Nasihat

Ramadhan, Puasa dari Cacian

2 Mins read
Ramadhan, Puasa dari Cacian HATESPEECH 1

Baik dalam konteks berbangsa dan bernegara, maupun agama kebencian adalah awal mula dari segala bentuk kejahatan. Bahkan, intoleransi, rasisme, dan paling esktrim, terorisme, semuanya berpangkal bibit kebencian. Dampak dari semua itu, sudah dapat ditebak, yakni perpecahan. Padahal, dalam hakikatnya agama maupun bangsa tidak mengajarkan pertikaian, apalagi perpecahan. Kebangsaan kita adalah persatuan (gotong-royong).

Kebencian itu ibarat virus yang masuk kedalam tubuh manusia. Ia tidak kelihatan, tetapi efeknya justru sangat kuat. Ia merusak sendi-sendir persaudaraan sesama bangsa. Merobek tenun kebangsaan. Dan, merobek-robek keharmonisan dan kedamaian antara sesama manusia.  Imunitas kolektif bisa rusak kerana kebencian terhadap liyan.

Jika boleh diibaratkan, bulan Ramadan itu ibarat sekolah. Tempat manusia belajar dan berperoses menuju suatu tujuan –dalam bahasa Al-Quran –disebut dengan taqwa. Laiknya sekolah ada proses pembelajaran yang harus ditempuh oleh semua siswa, yakni puasa. Karena itu, Ramadhan kali ini sangat penting bagi kita untuk merefleksikan, jika Ramdhan tidak saja puasa menahan makan dan haus, tetapi juga ujaran kebencian.

Puasa adalah menahan dan menjaga seluruh tindak-tanduk anggota tubuh, baik fisik maupun psikis dari sifat yang tercela/dilarang. Dengan kata lain, puasa itu bukanlah tujuan pada dirinya, melainkan hanya sekadar proses. Tujuan utamanya adalah menjadi manusia bertaqwa, dalam al-Quran cirinya adalah menciptakan kedamaian (lahum ajruhum), keamanan (wala khafun alaihim), dan kesejahteraan (wala hum yahjanun).

Sebab puasa adalah proses, maka ia adalah jihad yang terus-menerus. Bahkan dalam bahasa Nabi, ia adalah jihad akbar, jihad paling besar. Dalam konteks inilah kemudian, Ramadhan selain disebut syahr al-siyam (bulan puasa), juga disebut syahr al-jihad (bulan jihad), tentu dengan alasan persamaan dari keduanya.

Pertanyaannya, bagaimana agar Ramadhan dapat dimakanai sebagai pendidikan jihad melawan kebencian? Bagaimana agar berkah Ramadan bisa teraktualisasi dalam konteks merawat bangsa dan negeri ini?

Para pakar mengajukan jawaban, yaitu Ramadhan harus dimaknai sebagai asketisme ukrawi dan asketisme duniawi sekaligus. Jika Ramadan hanya dimakanai sebagai asketisme ukhrawi semata, maka Ramadan tidak memberikan efek besar dalam jihad melawan kebencian di negeri ini.

Asketisme ukrawi yang dimaksud adalah puasa hanya dimakanai sebagai menahan diri (zuhud) dari hal-hal yang bersifat materi demi mendapatkan pahala yang berlimpah.

Sikap menahan diri ini orientasinya adalah kebahagian akhirat. Asketisme ini hanya bersifat personal dan sekadar melahirkan kesalehan individual. Dalam level ini, banyak orang berhasil dan sukses menjalani Ramadan sebulan penuh.

Hal yang tidak boleh ketinggalan –dan ini yang paling sulit –adalah puasa sebagai bentuk asketisme duniawi. Artinya bagaimana puasa selama sebulan penuh bisa membuat diri manusia bisa lebih sejahtera, damai, dan aman di dunia ini.

Orientasinya adalah di sini dan sekarang, bukan hanya sekadar di sana dan esok. Puasa yang melahirkan sikap asketisme duniawi, akan membuat individu lebih semangat dan produktif.

Asketiseme duniawi menciptakan manusia-manusia yang bukan sekadar menggeser jadwal makan-minum dan menahan lapar dan dahaga, melainkan menjaga diri (zuhud) dari praktek ujaran kebencian, hoax, finah, provokasi, dan segala hal-hal yang bersifat negatif bagi kehidupan publik di negeri ini.

Pendidikan jihad ini, akan membauat setiap insan yang menjalani puasa tidak sekadar menahan di dunia nyata, tapi sekuat tenaga pulak memelihara lisan, tulisan, cuitan dan segala bentuknya dari segala macam kebencian dan turunannya.

Pendidikan jihad ini, sudah dibuktikan oleh Nabi, para sahabat, dan para pendiri bangsa ini bahwa puasa  bukan hanya  berorientasi pahala di alam nan jauh di sana, tetapi juga puasa yang bisa mempunyai dampak positif dalam merawat negeri ini dari kebencian dan segala yang bisa merusak harmonisasi hubungan anak bagsan dalam konteks kekinian dan kedisinian.

Jika para pendahulu kita, dengan puasa berhasil mengusir penjajah, mempersatukan tekad, mewujudkan kedamaian, maka kita juga harus berpusa dengan cara mengusir ujaran kebencian, hoax, rasisme, dan paham radikal dari bumi pertiwi ini, terkhusus di media sosial. Jihad kebangsaan dengan menjaga perdamaian dan keamanan di dunia nyata dan maya, dan berusaha sekuat tega mencapai tarap kesehateraan, dapat dipastikan merupakan jihad sesungguhnya. Karena itu, mari, jadikan Ramadhan kali ini sebagai bulan puasa dari kebencian.

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…
KolomNasihat

Pengendalian Diri di Tengah Pandemi

Sepekaan belakangan ini, media kita dipenuhi dengan berita lonjakan kasus Covid-19, keterbatasan fasilitas kesehatan, dan angka kematian pasien. Kita cukup sepakat bahwa…