Kolom

Bung Karno Pemersatu Kebinekaan

3 Mins read
Bung Karno Pemersatu Kebinekaan 6yh66 1

Bentrokan antar ormas di Bekasi, Selasa (8/6/2021) mengindikasikan, jika kita gagal memahami kebinekaan. Ironisnya, bentrokan antar ormas tidak sekali-dua kali terjadi, bahkan sering. Padahal, misi kemerdekaan 75 tahun yang lalu adalah persatuan. Persatuan merajut keberagaman, baik agama, etnis, maupun golongan.

Bung karno, selaku proklamator bangsa dan sosok yang membidani kelahiran Pancasila, sudah mengisyaratkan, jika persatuan merupakan pondasi kemerdekaan. Menjadi “bersatu” merupakan pancaran cita moral sila Persatuan. Kita sebagai makhluk sosial memerlukan ruang hidup yang konkret dan pergaulan hidup dalam realitas kemajemukan bangsa.

Semangat kemerdekaan Bung Karno demikian,  sudah seharusnya diteladani oleh kita saat ini, maupun generasi yang akan datang. Peran seperti apa yang bisa kita lakukan? Sudah barang tentu, peran sebagai pemersatu kebinekaan. Peran ini begitu strategis, sebab Indonesia masyhur dengan keberagamannya.

Kita sebagai makhluk sosial harus dapat mengembangkan kehidupan dalam ranah multikultural, dengan mentalitas gotong royong. Sebab, dengan semangat gotong royong, kita dapat menjadi warga negara yang menghargai adanya fitrah keberagaman, sehingga dengan demikian akan terbangun rumah persatuan. Hal ini sebagaimana pernah dilakukan oleh Bung Karno dalam memimpin negeri ini, baik pra maupun pascakemerdekaan.

Konsep Nasakom, misalnya, gagasan ini walau baru terealisasi tatkala ia menjadi presiden (1959-1965), tetapi sudah ia pikirkan jauh sebelum kemerdekaan Indonesia diraih (1926). Dalam tulisannya Soeoleh Indonesia Moeda mengatakan, bahwa “dengan jalan yang kurang sempurna, kita mencoba membuktikan bahwa paham Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme itu dalam negeri jajahan pada beberapa bagian menutupi satu sama lain.”

Terlepas daripada konsep Nasakom ditentang oleh Bung Hatta kala itu, sehingga pencahnya kongsi Dwitunggal. Namun, dapat kita pahami, jika dengan konsep ini Bung Karno ingin mengajarkan kepada kita, jika ia benar-benar ingin menyatukan perbedaan di Indonesia menjadi satu-kesatuan. Nilai dan semangat persatuan sangat kental ia tunjukkan. Dan kalaupun kita melihat konteks kala itu, amat saya Bung Karno sangat brilian dapat melahirkan gagasan besar demikian. Sebab, Nasakom memang menjadi tiga faksi utama dalam perpolitikan Indonesia dulu.

Namun, sayangnya, semangat mempersatukan keberagaman Bung Karno masih menjadi persoalan yang belum final. Konflik antar golongan, etnis, dan agama masih kerap kali terjadi. Apa yang terjadi di Bekasi baru-baru ini merupakan salah-satu contoh kecil, karena masih banyak konflik-konflik yang terjadi di bangsa ini. Menyaksikan ini, saya melihat bahwa semangat kebinekaan mulai terancam eksistensinya.

Memang, dalam masyarakat sekarang yang bergerak dengan dinamika yang serba cepat dan penuh persaingan, timbulnya konflik tak dapat dielakkan. Di mana saja kita berada selalu ada pilihan-pilihan yang bertentangan. Bahkan, dapat sampai menjadi konflik kekerasan. Dalam perspektif konstitusional, misalnya, dijelaskan bahwa gejala kekerasan dipandang sebagai salah satu ciri kehidupan manusia yang belum beradab.

Hal ini tentu sangat ironis, mengingat kita sudah berada di fase modernitas. Namun, realitas menunjukkan umat manusia tetap saja bergumul dengan konflik yang berujung pada kekerasan. Mungkin inilah kondisi yang sedang menimpa masyarakat kita yang masyhur dengan keberagaman.

Pada titik ini, ketenangan dan kebahagiaan menjadi hal yang sulit dan mahal diperoleh masyarakat Indonesia pada umumnya. Padahal, motif adiluhung kemerdekaan adalah meraih kebahagiaan. Dalam Pembukaan UUD 1945 alinea kedua menegaskan, “Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia”. Namun, yang perlu diketahui dalam alinea itu juga disebutkan, pemenuhan atas motif meraih kebahagiaan hanya dapat terpenuhi sepenuhnya jika bangsa Indonesia bisa mencapai visi negara merdeka, yakni menjadi bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.

Alih-alih menjadi bangsa yang makmur dan bahagia, yang terjadi dalam realitas malah sebaliknya. Abraham Maslow dalam The Theory Of Human Motivation (2019) mengatakan, bahwa keamanan atau ketentraman bagi manusia merupakan salah satu kebutuhan yang sangat mendasar.

Dalam mengelola konflik di Indonesia, hemat saya, antisipasi diperlukan jauh lebih mendesak daripada bertindak setelah konflik itu terjadi (post-factum). Manajemen konflik antisipatif merujuk pada pola perilaku masyarakat Indonesia dan bagaimana mereka mempengaruhi kepentingan dan penafsiran terhadap konflik. Oleh karena itu, masyarakat dituntut untuk memiliki keterampilan sosial yang meliputi kemampuan persuasif, komunikasi, leadership, membina dan merawat hubungan, kolaborasi dalam mencapai tujuan bersama yang dituangkan dalam bentuk komitmen bersama.

Jika proses demikian dapat disadari betul oleh kita dan dipraktikkan dalam bentuk nyata, dapat dipastikan jika visi dan misi kemerdekaan dapat terealisasikan. Hal ini pernah dilakukan oleh Bung Karno tatkala meraih kemerdekaan dengan menyatukan bermacam-macam golongan. Semua golongan dapat disatupadukan lewat satu pintu, yakni Bung Karno. Namun, persatuan itu kini mulai memudar dan kesadaran untuk menyatukannya belum juga kuat. Oleh karena itu, tugas kita hari ini tidak lain, tidak bukan adalah menyatukan kesadaran itu dan mengembalikan semangat persatuan Bung Karno terhadap kebinekaan.

Singkat kata, di bulan Bung Karno ini, alangkah baiknya kita dapat bersama-sama merefleksikan kembali ajaran-ajaran Bung Karno. Ajaran tentang intisari daripada kemerdekaan, yakni merawat keberagaman. Sebab, Bung Karno merupakan pemersatu kebinekaan. 

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2021)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…