Dunia IslamKolomNasihat

Keislaman Para Nabi Terdahulu

4 Mins read
Keislaman Para Nabi Terdahulu puasa nabi terdahulu

Muncul asumsi bahwa para nabi yang Allah utus terdahulu membawa agama yang berbeda-beda, bukan Islam. Karena mereka beranggapan Nabi Muhammad SAW sebagai utusan pertama yang membawa Islam. Nabi Ibrahim disebutnya beragama tauhid, sedangkan Nabi Isa serta Nabi Musa masing-masing disebut membawa agama Nasrani dan Yahudi, sehingga tidak termasuk dalam kategori Islam. Dengan kata lain agama Allah itu banyak.

Pandangan demikian tentu tidak tepat, sebab ajaran yang diusung para Nabi, kesemuanya bersumber dari Allah. Dan satu-satunya agama yang Dia terima adalah Islam [3: 9]. Ini menjadi argumen logis bahwa Islam merupakan agama semua nabi. Karena menjadi aneh, jika Allah menurunkan kepada para utusannya agama yang berbeda-beda, namun kemudian yang diterima hanya Islam saja.

Di samping itu, berita keislaman para nabi sebelum Nabi Muhammad pun telah dikabarkan dalam al-Quran. Pembahasan ini menjadi penting. Mengingat, asumsi eksklusif atas Islam bisa melahirkan klaim kebenaran tunggal yang berpotensi memertegang relasi pada level praktis masyarakat, utamanya di antara penganut agama samawi, Yahudi, Nasrani, dan Islam. Baik di kehidupan nyata maupun virtual.

Kita terlebih dahulu perlu mendudukkan makna Islam itu sendiri. Secara kebahasaan, kata Islam berasal dari kata aslama-yuslimu yang memiliki ragam makna semantik. Di antara artinya adalah tunduk, patuh, berserah diri, pasrah, masuk dalam kedamaian dan keselamatan. Sedang secara makna teknis dan dikenal umum, Islam adalah agama yang dibawa Rasulullah SAW.

Adapun kata bermakna Islam yang terbentuk dari akar kata sin-lam-mim disebut sebanyak 73 kali dalam al-Quran dengan pelbagai variasi bentuknya. Namun yang perlu diingat, tiap makna teknis dari kata Islam pasti mengandung makna semantik yang relevan dengan konteks kalimatnya. Artinya, sekalipun ajaran nabi terdahulu secara teknis tidak berlabel agama Islam, akan tetapi memiliki ruh dan landasan yang sama dengan Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, meskipun bentuk amaliah dan beban syariatnya berbeda.

Dalam istilah Nurcholis Madjid, Islam bukanlah proper-name yang menunjukkan pada sebuah organized religion (suatu paket agama tertentu), misalkan hanya merujuk pada apa yang dibawa Nabi Muhammad SAW. Namun, Islam adalah suatu nilai luhur berupa sikap tunduk dan penyerahan diri kepada Tuhan. Dengan pemahaman demikian, maka para Nabi terdahulu jelas seorang Muslim yang juga menebar ajaran Islam.

Pernyataan yang mengabarkan status Islam para nabi dan umat terdahulu tersebar dalam sejumlah ayat. Pertama, terekam dalam surat Yunus [10] ayat 72 yang menggambarkan kisah Nabi Nuh beserta kaumnya. Allah berfirman, Maka jika kamu berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta upah sedikitpun darimu. Imbalanku tidak lain hanyalah dari Allah, dan aku disuruh supaya aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri (kepada-Nya).

Ayat tersebut merupakan peringatan Nabi Nuh kepada kaumnya. Di mana, baik mereka mau menerima Islam maupun tidak, itu tidak akan berpengaruh pada Nabi Nuh, ia akan tetap menjadi seorang Muslim, yakni golongan yang berserah diri kepada Tuhan. Bahkan Nabi Muhammad SAW, oleh Allah diperintah untuk mengabarkan kepada umat muslimin agar mengikuti ajaran yang diamanatkan kepada Nabi Nuh, rasul pertama setelah Nabi Adam. Serta ajaran yang dibawa oleh Nabi Ibrahim, Musa, dan Isa. Instruksi ini tersemat dalam surat asy-Syura [42] ayat 13. Semuanya diperintah untuk menegakkan agama Allah dan jangan sampai terpecah-belah karenanya. Instruksi tersebut menunjukkan adanya kesepahaman ajaran dalam mata rantai risalah kenabian.

Kedua, ayat yang menyoal status Nabi Ibrahim serta keturunannya. Bapak monoteisme ini adalah seorang Muslim. Termaktub jelas dalam surat al-Baqarah [2] ayat 131 yang bunyinya, Ketika Tuhannya berfirman kepadanya, “(Aslim) Tunduk dan patuhlah!” Ibrahim menjawab, “(Aslamtu li rabbil ‘alamin) Aku tunduk dan patuh pada Tuhan semesta alam”.

Selanjutnya pada ayat 132 Nabi Ibrahim mewasiatkan kepada keturunannya untuk meneguhi Islam, Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub, (Ibrahim berkata), “Hai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagi kalian, maka janganlah kalian mati kecuali dalam memeluk agama Islam”. Dan pada ayat 133, diceritakan mengenai Nabi Ya’qub yang juga mengisahkan bahwa anak-anaknya akan menyembah, berpasrah pada Tuhannya Ya’qub, Ibrahim, Ismail, dan Ishaq, yakni Allah yang Maha Esa.

Surat al-An’am [6] ayat 161-163, ayat ini menguatkan perintah agar Rasulullah SAW dan umatnya mengikuti agama Nabi Ibrahim, karena agama Nabi Ibrahim adalah ajaran yang lurus, tegak, lagi kokoh. Dan ia bukan seorang yang mempersekutukan Tuhan. Agama yang hanif ini merupakan satu karunia dan nikmat yang nyata bagi umat Muslim.

Ketiga, mari ketengahkan pernyataan Nabi Yusuf yang terabadikan dalam al-Quran surat Yusuf [12] ayat 101. Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian ta’bir mimpi. (Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi, Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh. Nabi Yusuf terang mengharap diwafatkan dalam keadaan Muslim. Menjadi bukti jelas akan keislamannya.

Allah SWT telah mengirimkan utusan-utusannya untuk membersamai dan menuntun umat manusia sepanjang sejarah kemanusiaan. Di tiap periode pengutusan, mereka menyerukan asas agama yang sama kepada masing-masing kaumnya, yakni keesaan Tuhan, dan bahwa hanya Allah yang berhak disembah. Hal ini ditegaskan sendiri oleh Allah dalam surat al-Anbiya’ ayat 25, Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku. Benang merah misi kenabian adalah mentauhidkan Allah SWT.

Rasulullah SAW pernah menyatakan, bahwa Para nabi merupakan saudara sebapak dari ibu yang berbeda. Agama mereka satu dan tak ada di antara kami seorang nabi. Ini adalah kesaksian Nabi Muhammad SAW sendiri atas kesatuan agama semua nabi.

Islam merupakan agama semua nabi yang dikukuhkan oleh argumen-argumen naqli di atas. Nabi Muhammad SAW datang untuk menjadi pembenar dan penyempurna ajaran nabi-nabi sebelumnya. Dasar ajaran yang dibakukan Allah kepada Nabi Muhammad itu sama dengan dasar-dasar ajaran yang dimandatkan kepada para utusan terdahulu, yaitu sikap tunduk, pasrah, dan mengesakan Allah.

Cara pandang apresiatif-akomodatif terhadap ajaran nabi-nabi terdahulu menjadi hal yang penting untuk dikembangkan, agar terhindar dari pandangan dikotomis antara ajaran Nabi Muhammad dengan risalah yang dibawa para pendahulunya. Yang dengan itu, diharapkan dapat melenturkan penyikapan kita terhadap pluralitas keyakinan dan meregangkan kekakuan antarpemeluk agama, sehingga tidak jemawa dan merasa paling berhak atas jalan kebenaran menuju Tuhan. Wallahu a’lam []

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2021)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…