Dunia IslamKolom

Sektarianisme Sunni-Syiah Sudah Usang

4 Mins read
Sektarianisme Sunni-Syiah Sudah Usang 5881267bed179 292
Sumber Gambar: https://www.demokrasi.co.id/2019/05/pak-mahfud-janganlah-memancing-mancing.html

Nabi Muhammad SAW. dengan ajarannya yang spektakuler, sama sekali tidak mengenal istilah Syiah maupun Sunni. Gagasan besar Nabi adalah perdamaian, kasih sayang, kesetaraan manusia, dan keadilan. Kegagalan esensi risalah Nabi, membuat seseorang atau kelompok merasa yang paling unggul, yang paling benar, dan paling suci. Bahkan tidak sedikit yang mengikuti jalan setan, bukan Tuhan, dengan sikap arogansi dan pengen menang sendiri sehingga sepeninggalnya Nabi, tidak sedikit peperangan antarsesama Muslimin.

Realitanya sikap arogansi dan merasa benar sendiri, sering kali membawa pada sikap radikal dan intoleran. Tak pelak, sikap itu terimplementasi melalui tindakan diskriminasi, intimidasi, kekerasan, persekusi, dan eksploitasi. Sebagian dari kita lebih menyukai perbedaan dan perdebatan tidak sehat, sampai berperilaku yang tidak semestinya dilakukan oleh orang beriman. Bukannya mencari titik temu demi kemaslahatan bersama.

Persoalan sektarianisme terus meruncing hingga mengoyak rasa persaudaraan Islam. Padahal, Tuhan tidak menghendaki kita satu warna saja. Dalam hubungan keluarga saja, banyak terjadi perbedaan pendabat di antara kakak-adik, suami-istri, atau anak dengan orang tua. Tapi kita dapat menemukan titik temu yang dapat menyatukan keluarga yang kita sayangi demi keharmonisan, kedamaian, dan ketenangan hubungan.

Dalam hal ini, kita perlu bersuara lantang perihal pentingnya persaudaraan sesama Muslim. Ukhuwah Islamiyyah dan cinta kasih, hendaknya lebih di kedepankan. Sebab sepanjang sejarah, Islam pada era keemasannya acap kali saling belajar dan berguru di antara ulama Sunni dan ulama Syiah. Tidak ada pertentangan antara ulama Syiah dan ulama Sunni. Mereka saling berbaur menghidupi keilmuan di berbagai bidang, baik hadis, tafsir al-Quran, maupun fiqih sesuai dengan bidangnya masing-masing.

Imam Abu Hanifa (699-767 M) atau dikenal dengan mazhab Hanafi dalam Sunni, berguru kepada Imam Ja’far al-Shadiq (702-765 M), salah satu Imam Dua Belas Syiah, selama kurang lebih dua tahun belajar fiqih di Madinah. Bahkan Imam Hanafi mengungkapkan, “Saya tidak pernah melihat seseorang yang lebih pintar dari Imam Ja’far bin Abi Muhammad.”

Musthafa Rifai dalam buku Islam Kita: Titik-Temu Sunni-Syiah (2020), yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia mengungkapkan, banyak hal perbedaan yang menjadi perdebatan dan pertentangan sesama umat Islam untuk menemukan titik temu di antara kedua mazhab. Hal itu tentu saja menunjukkan terjalinnya tali persaudaraan antara ulama sunni dan ulama Syiah. Sementara mereka yang memperuncing persoalan sektarianisme, cenderung dikarenakan faktor politik—bukan persoalan yang substantif keumatan—yang kian memperburuk hubungan sesama umat Islam.

Sesama umat Islam saja tidak menerima adanya perbedaan, bagaimana mau menjalin hubungan baik dengan agama lain? Persaudaraan ulama Sunni dan ulama Syiah dalam sejarahnya, seharusnya dapat menginspirasi sekaligus menjadi teladan umat Islam masa kini. Rahman dan rahim dalam dimensi ruhaniyahnya, menjadi titik temu persaudaraan, menjadi elan vital bagi bersatunya Islam dan demi peradaban umat Islam ke depannya.

Sejarah peperangan Syiatu Ali (pengikut Ali) dengan kelompok Umayyah dan keluarga Siti Aisyah yang dikenal dengan Perang Unta, semestinya menjadi pembelajaran berharga untuk kita agar tidak terus memelihara perselisihan yang merusak tatanan kehidupan, hanya karena faktor politik. Politik toleransi yang berpijak pada nilai moralitas dan kesetaraan, harus menjadi komitmen bersama. Apalagi dalam konteks masyarakat Indonesia yang multi-etnik dan multi-religi, sangat rentan terjadi konflik sektarian yang menyumbat pemikiran-pemikiran baru yang segar, sesuai dengan tantangan kontemporer.

Ketika ada yang memiliki pandangan yang berbeda pada umumnya, maka dianggap sesat, kafir, musyrik dan predikat-predikat negatif lainnya. Tidak sedikit dari mereka yang minoritas, kerap menerima tindakan kekerasan. Perbedaan antarmazhab dalam Islam, semestinya menjadi khazanah dan kekayaan Islam dalam perkembangan pemikiran yang mencerahkan sesuai dengan tuntutan zaman. Hal itu juga merupakan sunnatullah yang tidak dapat dihindari, apalagi dibantah.

Perbedaan mazhab Sunni-Syiah lebih pada persoalan furu’iyyah. Perbedaan itu hanya seputar penafsiran terhadap teks dalil-dalil hadis dan Qurani, dan bukan persoalan akidah. Seseorang dianggap mengingkari Tuhan dan Nabi atau keluar dari Islam, ialah Rukun Islam dan Rukun Iman. Selagi masih dalam koridor garis-garis tersebut, ia tergolong sebagai Muslim, dan tidak boleh dikafirkan.

Yang jadi pertanyaan, mengapa muncul banyak mazhab dalam Islam dan tidak satu saja? Sederhananya, persoalan Bahasa Arab sedikit banyak memmengaruhi sudut pandang para ulama dalam menafsirkan teks-teks dalil, yang justru seharusnya semakin memperkaya khazanah keislaman kita. Politik global merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap lahirnya ketakutan-ketakutan kesenjangan ekonomi sehingga berakibat pada perlawanan terhadap liyan. Terutama saat berselancar di media sosial internet, kita akan banyak menemukan perdebatan yang tidak sehat di antara sesama Muslimin.

Beruntung, saya sendiri sedikit tercerahkan melalui banyak bacaan dari berbagai literatur lain, agar mudah memahami mengapa situasi perbedaan Sunni-Syiah terus menajam belakangan ini. Dengan literatur yang saya lahap, saya menemukan banyak pencerahan terkait Syiah. Kritik saya terhadap internal kita sendiri, kurang membaca pandangan lain sehingga kita hanya meyakini apa yang hanya menjadi keyakinan kita, dan tidak mau mencoba untuk memahami pandangan lainnya.

Sebagaimana Imam Syafi’i yang dianggap Syiah, saya sendiri sering dianggap sebagai orang Syiah, hanya karena mengagungkan ahlul bait, atau malahan lebih sederhana lagi, menyebut Ali bin Abi Thalib sebagai “Imam Ali”. Maka saya tidak pernah menanggapi secara serius hal yang memprihatinkan itu. Saya cukup menyodorkan pernyataan Imam Syafi’i yang mengatakan, “Sekiranya hanya karena mencintai ahlul bait Nabi Muhammad SAW. saya dikategorikan Syiah. Maka saksikanlah dengan kecintaanku pada ahlul bait, maka saya adalah seorang Syiah.”

Oleh karenanya, ormas-ormas keagamaan di Indonesia—seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU)—perlu untuk terus menekankan dialog demi tercapainya saling memahami antara persamaan dan perbedaan dalam Islam. Sebagaimana komunikasi intensif yang dilakukan oleh Gus Dur dan KH. Jalaludin Rahmat. Saya sendiri menaruh hormat dan terkagum-kagum KH. Jalaludin Rahmat atau akrab disapa Kang Jalal yang mewarnai wajah intelektual Islam Indonesia.

Kang Jalal sebagai pendiri komunitas Syiah di Indonesia bernama Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia (Ijabi). Meminjam diksi Yudi Latif, bahwa Kang Jalal menjadi penggagas besar Islam Indonesia yang tidak mendompleng lewat organisasi besar.

Model keislaman yang diusung oleh Kang Jalal adalah menampilkan Islam cinta. Kang Jalal menjadi pelopor kesalahpahaman tentang Syiah, khususnya di Indonesia. Model dakwah Kang Jalal, menjadi alternatif istimewa dalam pandangan Islam Indonesia yang ramah dan penuh cinta. Mengingat, kita sedang dalam serbuan takfiri yang selalu mensesatkan dan mengkafirkan kaum Muslimin. Maka, Kang Jalal dikenal sebagai jembatan perbedaan antara Sunni-Syiah di Indonesia.

Kang Jalal juga tidak terkontaminasi persoalan politik sektarian yang destruktif. Kang Jalal tetap menjadi seorang Islam Indonesia sebagaimana Gus Dur, Cak Nur, dan banyak intelektual lainnya dengan ideologi Syiahnya.

Kini kita telah ditinggalkan banyak intelektual paripurna. Semua sudah berbahagia di alam sana. Maka kita sebagai penerusnya, wajib melanjutkan perjuangan mereka dengan mengenalkan Islam moderat, Islam yang menghargai perbedaan, dan Islam penuh cinta. Akar persoalan Sunni-Syiah yang teramat kompleks—dalam konteks sejarah maupun kondisi geopolitik era kekinian—sudah mulai lapuk dan harus segera diselesaikan dengan baik.

Jika hari ini masih ada yang mempertentangkan sektarianisme—dan memperuncing—persoalan Sunni-Syiah yang telah usang ini, saya kira perlu banyak belajar mengkaji dan mengaji lagi. []

Related posts
Kolom

Demokrat Sudah Menjadi Partai Dinasti Bukan Demokrasi

Peralihan kekuasaan, posisi Ketua Umum (Ketum) Partai Demokrat (PD) dari orang tua ke anak, menjadikan organisasi tersebut dicap sebagai partai dinasti. Pada umumnya di negeri ini, partai-partai menganut sistem demokrasi. Namun, apa yang dilakukan PD telah melukai sistem demokrasi partai. Awalnya hal itu terjadi, karena dipilihnya secara aklamasi Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) pada Kongres ke-V PD tanggal 15 Maret 2020. Maka itu, terlihat sekali bahwa PD sudah menjadi partai dinasti, bukan lagi demokrasi.
KolomNasihat

Diskursif Agama dan Negara Kontemporer

Gelombang populisme Islam menguat sejak kran reformasi dibuka. Berbagai arus aliran Islam transnasional masuk dan menginfiltrasi kaum Muslim Indonesia. Negara penganut Islam…
BeritaKolom

Zuhairi Misrawi, Jubir Arab Saudi

Tersebar berita, bahwa Kiai Zuhairi Misrawi atau yang akrab disapa Gus Mis ditunjuk oleh Presiden Jokowi sebagai Duta Besar Indonesia untuk Arab…