Dunia IslamKolomNasihat

Tebarkan Teologi Rahmat dan Rahim

3 Mins read
Tebarkan Teologi Rahmat dan Rahim cara memperoleh rahmat allah

Kami tidak mengutusmu (Muhammad), kecuali untuk merahmati semesta alam (Q.S. Al-Anbiya [21]: 107). Kata rahmat dalam al-Quran boleh jadi berasal dari rahman dan rahim. Semuanya berasal dari akar yang sama, yakni sifat Allah SWT. Teologi rahmat dan rahim berarti keyakinan yang menebarkan cinta dan kasih sayang kepada seluruh makhluk Allah SWT. tapa terkecuali manusia, binatang, dan seluruh alam.

Dalam bahasa Indonesia, rahim berarti tempat berlindung manusia yang dibesarkan dalam kandungan seorang ibu. Tentu saja hal itu menggambarkan perasaan sayang (rahim) seorang ibu kepada anak-anaknya selama masa dalam kandungan. Perasaan sayang yang autentik dari seorang manusia. Pastinya akan timbul juga rasa cinta, ketenangan, kedamaian, kebaikan, dan ikatan persaudaraan yang kuat.

Jadi sangat terang, kata rahmat berarti memiliki karakter antikekerasan. Sebaliknya, rahmat merupakan anjuran dan dorongan teologi untuk menebarkan nilai-nilai kebaikan ke seantero alam yang terintegrasi dalam rahmatan lil alamin. Rahmat bagi sekalian alam atau rahmatan lil alamin berimplikasi pada kehidupan sosial kultural umat manusia dalam lingkup budaya, ekonomi, politik, hukum, dan sebagainya.

Sedangkan alam, manusia dianjurkan untuk menjaga lingkungan sekitar agar tetap seimbang dan teratur. Harmonisasi rahmat, manusia dan alam melukiskan harmonisasi yang seimbang. Jika tidak, maka yang terjadi adalah ketidakseimbangan yang berimplikasi pada manusia itu sendiri. Sebuah keniscayaan yang mutlak. Karenanya, rasa persaudaraan, perdamaian, cinta, dan kasih sayang perlu dijaga sebaik mungkin. Bahkan dibangun dan dikedepankan dalam interaksi umat Islam dengan seluruh alam, agar hal-hal yang tidak diinginkan tidak menimpa manusia.

Sepanjang sejarah kebudayaan Islam, sepertinya teologi rahmat dan rahim itu pula yang membangun peradaban. Jika kita dapat terus menebarkan teologi rahmat dan rahim ini secara konsisten, bukan tidak mungkin, peradaban dunia dalam genggaman umat Islam dimasa depan yang cukup menjanjikan.

Teologi rahmat dan rahim ini dapat kita tekankan dalam bentuk membangun perdamaian, terbuka, peka, saling melindungi, saling menjaga martabat, dan saling bertanggung jawab secara kolektif yang bertujuan pada kebaikan dan kemaslahatan. Titik tekannya adalah cinta dan kasih sayang pada setiap manusia, tanpa memandang ras, etnis, warna kulit, jenis kelamin, dan seterusnya. Tidak hanya manusia, tapi juga lingkungan, termasuk hewan.

K.H. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur (2005), pernah mengatakan, “Di beberapa buah kitab, tafsir rahmatan—dalam redaksi al-Quran rahmatan lil alamin—di situ bukan karunia, tetapi dibaca silaturahim, persaudaraan.” Jadi, sebagaimana kita menyayangi saudara kandung, yakni menekankan belas kasih sesama umat manusia.

Dalam hal ini, teologi rahmat lebih menekankan pada aspek alam yang menyeluruh di seantero dunia ini. Sementara rahim atau kasih sayang lebih bersifat khusus, cukup terbatas cakupannya dalam kehidupan, yakni amaliah seseorang yang menjadi tabungan akhirat kelak. Kedua teologi ini dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari yang bernilai dakwah Islam.

Hal itu untuk menegaskan bahwa Islam tidak hanya ajaran hukum syariat yang kaku, yang tidak hanya menampilkan sisi siksaan dan hukum Tuhan, sehingga citra Tuhan tidak selalu kekejaman yang selalu ditampilkan. Bahkan kasih sayang, cinta, kelembutan, keberkahan, dan rahmat-Nya lebih menonjol. Tidakkah sadar umat Islam ini bahwa rahmat Tuhan lebih besar. Hal itu dibuktikan dengan kalimat bismillahirrahmanirrahim yang dibaca puluhan, bahkan ratusan kali oleh setiap Muslim dalam memulai shalat dan segala aktivitasnya sehari-hari.

Ini berarti, ajaran Islam dalam sisi akhlak, lebih dikedepankan. Tentu saja amaliah kita tidak berarti apa-apa, jika kita tidak memiliki akhlak yang baik. Apalagi sampai menyimpan rasa dendam, benci, hasud, dan menebarkan permusuhan kepada sesama. Sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW. “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak” (H.R. Bukhari). Sudah barang tentu akhlaklah yang lebih diutamakan agar iman, ibadah, dan amal saleh kita tidak sia-sia dan tidak ternoda oleh perilaku buruk akhlak yang mengakibatkan banyak tindak kekerasan kepada sesama manusia dan alam.

Meninggikan akhlak di atas ajaran teologi, ushul fiqh, tafsir, dan ajaran Islam lain, bukan berarti merendahkan ajaran tersebut. Saya yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa nilai akhlak merupakan teologi rahmat dan rahim yang membuat banyak manusia berbondong-bondong dengan bangga memeluk Islam dan membangun peradaban Islam, hingga bertahan sampai sekarang ini. Ajaran akhlak Nabi Muhammad SAW. yang membuat ajaran beliau bisa diterima umat manusia sepanjang waktu.

Seandainya saja Islam menyebar dengan cara-cara kekerasan dengan pedang, senjata api, pentungan, dan alat-alat kekerasan lainnya, niscaya Islam tidak akan diminati. Sekiranya Islam memaksakan kehendak, merusak tempat-tempat ibadah yang disucikan oleh penganut agama lain, dan menghakimi pendosa dengan aksi sweeping, tanpa memberikan solusi alternatif pemecahannya, tentu presentase umat Islam akan terus berkurang. Dan agama Islam agung ini akan terus dikecam dan dilabeli sebagai agama mengerikan dan berlumuran darah.

Perilaku sebagian Muslim dengan melakukan pelbagai anarkisme dan kekerasan, bom bunuh diri, terorisme, tidak sama sekali meninggikan kalimat Allah dan tidak memuliakan ajaran Nabi Muhammad SAW. atau pun mendapatkan reward surga di akhirat kelak. Justru tindakan itu mencoreng teologi rahmat dan rahim, memperburuk citra Islam, dan menghancurkan agama Allah.

Bukankah banyak yang berpikir bahwa musuh yang paling berbahaya adalah musuh yang bersembunyi dalam selimut? Maka ini bukan hanya tugas para ulama sebagai agent of moral change, melainkan kita semua untuk bahu-membahu meluruskan mereka untuk kembali ke jalan rahmat dan rahim sebagai jalan kebenaran. Dimulai dari diri sendiri untuk menebarkan cinta, belas kasih, perasaan sayang, dan kebaikan yang bersifat individu, maupun sosial.

Umat Islam harus menjadi pilar persaudaraan dan perdamaian. Perlu menciptakan kondusifitas sosial yang lebih dinamis dalam bentuk kerjasama-kerjasama yang bertujuan mengatasi berbagai masalah sekaligus memecahkan persoalan pada wacana yang lebih strategis. Misalnya masalah kemiskinan, kerusakan moral, krisis lingkungan, bencana alam, dan bencana pandemi Covid-19 yang tengah menghinggapi seluruh manusia di dunia ini.

Demikian sesungguhnya tugas pengabdian umat Islam untuk menebarkan teologi rahmat dan rahim. Terwujudnya cinta, kasih sayang, dan persaudaraan yang harus ditebarkan ke seluruh penjuru alam. []

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2021)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…