KolomNasihat

Politik dan Radikalisme Online

3 Mins read
Politik dan Radikalisme Online ilustrasi buzzer politik istockphoto ratio 16x9 1

Media sosial merupakan ruang ekspresi aktivitas politik modern. Suatu ruang terbuka bagi siapapun untuk mengekspresikan kebebasan berpendapat yang salah satunya pandangan politik. Media sosial juga dapat menjadi arena publik dan akses pencarian informasi terkait politik dan agama. Tapi mengapa banyak orang mencari informasi politik dan agama, hanya sesuai dengan pandangannya saja, tanpa memverifikasi atau mencari pandangan lain agar lebih seimbang sekaligus menemukan sebuah kebenaran. Semua kemajuan teknologi digital yang kita semua genggam ini seharusnya menjadikan banyak hal menjadi lebih baik. Tapi yang terjadi justru sebaliknya, menjadi lebih buruk.

Perdebatan yang seringkali kita saksikan di media sosial sebetulnya adalah sebuah “peperangan”. Tujuannya bukan mencari kebenaran, tapi pembenaran. Tujuan lainnya adalah untuk membuktikan pihak lawan itu salah dan kalah. Perbedaan pendapat yang seharusnya mendewasakan berubah menjadi suatu hal yang bertujuan untuk meraih kemenangan. Bukan perdebatan, melainkan pertarungan. Masing-masing seolah menjadi juru bicara politik yang membangkitkan emosi sehingga ruang publik menjadi suatu arena pertempuran yang semakin terpecah-belah. Terlebih persoalan agama yang lebih sensitif. Mereka yang keliru merasa bahwa mereka paling benar.

Sederhana saja, kita memulainya dengan suatu perbedaan yang lebih universal. Misalnya, saya dan kamu itu berbeda; pemikiran dan cara berpikir kamu berbeda dengan saya. Berbagai aspek seperti tubuh kita saja sudah berbeda, apalagi kondisi psikologi dan sosial lingkungan. Tentu untuk memahami hal ini tidak mudah dan membutuhkan suatu perjuangan yang berat untuk bisa saling memahami.

Karena sebenarnya, psikologis kita memiliki tendensi tertentu untuk mencari bukti-bukti yang meyakinkan sesuai dengan pandangan kita. Pola pikir kita memang terus berusaha dengan cara tersebut, sehingga tidak perlu ada perdebatan yang tidak semestinya berdebat di dunia maya. Jika dalam suatu perdebatan tertentu kita merasa tersudutkan—baik secara pribadi maupun pandangan dan keyakinan—kita akan terus melawan dengan penuh emosional hingga jari-jari kita bergetar. Akhirnya yang keluar adalah caci-maki, ujaran kebencian, pertentangan, dan permusuhan.

Dalam dunia nyata pada dasarnya, kita semua adalah makhluk sosial yang penuh penerimaan, kasih sayang. Minimal perilaku itu dekat dengan orang-orang di sekitar kita seperti keluarga, kerabat, teman, dan lainnya. Kadang-kadang, kita merasa kompeten dan paling unggul ketika memasuki jaringan online, supaya tidak dianggap bodoh, termasuk soal politik dan agama. Kita berusaha sebaik mungkin membangun citra agar dianggap lebih pintar dan dihormati. Padahal sebetulnya tidak. Kita hanya berpura-pura lebih pintar dari yang sebenarnya.

Kita begitu aktif menyuarakan kebenaran yang belum tentu benar. Pada akhirnya, banyak pula orang yang akhirnya memilih diam dan tidak peduli. Tapi itu juga bukan sebuah solusi konkret. KH. Mustofa Bisri (Gus Mus) pernah mengingatkan, dulu adagium “yang waras ngalah.” Sekarang tidak lagi, yang waras memang tidak boleh ngalah. Sebab kita harus memberikan sebuah pendidikan yang benar power of knowledge. Tentu harus bisa mengontrol diri jangan sampai terjebak perdebatan dengan mengingatkan secara santun. Melawan dengan argumen dan fakta yang sudah terverifikasi kebenarannya.

Karena memang biasanya, mereka yang kecenderungannya memiliki karakter radikal, lebih bersemangat dalam persoalan politik dan agama (dalam hal ini agama Islam). Mereka lebih bersemangat menampilkan glorifikasi identitas keislaman. Biasanya, dalam pandangan mereka dunia Arab adalah representatif Islam sejati. Memandang etnis, agama, dan mazhab dalam Islam penuh curiga karena pengaruh dominasi politik. Segala aktivitas yang terlihat adalah religiusitas yang bersifat simbolistik. Tak dimungkiri, kelompok-kelompok seperti ini seringkali menampilkan sikap intoleransi bukan hanya terhadap orang yang berbeda agama, melainkan juga berbagai kelompok Muslim sendiri. Lebih-lebih berbeda dalam pandangan politik. Gejala seperti ini dapat sering kita lihat di timeline (beranda) media sosial kita.

Orang-orang yang dalam kecenderungan formalistik-legalistik yang sempit dan eksklusif seperti ini yang perlu kita ingatkan. Mereka bisa berpendapat secara radikal dengan memonopoli sebuah kebenaran berdasarkan pandangannya sendiri. Mereka yang awam, akan mudah menerima paham-paham kejayaan Islam masa lalu di dunia penuh problem dan tekanan hidup seperti sekarang ini. Mereka mengaku berpaham ahlussunah wal Jamaah yang sebenarnya jauh panggang daripada api. Artinya, konsep al-Jamaah tidak ada dalam dirinya.

Mestinya, semua orang Islam itu satu saudara, terlepas dia beraliran Syiah atau lainnya. Karena dalam konsep Sunni sejati, tidak boleh mengafirkan sesama Muslim yang shalatnya masih menghadap kiblat. Saya kira perbedaan itu hanya pada tataran khilafiyyah dan bukan soal furu’iyyah. Yakni, tidak menyimpang dari hal-hal yang prinsipil, seperti rukun iman dan rukun Islam.

Menurut Nurcholish Madjid (Cak Nur), mayoritas umat Islam yang dikukuhkan dalam unsur Ahlussunnah wal Jamaah yang menekankan konsep ‘Jamaah’. Jamaah inilah yang ditandai oleh netralisme politik dan relativisme intern. Semangat Jamaah inilah yang harus kita tangkap, yaitu suatu penyelesaian yang mengembangkan toleransi intern, relativisme intern plus netralisme politik itu. semuanya bisa digalang dalam satu jamaah, atau ukhuwah, tanpa memedulikan pandangan politik yang bersifat conditional, baik oleh ruang maupun waktu (Menuju Persatuan Umat, 2012: 42-43).

Jangan hanya persoalan politik dan agama, kita menjadi lupa bahwa kita satu saudara. Baik saudara seiman, sebangsa, maupun saudara sesama manusia. Karena itu, mari kita meminimalisir radikalisme politik di dunia internet dengan lebih bersikap dewasa. Emosi dan kebencian terhadap orang yang berbeda pemahaman, harus kita sikapi dengan penuh kesadaran dan kontrol diri.

Berpendapat tentang agama dan politik boleh-boleh saja asal dilakukan secara wajar dan tidak berlebihan. Karena fenomena politisasi agama tengah menggeliat pada dewasa ini. Politik dan agama merupakan hal-hal yang cukup sensitif, yang dapat menjebak kita semua ke dalam perdebatan radikal secara online. []

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2021)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…