Kolom

Patrol Sahur, Identitas Budaya Yang Tak Lekang oleh Zaman

3 Mins read
Patrol Sahur, Identitas Budaya Yang Tak Lekang oleh Zaman 10130969 202005140331130677

Budaya membangunkan orang sahur dengan cara berpatroli melewati gang-gang di kampung sudah ada sejak dahulu. Dan biasanya, kegiatan ini dilakukan oleh anak-anak remaja. Kegiatan membangunkan orang sahur dilakukan antara pukul 02.00-03.30 WIB. Pada umumnya kebudayaan bangun sahur dengan menggunakan kentongan dapat dan banyak ditemui di mayoritas daerah di pulau Jawa. Menabuh kentongan disaat jam makan sahur merupakan sebuah ritus yang ada dan begitu saja dipraktekan oleh masyarakat pulau Jawa.

 Namun, dalam prakteknya musik kentongan pembangun sahur tidak hanya di temui di Pulau Jawa saja. Persebaran musik kentongan telah ada sejak peradaban Islam belum berkembang di Indonesia terutama Pulau Jawa. Penggunaan kentongan pada eranya difungsikan sebagai alat komunikasi sederhana. Sebagian besar masyarakat Jawa menamai musik ini sebagai musik patrol. Akan tetapi, sebutan tersebut hanya berlaku saat tradisi patroli malam dilakukan sedangkan dalam kehidupan sehari-hari kentongan tetap dimaknai sebagai kentongan. Zaman dulu, peran dan fungsi kentongan dalam kegiatan sehari-hari yaitu sebagai penanda bahaya, pengumuman, penanda waktu, dan alat komunikasi baik saat ronda maupun pemanggil rapat.

Seiring berjalanya waktu, kegiatan patrol sahur dilakukan tidak lagi menggunakan kentongan saja. Banyak ditemui sekarang kegiatan patrol sahur mulai dipadukan dengan menggunakan bedug, jrigen bekas, drum bekas dan ada pula yang menggunakan toa serta sound syistem. Seperti yang dilakukan oleh sejumlah warga di Blitar. Akan tetapi patrol mengunakan sound syistem kabarnya dilarang oleh pihak berwajib, karena dinilai mengganggu ketenagan warga sekitar. Memang, menurut saya pun, membangunkan sahur dengan menggunakan sound syistem seperti hilang nilai budayanya.

Patrol merupakan musik tradisional rakyat yang tergolong jenis musik hiburan. Patrol mempunyai nilai-nilai filosofis kealaman dalam setiap ritme bunyinya. Secara tersirat, musik tradisional ini berusaha untuk menyadarkan manusia bahwa manusia dan alam merupakan kesatuan yang bersifat saling membutuhkan. Untuk itu, hubungan antara manusia dengan alam harus seimbang. Artinya, manusia tidak boleh merusak alam jika tidak ingin dirusak oleh alam.

Saat sahur anak-anak memainkan musik patrol tersebut sambil diiringi dengan teriak-teriak “sahur-sahur, sahuuur-sahuur.” Menurut saya sebagai orang yang pernah melakukan kegiatan ini waktu kecil dulu, merasa ada kepuasan tersendiri. Ketika pada hari-hari biasa kita tidak boleh memainkan musik patrol malam-malam sambil teriak-teriak, saat Ramadhan kita dibebaskan untuk memainkan musik patrol tengah malam sambil teriak-teriak sahur-sahur tanpa ada yang melarang.

Di era ini kegiatan membangunkan sahur dengan berkeliling kampung, rasanya sudah tidak sesemarak dahulu. Pasalnya, kegiatan membangunkan sahur telah banyak digantikan oleh pengeras suara atau toa di Masjid dan Mushola. Budaya keliling bangunin sahur dengan musik patrol tidak lagi menjadi satu-satunya kelompok yang berjasa membangunkan orang untuk sahur. Pada 2020 yang lalu, bahkan sempat viral di media sosial sekelompok anak muda di Aceh sana yang membangunkan sahur dengan suara yang merdunya.

Baru-baru ini kegiatan membangunkan sahur melalui pengeras suara Masjid mendapat kritik dari salah satu artis Zaskia Mecca. Lewat ungahan video pada akun Instagramnya, Jumat (23/4/2021) terdengar orang yang berteriak membangunkan sahur. Dirinya bertanya-tanya model membangunkan sahur dengan berteriak “sahurnya” memakai toa Masjid. Dia bingung kalau cara itu disebut tengah jadi hits alias tren. Menurutnya, membangunkan sahur dengan toa masjid dinilai kurang baik dan tidak etis. Atas kritiknya ini, namanya pun menjadi trending topik di laman Twitter.

Kegiatan membangunkan sahur lewat toa Masjid atau Mushola sebenarnya bukan kegiatan baru. Penegeras suara atau toa sudah ada sejak tahun 1960 an, maka bisa dibayangkan sudah berapa lama kegiatan membangunkan sahur dengan pengeras suara. Bukan rahasia umum, sama halnya musik patrol atau kentongan yang memiliki banyak fungsi, pengeras suara pun begitu fungsinya. Untuk mengumumkan orang meninggal, menyampaikan kegiatan warga, adzan, dan sebagainya. Terlebih membangunkan orang sahur, pastilah merupakan agenda yang tidak mungkin terlewatkan.

Tradisi patrol sahur menjadi satu hal yang positif bila dijalankan tetap menjaga nilai budaya-budaya yang ada. Penggunaan alat kentongan misalnya, merupakan satu budaya yang mesti kita jaga. Modernisasi seharusnya memberi warna baru dalam tradisi membangunkan orang sahur, bukan malah menghapus nilai budaya yang ada. Melihat anak muda saat ini yang lebih aktif dan bersemangat, apalagi saat saur-saur bersedia berkeliling kampung sembari membunyikan kentongan untuk membangunkan warga Muslim yang akan melaksanakan puasa, dengan tidak pernah merasa terpaksa dan lebih semangat mengikuti kegiatan saur-saur tersebut mesti kita dukung. Ini merupakan satu tradisi yang tak boleh hilang dari bumi Nusantara.

Harapan untuk menjaga ekistensi tradisi patrol sahur nampaknya hanya bisa digantungkan pada anak-anak remaja di kamoung-kampung atau desa-desa. Anak kota, jangankan kelilig kampung buat bangunin sahur, keluar rumah tengah malam saja dipastikan tidak boleh sama orang tuanya. Bagi saya yang anak kampung, kegiatan membangunkan sahur dengan cara berkliling sembari menabuh kentongan merupakan satu hal yang mengasyikkan. Disamping nilai budaya yang ada, kegiatan ini wajib dilestarikan.

Pros

  • +

Cons

  • -
Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2021)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…