Bukan Kristen buat Indonesia, bukan golongan Islam buat Indonesia, bukan Hadikoesoemo buat Indonesia, bukan Van Eck buat Indonesia, bukan Nitisemito yang kaya buat Indonesia, tetapi Indonesia buat Indonesia! Semua buat semua!”

Lebih lanjut, Bung Karno menegaskan bahwa rakyat Indonesia harus bertuhan secara berkebudayaan, yaitu tiada ‘egoisme agama’. Ia menyatakan, “Segenap rakyat hendaknya bertuhan secara berkebudayaan, yakni dengan tiada egoisme agama. Dan hendaknya negara Indonesia satu negara yang bertuhan! Marilah kita amalkan, jalankan agama, baik Islam maupun Kristen dengan cara berkeadaban. Apakah cara berkeadaban itu? Ialah hormat-menghormati satu sama lain.”

Dari pidato sidang BPUPKI di atas, Bung Karno sebenarnya telah meletakkan landasan toleransi beragama yang sangat kuat. Visi yang diusungnya jauh ke depan, melepaskan sekat-sekat perbedaan suku, golongan, dan agama. Ia juga mendorong untuk melepas egoisme dalam beragama. Artinya beragama jangan merasa paling benar sendiri, tetapi beragama untuk saling menghormati dan bertoleransi.

Lebih dari itu, Bung Karno mengajari kita toleransi dalam beragama tidak hanya melalui mimbar-mimbar pidatonya, tetapi melalui juga pembangunan Masjid Istiqlal. Kok bisa? Sebagaimana disebut Sigit Aris Prasetyo dalam Bung Karno dan Revolusi Mental, dalam membangun Masjid Istiqlal, Bung Karno memilih seorang arsitek Non-Muslim untuk merancangnya. Ia adalah Frederick Silaban, seorang beragama Kristen yang berasal dari Sumatera Utara. Pemilihan arsitek masjid dari kalangan Non-Muslim tersebut menandakan bahwa Bung Karno mengajari kita untuk saling toleran antarumat beragama.

Ajaran toleransi Bung Karno dalam pembangunan Masjid Istiqlal tidak berhenti di sini saja. Pemilihan lokasi pembangunan Masjid Istiqlal yang berada di depan Gereja Katedral memiliki pesan toleransi yang sangat kuat. Bung Karno berharap, dibangunnya Masjid Istiqlal di depan Gereja Katedral adalah untuk membangun semangat toleransi, persaudaraan, dan persatuan yang menjadi jiwa bangsa Indonesia.

Dengan demikian, pembangunan Masjid Istiqlal yang diarsiteki oleh seorang Non-Muslim dan lokasinya yang berada di depan Gereja Katedral merupakan ajaran nyata dari Bung Karno perihal toleransi beragama. Dengan kata lain, pembangunan Masjid Istiqlal tersebut merupakan simbol keharmonisan, kebinekaan, persaudaraan, persatuan, dan toleransi beragama yang menjadi nilai-nilai luhur bangsa.

Maka dari itu, di tengah maraknya perilaku dan dakwah intoleran belakangan ini, sudah seharusnya kita mengingat ajaran toleransi beragama dari Bung Karno. Beragama bukan lagi dengan rasa egois. Beragama bukan lagi dengan benarnya sendiri. Tak elok bila orang beragama dengan mudahnya selalu menyalahkan orang lain dan mengklaim dirinya yang paling benar. Beragama juga bukan lagi dengan penuh rasa curiga dan kebencian, melainkan beragama dengan sikap penuh toleran dan keramahan.

Dalam beragama, kita harus selalu ingat prinsip kebinekaan yang disebut Bung Karno, bahwa prinsip kebinekaan itulah yang menjadikan kita sebagai bangsa dan negara bernama Indonesia, yaitu berbeda-beda tetapi satu. Tanpa sikap saling menghargai, menghormati, dan toleransi antarumat beragama tidak akan pernah kita wujudkan wajah kebinekaan tersebut. Dan itu artinya, tidak akan kita temukan pula wajah keindonesiaan kita yang dikenal sangat plural dan beragam.

Terakhir, ajaran toleransi beragama Bung Karno harus kita jadikan simbol dalam diri kita. Seperti halnya Masjid Istiqlal yang dijadikan Bung Karno sebagai simbol toleransi dalam beragama. Masjid Istiqlal harus selalu diingat sebagai warisan monumen toleransi Bung Karno. Karenanya, Masjid Istilah semestinya dapat menjadi pengingat bagi generasi saat ini sebagai sarana memupuk sikap toleransi, persaudaraan, dan persatuan antarumat beragama yang kian memudar.

Walhasil, Bung Karno secara eksplisit telah mengajarkan kita arti penting tentang toleransi beragama. Hal ini telah diakui oleh berbagai pihak, bahkan hingga kini. Hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) pada 23 Desember 2012, menyebutkan bahawa Bung Karno merupakan presiden Indonesia yang paling toleran. Karena itu, sebagai generasi penerus, tugas kita saat ini adalah melanjutkan tongkat estafet Bung Karno untuk menyemai benih-benih toleransi dalam beragama. Bukan malah sebaliknya, menebar benih-benih intoleransi. Betul tidak?

Related posts
Kolom

Meredam Fanatisme Buta Beragama

Kehadiran Islam sebagai upaya mengentaskan segala kejumudan pikiran dan perbuatan yang tidak manusiawi merupakan ajaran agama yang diyakini kebenarannya. Kendati demikian, fanatisme…
Kolom

UU ITE dan Dilema Demokratisasi Digital

Perbincangan tentang wacana revisi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) yang dicanangkan Presiden Jokowi masih ramai dibincangkan. Ide ini digagas oleh…
BeritaKolomNasihat

Diskursus Politik Kebencian

Dalam dasawarsa terakhir, masyarakat kita disibukkan kemelut politik bernuansa kebencian. Demokrasi sekarang ini mengalami ketegangan politik yang tiada henti menghunuskan pedang kebencian…