Dunia IslamKolomNasihat

Rasulullah SAW, Teladan dalam Keluarga

2 Mins read
Rasulullah SAW, Teladan dalam Keluarga nabi

Di samping kesibukan Rasulullah SAW dalam mengajarkan umatnya tentang Iman, Islam, dan Ihsan, beliau merupakan seorang teladan dalam keluarga. Sebab tidak hanya mendidik dan menyayangi keluarganya, beliau juga selalu berlaku adil dan bersemangat. Tidak bermalas-malasan, apalagi membebankan seluruh pekerjaan rumah kepada istri atau anaknya.

Kehadiran Khadijah, istri pertama Rasulullah SAW dalam kehidupannya merupakan anugerah. Dari Rahim Khadijah, lahir seorang putri yang diberi nama Fatimah al-Zahra. Tidak seperti sikap orang-orang jahiliyah pada masa itu. Apabila mendapat kabar kelahiran anak perempuan, merahlah mukanya dan larilah ia dari keramaian sekitarnya, disebabkan buruknya berita yang diterimanya. Kemudian, ia kubur bayinya (hidup-hidup) atau ia pelihara dengan menanggung malu, hinaan, ejekan masyarakat sekitarnya. Alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu [al-Nahl (16): 58].

Justru sebaliknya, Rasulullah SAW gembira dan bersuka cita atas lahirnya putri tercinta. Fatimah al-Zahra tidak hanya dipenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papannya. Melainkan juga Pendidikan keilmuan dan etika. Ditambah, Ali ibn Abi Thalib suaminya, mendidik Fatimah dengan penuh kasih sayang pula dalam kehidupan rumah tangga.

Begitu halnya perlakuan Nabi SAW kepada kedua cucu kembarnya. Dalam sebuah riwayat dikisahkan, Nabi Muhammad SAW mencium Hasan dan Husain. Lalu, Aqra’ ibn Habis berkata kepada Nabi SAW, “Aku mempunyai sepuluh orang anak dan tidak pernah mencium satu pun dari mereka”. Kemudian air muka Nabi SAW berubah kemerahan, karena marah. Beliau berkata kepadanya, jika Allah telah mencabut rasa kasih sayang dari hatimu, apa lagi yang dapat aku lakukan kepadamu? Siapa yang tidak mengasihi anak kecil dan tidak menghormati orang tua maka ia tidak termasuk golongan kita.

Tak dapat dipungkiri, menumbuhkan cinta dan kasih sayang kepada keluarga, khususnya anak-anak tanpa melihat jender mereka, merupakan hal yang diajarkan Nabi kepada umatnya. Tidak melakukan kekerasan, mendiskriminasi, dan memaksa kehendak mereka untuk menuruti keinginan orang tua merupakan akhlak yang tidak sejalan dengan ajaran yang diajarkan Nabi SAW.

Begitu pula kasih sayang Nabi terhadap para istrinya. Berlaku adil terhadap mereka, tanpa mendiskreditkan salah satu atau beberapa di antara mereka. Dari Jarir ibn Abdullah, dia berkata, Rasulullah SAW berpesan, barangsiapa tidak menyayangi manusia, maka Allah tidak akan menyayanginya [HR Muslim].

Adapun terkait pekerjaan rumah tangga, Nabi SAW tidak pernah membebankan seluruh pekerjaan tersebut kepada para istrinya. Justru, Nabi SAW menyediakan pelayan di rumah istrinya untuk membantu menyelesaikan pekerjaan domestik mereka. Dan Nabi SAW sebagai suami, tidak malu atau malas untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Memperbaiki pakaian yang sobek, memerah susu, dan membersihkan rumah.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata, Rasulullah SAW bersabda, orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik budi pekertinya. Dan orang yang paling baik di antara kalian yaitu orang yang paling baik terhadap isterinya [HR Tirmidzi].

Oleh sebab itu, tidak heran jika pada akhirnya, pemerintah membuat hukum dalam Undang Undang No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Dengan demikian, perempuan yang kerap kali menjadi korban kekerasan dari suami, mendapatkan perlindungan hukum dari pemerintah.

Meskipun setelah UU penghapusan KDRT tersebut, kekerasan terhadap perempuan dan anak tidak serta merta sirna dari dunia, tetapi upaya kita untuk meminimalisir perilaku tidak manusiawi itu harus masif dan terus ada. Meneladani perilaku Nabi SAW adalah salah satunya. Nilai moral yang selalu diajarkan Nabi SAW seharusnya menjadi bekal masyarakat Muslim dalam hidup berumah tangga.

Dengan demikian, akhlak mulia Nabi Muhammad SAW terhadap keluarganya, baik anak, cucu, maupun istrinya, merupakan teladan yang perlu kita praktikkan dalam keseharian. Sebab sebagai manusia, kita tidak dapat hidup sendirian. Mencurahkan kasih sayang, berlaku adil, dan memenuhi hak-hak setiap anggota keluarga menjadikan kita Muslim yang lebih baik.[]

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2021)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…