Kolom

Indonesia Butuh Ustadz Pancasilais

3 Mins read
Indonesia Butuh Ustadz Pancasilais Pancasila dan Lambangnya

Menteri Agama (Menag) Yaqut Chalil Qaumas menegaskan, dalam rangka penguatan moderasi beragama, para dai dan penceramah agama akan disertifikasi wawasan kebangsaan. Yaqut mengatakan, sertifikasi ini terkait dengan penguatan moderasi beragama melalui kompetensi penceramah. Apalagi, sambungnya, jaringan stakholders dari Kementerian Agama yang berasal dari organisasi ke masyarakat agama dan lembaga dakwah cukup luas, dan perlu berkontribusi dalam memecahkan probelematika yang ada.

Dalam rangka mengurai paham radikal yang belakangan kian berkembang di negeri ini, wacana tersebut cukup relevan. Maraknya ustadz-ustadz atau penceramah agama yang anti lagu kebangsaan dan anti terhadap Pancasila menjadi dapat menjadi akar masalah berkembangnya paham radikal. Padahal, ulama-ulama terdahulu kita telah menjelaskan secara gamblang, bahwa tidak ada pertentangan antara lagu kebangsaan, terlebih dengan Pancasila, karena sejatinya Pancasila bersumber dari nilai-nilai agama yang tertuang dalam kitab suci al-Quran.

Peran ustadz atau penceramah di tengah masyarakat cukup vital. Ia akan menjadi rujukan, tempat meminta nasehat, dan do’a, di tengah masyarakat. Ustadz atau penceramah agama dituntut dapat menjawab setiap persoalan-persoalan di masyarakat yang berhubungan dengan hukum halal-haram dan baik-buruknya suatu perbuatan dilakukan atau soal makanan, soal syurga dan neraka, soal hijrah, jihad, dan persoalan lainnya. Sayangnya, masyakat kadang tidak memfilter mana ustadz yang moderat, mana ustadz yang mengajarkan intoleransi. Mana ustadz yang anti Pancasila mana ustadz yang mendukung Pancasila, mana ustadz yang mendukung NKRI mana yang anti NKRI.

Perihal semacam ini kadang masyarakat kita enggan mencari informasi asal usulnya, gurunya siapa dan mondoknya dimana. Sanad keilmuanya sampai apa tidak ke sang suri tauladan Nabi Muhammad saw. Itu sangat jarang dilakukan oleh kita. Di tambah, era ini adalah era modern yang serba digital, dimana orang bebas mengakses informasi apapun yang dimaui, kapanpun dan dimanapun. Beberapa cirinya ialah, dalam balutan kajian agama, diisi dengan ujaran kebencian, caci maki terhadap pemimpin negara, terhadap ideologi negara, terhadap agama lain, bahkan terhadap sesama Muslim lainnya menuduh kafir.

Pada akhirnya inilah yang terjadi, karena jelajah media sosial tidak dibarengi dengan literasi digital, orang sulit membedakan kebaikan dan keburukan. Inilah yang menjadi tugas generasi muda, untuk memberi pencerahan pada masyarakat, bahwa penceramah agama dan ustadz yang anti Pancasila dan anti NKRI, menebar kebencian, dan intoleransi tidak layak diikuti.

Menemukan ustadz-ustadz berpaham radikal dan intoleransi pun sebenarnya tidaklah sulit. Sangat banyak tayangan-tanyangn video ceramah agama dimedia sosial seperti Youtube, Insatgram, Twitter dan lain sebagainya. Beberapa cirinya ialah, dalam balutan kajian agama, diisi dengan caci maki terhadap pemimpin negara, terhadap ideologi negara, terhadap agama lain, bahkan terhadap sesama Muslim lainnya menuduh kafir. Semestinya, acara pengajian diisi dengan pesan-pesan damai dari Tuhan, mengajak pada persatuan dan kesatuan, persaudaraan dan gotong royong. Jangan sampai, hanya berbeda pandangan politik, seorang ustadz atau penceramah baperan dan kemudian ikut menebar kebencian terhadap lawan yang tak searah dengannya.

Maraknya ustadz intolerasi yang berpaham radikal bukan sekedar isapan jempol belaka. Berdasarkan hasil survai yang dilakukan oleh Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) Universitas Islam Negeri Jakarta beberapa waktu lalu. Hasilnya, menempatkan Muhammad Rizieq Syihab sebagai ulama populer dengan katagori radikal. Lalu iurutan selanjutnya ada Felix Siauw, Abu Bakar Ba’asyir, Bachtiar Nasir, dan almarhum Tengku Zulkarnain. Belakangan diketahui, ustadz-uztadz Wahabi Salafi pun masuk katagori radikal. Bahkan secara tegas Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siraj menyebut, Wahabi Salafi sebagai pintu masuk terorisme.

Pentingnya wawasan kebangsaan bagi para penceramah agama dan ustadz adalah untuk tetap menjaga kewarasan di tengah masyarakat. Penceramah agama atau ustadz mesti paham Pancasila, baik paham makna dan sejarahnya. KH Aburahaman Wahid atau akrab dikenal Gus Dur sang guru bangsa menjelaskan, bahwa Pancasila bukan agama, tidak bertantangan dengan agama dan tidak digunakan untuk menggantikan kedudukan agama. Artinya, jika masih ada penceramah agama atau ustadz yang mempersoalkan dan mempertentangkan agama dengan Pancasila, rasanya tidak layak disebut ustadz.

Agaknya memang cukup sulit menjadikan setiap penceramah agama dan ustadz-ustadz memiliki akhlak Pancasila dan memiliki wawasan kebangsaan. Namun wacana Menag membuat sertifikasi wawasan kebangsaan bagi penceramah agama dan ustadz patut didukung, agar dikemudian hari tidak ada lagi penceramah dan ustadz yang gemar menebar kebencian, provokator, intoleransi dan radikal.

Indonesia butuh penceramah agama dan ustadz-ustadz Pancasilais, agar masyarakat tetap harmonis. Ustadz Pancasilis adalah tokoh agama yang mampu mengayomi dan merangkul seluruh elemen bangsa, dari segala kalangan dan golongan. Jangan lagi ada penceramah agama atau ustadz yang hanya modal public speaking belaka, hafal satu dua hadist terjemahan, lantas membuat gaduh ,mempropaganda dan memecah belah bangsa ini. Ustadz-ustadz atau penceramah agama harus terus menyuarakan pesan-pesan religius, kedamaian, persatuan dan kesatuan yang terdapat dalam Pancasila. Semboyan Bhineka Tunggal Ika yang terbentang di kaki lambang negara burung Garuda mesti menjadi salah satu dasar ustadz-ustadz dan penceramah agama dalam menyampaikan dakwahnya.

Pros

  • +

Cons

  • -
Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2021)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…