Dunia IslamKolomNasihat

Pentingnya Membaca Ulang Makna Muslim

4 Mins read
Pentingnya Membaca Ulang Makna Muslim persaudaraan Islam

Jamak dari kita belum paham bagaimana menjadi seorang Muslim yang diidealkan. Makna berislam yang meniscayakan sikap penuh kedamaian, menghadirkan rasa aman dan perlindungan, nampak berbanding terbalik ketika melihat maraknya fenomena pengafiran atau penyesatan kalangan Muslim terhadap paham yang dianggap tidak satu barisan dengan pandangan arus utama. Kita menyaksikan bagaimana masyarakat Syiah dan Ahmadiyah terzalimi secara kultural dan struktural. Mereka bersyahadat, menunaikan shalat, dan melengkapi kriteria lain keislaman tapi masih dituduh kafir dan didiskriminasi.

Betapa pilu melihat ada yang tega meregang kemanusiaan dengan menindas dan memarjinalkan saudara hanya karena tak sama dalam urusan partikular (al-furu’). Perbedaan mazhab atau aliran adalah hal yang wajar, dan diperkenankan dalam Islam. Siapapun yang menghayati keislamannya pasti akan berupaya menguatkan tali ukhuwah di antara sesama. Karena berislam berarti mengetengahkan kedamaian, menggiring pada spirit persatuan dan persaudaraan, bukan memandang sinis yang berbeda. Upaya penyadaran dengan pembacaan ulang makna Muslim menjadi amat penting. Mengingat isu sektarianisme dan sentimen mazhab yang merusak tenun persaudaraan masih terus tereproduksi.

Menjadi Muslim tidak hanya tentang rutin menjalankan ritual ibadah, kemana-mana menggenggam tasbih, ataupun berjubah menutup aurat. Lebih dari itu, seorang Muslim mengemban mandat utama untuk menjadikan teologi Islam rahmatan lil ‘alamin sebagai pijakan dalam beragama. Sebagai konsekuensinya, segala perilaku yang menciderai nilai-nilai kemanusiaan dan keislaman tertolak. Termasuk tradisi memonopoli kebenaran, dan di saat yang sama menyesatkan yang lain.

Untuk menjernihkan cara pandang atas identitas Muslim yang beragam, lebih dahulu kita harus memahami haluan-haluan yang digariskan nash tentang siapa Muslim itu. Pertama, inti dari Islam adalah tauhid, yakni meyakini eksistensi tunggal Allah SWT. Maka seseorang yang telah mengucapkan syahadat, dia adalah Muslim.

Sesiapa yang telah mengucapkan syahadat saja tidak boleh dikafirkan, apalagi mereka yang menjalankan praktik-praktik yang sejalan dengan prinsip Islam, seperti shalat, puasa, zakat, dan sebagainya. Nabi SAW bahkan mewartakan balasan surga bagi yang akhir perkataannya sebelum meninggal adalah lafaz tahlil (laa ilaaha illa Allah). Lafaz tahlil adalah garis demarkasi yang menjadikan seseorang menyandang status Muslim.

Alarm bahaya untuk tidak mudah menuduh orang lain kafir telah dinyatakan oleh Rasulullah SAW. Sabdanya, Barang siapa memanggil seseorang dengan sebutan kafir atau musuh Allah, padahal yang bersangkutan tidak demikian, maka tuduhan itu akan kembali kepada penuduh (HR. Bukhari-Muslim). Dampak fatal ini menjadi sesuatu yang setimpal, karena ia telah mengambil alih otoritas Allah dalam menentukan siapa yang sesat dan siapa yang peroleh petunjuk.

Hak prerogatif Allah tersebut ditegaskan dalam banyak tempat, di antaranya surat al-An’am [6] ayat 117 yang bunyinya, Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

Secara kesejarahan, fatwa sesat dan kafir lahir dari kalangan Khawarij yang mendewakan pemahaman pribadinya. Eksistensinya telah menjadi ancaman serius terhadap kepaduan umat sejak zaman dulu. Pada titik tertentu, mereka tak segan membunuh orang di luar barisannya. Prinsipnya, mereka mengandaikan adanya dua kategori kontradiktif yang dangkal dalam memahami Islam, yakni hitam dan putih. Dengan kata lain, golongan semacam ini menganut prinsip berpikir “pendapat saya benar dan tidak mengandung kemungkinan salah, sedang pendapat orang lain salah dan tidak mengandung kemungkinan benar”.

Kedua, ahlul qiblah, yakni mereka yang masih berkiblat ke Ka’bah adalah Muslim. Rasulullah SAW dalam sabdanya mengingatkan, bahwa Siapa yang menegakkan shalat sebagaimana shalatnya kita, menghadap ke kiblat sebagaimana kiblatnya kita, memakan hewan sembelihan sebagaimana kita makan sembelihan hewan kita. Maka dia seorang Muslim yang baginya jaminan Allah SWT dan jaminan Rasul-Nya (HR. Bukhari). Ini adalah penjelasan yang terang dan eksplisit bagaimana indikator seorang Muslim.

Nabi Muhammad SAW pernah menegur keras sahabatnya karena menghakimi keyakinan orang lain. Dikisahkan Usamah bin Zaid saat itu bertugas memimpin pasukan untuk menghadapi kaum musyrikin. Umat Islam pun meraih kemenangan gemilang. Usamah menceritakan jalannya pertempuran kepada Nabi dengan wajah berseri.

Ketika itu Usamah mendapati seorang musuh yang terdesak olehnya karena hendak ia tikam. Dalam kondisi demikian, musuh itu pun bersyahadat. Berulang kali Nabi menanyakan apakah benar Usamah tetap membunuhnya, dengan nada penuh kecewa juga amarah. Sayangnya Usamah tetap membunuhnya karena merasa laki-laki itu hanya ingin menyelamatkan diri dari kematian, bukan tulus mengucap syahadat.

Seturut dengan itu, Nabi pun berkata, Kenapa engkau tak membelah dadanya, sehingga engkau tahu apakah hatinya mengucap laa ilaaha illa Allah karena ikhlas atau karena alasan lain? Rasulullah SAW marah kepada Usamah karena menghabisi nyawa seorang yang mengucap laa ilaaha illa Allah. Pada Usamah beliau berkata, Bagaimana engkau akan menghadapi kalimat laa ilaaha illallah kelak pada hari kiamat?

Kisah ini mengajarkan banyak hal penting. Bahwa kalimat tauhid adalah gerbang masuk Islam. Seorang yang mengucapkannya terjaga dan tidak boleh dibunuh. Karena perihal keimanan, yang tahu dan yang berhak menilai hanya Allah semata. Imam Nawawi menuturkan, bahwa kita hanya diperintah untuk beramal sesuai kondisi lahiriah dan ucapan. Adapun urusan hati, kita sama sekali tidak akan mampu mengetahui. Asumsi tidak bisa dijadikan alasan. Dari sini, terlihat jelas bahwa Nabi melarang keras menuduh orang lain kafir.

Tiba waktunya bagi kita untuk menanggalkan konflik usang tersebab perbedaan aliran atau cara pandang. Pluralitas mazhab adalah keniscayaan yang mustahil disatukan/disamakan, tapi sangat mungkin untuk dicari titik temunya. Sudah berabad-abad lamanya kita tak kunjung selesai dengan istilah Sunni-Syiah. Kodifikasi mazhab semacam ini adalah bagian dari teatrikal sejarah politik yang muncul sekian tahun setelah Rasulullah SAW wafat. Sama sekali bukan faksi-faksi teologis-ideologis yang menjadi bagian prinsipil dari agama.

Adapun Ahmadiyah, mereka semata-mata korban fatwa politis. Mereka dianggap sesat karena mengakui Hazrat Ghulam Ahmad sebagai Nabi. Padahal, nabi di sini bukan dalam pengertian seseorang yang membawa syariat baru dan menghapus syariat sebelumnya, yakni syariat Nabi Muhammad. Melainkan nabi bayangan yang tidak membawa syariat baru dan sepenuhnya meyakini syariat Rasulullah SAW. Dalam pengertian populer, nabi tersebut bisa diartikan sebagai wali atau mujaddid (pembaharu). Tidak ada klausul keagamaan prinsipil yang dilanggar Ahmadiyah. Mereka sepenuhnya Muslim.

Fanatisme dan ruang eksklusif adalah hal yang harus dijauhi seorang Muslim. Karena monopoli kebenaran adalah satu hal yang inheren dengan konflik. Agama Allah SWT dan syariat-Nya tidak hanya terdapat dalam satu mazhab tertentu. Keragaman yang ada semestinya diarahkan untuk saling mengisi dan bahu-membahu memajukan umat Islam. Nash agama telah jelas menggariskan definisi Muslim, maka tak boleh ada lagi pandangan kebencian atau mudah memfatwa sesat kepada Muslim yang tak sama dengan pandangan mainstream.

Kerangka filosofis dari makna Muslim ialah seseorang yang mencintai damai, bermoral luhung, serta tidak bersikap agresif terhadap sesamanya. Seorang Muslim adalah manusia yang sadar penuh bahwa dirinya manusia, berbeda dengan binatang, dan memiliki tanggung jawab terhadap sesama manusia serta alam sekitarnya. Ketika seorang Muslim masih gemar menebar kebencian, mengingkari persaudaraan, dan menyesatkan yang berbeda, ia hakikatnya baru menyandang identitas normatif-formal, namun belum tuntas menghayatinya. Melihat yang demikian, terbersit kemudian pertanyaan, benar sudah Muslimkah kita? Dalam hal ini, mari upayakan bersama. Wallahu a’lam. []

Pros

  • +

Cons

  • -
Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2021)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…