BeritaDunia IslamKolom

Puasa Ibadah Istimewa

3 Mins read
Puasa Ibadah Istimewa 5 golongan orang yang boleh membatalkan puasa lWlnsdJGkv

Tiba sudah kita di penghujung Sya’ban, umat Muslim pun akan menyambut gempita bulan Ramadhan yang di dalamnya puasa disyariatkan. Jika bulan Sya’ban diibaratkan sebagai momen bertumbuhnya ranting, maka Ramadhan adalah bulan memetik sekian banyak kemuliaan dan keberkahan yang diobral Tuhan. Rukun Islam ke empat ini adalah ibadah yang terhitung sangat istimewa. Tidak seperti amal ibadah lain, Allah SWT menjadikan puasa sebagai ibadah eksklusif yang hanya diperuntukkan bagi-Nya.

Hal tersebut merujuk pada sabda Nabi Muhammad SAW yang menyatakan bahwa, Seluruh amalan anak keturunan Adam adalah untuk mereka sendiri, kecuali puasa. Sesungguhnya ibadah puasa itu untuk-Ku dan Aku-lah yang langsung akan memberikan imbalannya. Puasa itu adalah perisai. (HR. Bukhari). Puasa adalah perisai dari gempuran syahwat. Ialah barak pelatihan bagi hawa nafsu. Jika tak dididik, nafsu bisa menjadi musuh laten yang berperan sebagai segala sumber kekacauan.

Pengkhususan puasa hanya untuk Allah di antara sekian banyak amalan lain, mengindikasikan akan besarnya nilai kemuliaan yang dikandungnya. Keistimewaan pertama barangkali bisa kita lacak dari esensi puasa itu sendiri. Secara definitif, puasa adalah menahan diri atau bersabar dari segala hal yang merusak dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Imbal hasil puasa ialah rahasia Tuhan dan jumlahnya pun tak terhitung.

Seturut dengan hadis Nabi yang kurang lebih menyebut, ketika pahala suatu kebaikan telah disingkap kadar pahalanya kepada manusia, yakni dari rentang sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat, tetapi tidak demikian dengan puasa. Ganjaran puasa tak terbatas pada kadar dan lipatan tertentu. Surat az-Zumar [39]: 10 pun mengafirmasi riwayat hadis Nabi tersebut, bahwasanya Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas. Dan dalam puasa terkumpul segala macam kesabaran. Sabar untuk mengendalikan lisan, pandangan, serta nafsu negatif lainnya.

Kedua, menguji ketahanan diri dari segala celah hawa nafsu adalah jihad akbar bagi seorang manusia. Sebagaimana yang Rasulullah SAW ungkapkan kepada para sahabatnya sepulang dari perang Badar. Kalian telah pulang dari suatu jihad kecil (perang) menuju jihad besar. Yakni jihad melawan hawa nafsu. Inilah mengapa puasa adalah ibadah premium yang spesial bagi Allah, karena di dalamnya manusia diuji bertempur dengan hawa nafsunya sendiri.

Jalaluddin Rakhmat dalam bukunya Islam Aktual, menjabarkan dua hakikat pokok puasa, imsak ‘an (menahan diri) dan imsak bi (berpegang teguh kepada perintah Allah dan Rasul-Nya). Terpenuhinya dua hal ini akan menjadikan ibadah puasa seseorang menemukan maknanya. Serta akan mengantarkannya pada derajat takwa, seperti yang Allah firmankan dalam QS. Al-Baqarah [2]: 183, Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

Sebaliknya, orang yang hanya ber-imsak ‘an tetapi tidak melakukan imsak bi, ia hanya akan menuai kesia-siaan. Karena apa yang diperolehnya sekadar haus dan lapar. Betapa banyak orang yang seharian menahan diri dari makan dan minum, tetapi lisannya tetap gemar mencaci serta menggunjing. Ia  ber-imsak ‘an namun tidak meneguhi perintah Allah dan Rasulullah untuk tidak berkata kotor.

Ketiga, puasa memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah karena tak ada sesembahan lain (sesembahan orang kafir) yang diibadahi dengan cara puasa. Mereka (kaum kafir) umumnya mengagungkan Tuhan mereka dengan cara bersujud, sedekah persembahan, atau dengan menyebut-nyebut nama Tuhannya. Orang-orang kafir tidak pernah mengagungkan sesembahannya pada waktu-waktu tertentu dengan berpuasa. Dengan kata lain, puasa adalah praktik pembeda ibadah orang beriman dengan orang-orang kafir.

Lebih dari itu, puasa adalah ruang ibadah rahasia yang karenanya sulit bahkan tak bisa disusupi sikap ria. Lain halnya dengan shalat, haji, sedekah, dan ibadah-ibadah lain yang zahir. Dalam model ibadah tersebut ada keluasan potensi bagi pelakunya untuk ria, sombong, dan berbangga diri atas amalannya di hadapan orang lain. Dalam ibadah selain puasa, manusia masih mungkin mendapat bagian, dalam arti ia bisa dipuji orang karena amalannya. Tidak dengan puasa yang murni untuk Allah.

Keempat, puasa merupakan zona ibadah yang cukup ‘sentimentil’ bagi Tuhan. Ketika manusia bertindak zalim kepada orang lain, kelak di hari pembalasan, pahala ibadah yang dimilikinya dapat difungsikan untuk menebus dosanya, dengan cara memberikan pahala tadi kepada orang yang pernah ia zalimi. Kecuali pahala puasa, ganjaran ibadah ini tak bisa diganggu gugat karena hanya teruntuk Allah SWT saja.

Nuansa penuh kekhususan dari puasa semakin terlihat saat disebut bahwa, tidak makan, tidak minum, serta menjauh dari ketundukan pada hawa nafsu adalah sifat-sifat Allah. Al-Qurthubi menyatakan bahwa seseorang yang menjalankan puasa, sama halnya ia sedang mendekatkan diri kepada Allah dengan sesuatu yang bersesuaian dengan sifat-sifat-Nya. Sebab itulah puasa disandarkan kepada Allah.

Dalam kerangka tersebut, puasa ialah momentum bagi kita untuk menghayati Kemahasempurnaan sifat-Nya. Perintah Allah untuk sabar dan mengendalikan nafsu saat berpuasa, tak lain karena kesabaran adalah sifat-Nya. Ini adalah isyarat sederhana yang menunjukkan bahwa kita diperintah untuk berakhlak sebagaimana akhlak/sifat Allah, takhallaqu bi akhlaqillah.

Dalam ungkapan Jalaluddin Rumi, puasa adalah jamuan rohani. Ketika secara lahir kita menahan dari makan, minum, dan kalimat kotor, saat itu pula kita perlu bergegas untuk menyambut hidangan langit. Jamuan rahasia yang hanya Allah serta kita yang tahu dan merasakan. Betapa puasa adalah ibadah yang dicintai Allah. Maka dari itu tak heran jika di bulan suci Ramadhan, Dia melimpahkan begitu banyak karunia dan ampunan-Nya.

Segala rupa keistimewaan puasa tersebut sudah semestinya memotivasi kita untuk selalu membaca ulang dan memperbaiki ibadah spesial di bulan mulia ini. Tidak menyia-nyiakan anugerah pertemuan dengan Ramadhan. Bagi kita, tak ada harapan selain bisa mereguk madu karunia Allah di Ramadhan yang suci, serta mengantongi predikat takwa yang ditandai dengan lestarinya perilaku karimah setelah bulan ini pergi. Selamat menghidupi ruang rahasia bersama Tuhan. Marhaban yaa Ramadhan! Wallahu a’lam.

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2021)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…