Kolom

Milenial Kok Jadi Teroris?

3 Mins read
Milenial Kok Jadi Teroris? beredar foto 2 pelaku bom bunuh diri depan gereja katedral m 250540

Dua pelaku teror bom bunuh diri di Katedral Makassar, pada Minggu (28/3/2021), diketahui merupakan pasangan milenial. Padahal, kita tahu bahwa milenial sebagai aset bangsa, yang menentukan wajah bangsa ini ke depan. Dengan karakteristiknya, yaitu sadar teknologi, serta toleransi, milenial diharapkan mampu mewujudkan negeri yang aman, dan damai. Namun, pada kenyataannya, milenial saat ini sangat mengkhawatirkan. Pasalnya, banyak yang terpapar paham radikalisme, bahkan sampai melakukan aksi nekat, yaitu bom bunuh diri. 

Generasi milenial sendiri adalah generasi produktif yang melek teknologi informasi. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) 2018, jumlah generasi milenial berusia 20-35 tahun mencapai 24%, setara dengan 63,4 juta dari 179,1 jiwa yang merupakan usia produktif (14-64 tahun). Dengan begitu, tidak salah bila generasi milenial disebut sebagai penentu masa depan Indonesia. Maju mundurnya Indonesia di masa depan, ditentukan oleh kaum milenialnya saat ini. Inilah yang disebut sebagai bonus demografi.

Namun, berdasarkan survei terbaru yang dikeluarkan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Selasa (30/3/2021), tercatat 80% generasi milenial, rentan terpapar radikalisme. Hal ini tentu sangat mengkhawatirkan. Sebab, masa depan yang damai, aman, dan seimbang hanya akan menjadi sebuah imajinasi belaka.

Kekuatan internet dan media sosial menjadi faktor utama menyasarnya paham radikalisme di kalangan milenial. Tercatat pada awal 2016, ada 88 juta pengguna internet, kemudian 2017 meningkat menjadi 132 pengguna. Jumlah tersebut merupakan separuh dari penduduk Indonesia, yaitu 262 juta jiwa. Sementara, 79% warganet, 106 juta jiwa, merupakan pengguna aktif media sosial. Para kelompok ekstremis, memanfaatkan teknologi untuk menyasar kaum milenial dengan menyebarkan ideologi jihad mereka. Oleh karena itu, segala ide, gagasan radikalisme, dan terorisme disebarkan dengan mudah memanfaatkan kemajuan teknologi.

Media internet mengambil porsi dan peranan yang sangat besar dalam memberikan informasi kepada publik, terutama kaum milenial akan ideologi radikal. Dunia maya telah menjadi bagian penting dalam membentuk pemikiran, perilaku, perbuatan sekaligus gaya hidup manusia. Menurut hasil penelitian Gabriel Weimann menunjukkan bahwa jaringan kelompok teroris mempengaruhi perhatian lebih pada penggunaan dunia maya. Hal ini dapat dilihat dari jumlah dan ragam situs yang dikelola oleh kelompok-kelompok jihadis yang dari tahun ke tahun selalu meningkat.

Sebagaimana tercatat dalam laporan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) 2019, sebanyak 11.803 konten internet dari 2009-2019, yang diblokir karena memuat radikalisme dan terorisme. Hal ini diperparah dengan fakta bahwa perekrutan kaum milenial dalam organisasi-organisasi radikal banyak dilakukan dengan menggunakan media internet. Dengan rentannya generasi milenial terpapar ancaman konten radikalisme, tentu saja amat meresahkan. Sebab, masa depan bangsa menjadi taruhan.

Seharusnya milenial mampu menjadi agen perdamaian, bukan perpecahan. Pasalnya, menurut Lancaster dan Stillman (2002), menyebutkan bahwa generasi milenial mempunyai karakteristik yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Milenial jauh lebih realistis, sangat menghargai perbedaan, lebih memilih bekerja sama daripada menerima perintah dan sangat pragmatis ketika memecahkan persoalan, memilih rasa optimis yang tinggi, fokus pada prestasi, percaya pada nilai-nilai moral dan sosial, menghargai adanya keragaman. Dengan begitu, dapat disimpulkan bahwa milenial memiliki karakteristik yang paling utama dan penting, yaitu toleransi.  

Dari karakteristik tersebut, seharusnya dapat menjadi modal bagi milenial, untuk membentengi dirinya dari paham radikalisme. Dengan cara cerdas dalam bermedia sosial, atau memiliki literasi digital sehingga mampu menyikapi setiap informasi yang berkembang dengan berpikir kritis. Menurut Farinia Fianto dalam buku Muslim Milenial: Catatan dan Kisah WOW Muslim Zaman Now (2018), menjelaskan bahwa literasi digital secara holistik menekankan pada aplikasi berpikir kritis, berakal sehat, dan berempati, yakni membuka diri, menyelami perspektif lain sehingga mampu memahami dan merasakan dari perspektif berbeda, yang pada gilirannya memunculkan sikap dan karakter yang berintegritas dan humanis.

Milenial harus fokus pada prestasi. Yang mana, milenial seharusnya berjihad dengan cara membranding dirinya melalui prestasi-prestasi yang patut diapresiasi. Milenial dengan kreativitasnya, seharusnya mampu menciptakan berbagai karya yang membanggakan, baik bagi diri sendiri, keluarga, maupun negara. Peluang besar yang dimiliki oleh milenial saat ini, tentu harus dimanfaatkan dengan baik. Menjadikan media sosial sebagai alat untuk mengobarkan semangat perdamaian, serta pengalaman yang memotivasi dalam kesuksesan.

Milenial saat ini, harus memilih sosok role model yang tepat. Jika ingin mempelajari ilmu agama, tentu harus memilih ulama yang tepat. Yang mana, dakwahnya tidak berunsur pada provokasi dan hanya mencaci maki, tetapi mengarah pada persatuan serta perdamaian. Kemudian, milenial bisa mencontoh beberapa youtubers atau selebgram, yang sering menyampaikan pesan-pesan baik dan memberikan pencerahan mengenai isu yang berkembang. Misalnya, Gita Savitri Devi, seorang milenial yang aktif dalam sosial media, untuk menginspirasi dan mengedukasi para pengikutnya. Maka dari itu, milenial harus cerdas dalam memilih dan memilah akun-akun yang perlu diikuti atau tidak.

Dengan demikian, milenial keren yaitu milenial yang memiliki segudang prestasi. Menjaga agamanya dengan menyebarkan kebaikan. Memajukan negaranya dengan ilmu pengetahun, serta keahlian yang dimilikinya. Bukan malah mencoreng nama agamanya dan memecah belah bangsanya dengan perilaku keji, yaitu bom bunuh diri. Yuk, jadi milenial keren dan kritis, bukan teroris. 

Related posts
Dunia IslamKolomNasihat

Apakah Orang yang Terkonfirmasi Positif Covid-19 Tidak Wajib Berpuasa?

Islam merupakan agama penuh kebaikan dan rahmat. Hukum Islam selalu sejalan dengan kondisi manusia. Tidak menyusahkan para pemeluknya. Melainkan memudahkan mereka, khususnya…
Kolom

Milenial Bersatu Melawan Terorisme

Aksi bom bunuh diri yang terjadi beberapa waktu lalu di Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan, pada Minggu (28/03/2021) lalu menandakan paham ekstremisme masih hidup bebas di sekitar kita. Peristiwa kemarin, akan menambah sejarah kelam tragedi mengerikan terorisme di negeri ini. Maka dari itu, untuk mencegah terjadinya kembali peristiwa serupa, kaum milenial harus mengambil peran dalam melakukan hal-hal baik. Karena milenial adalah kekuatan negara yang nantinya memegang teguh tongkat estafet kepemimpinan masa depan bangsa yang akan menuju ke peradaban lebih baik. Untuk itu, kaum milenial harus bersatu padu melawan terorisme agar ideologi tersebut tidak hidup bebas.
Kolom

Keistimewaan Bulan Ramadhan

Ramadhan adalah bulan suci yang selalu dinantikan umat Islam. Pada waktu ini, Muslim yang mampu, diwajibkan untuk menunaikan ibadah puasa selama satu bulan penuh. Bulan suci umat Islam ini menawarkan berlipat-lipat pahala dan pengampunan dosa bagi seluruh Muslim. Seseorang yang beribadah saat Ramadhan akan dilipatgandakan pahalanya, karena Ramadhan adalah bulan yang sangat mulia. Memperbanyak ibadah di bulan yang penuh berkah ini tentunya menjadi sebuah keharusan bagi umat Islam.