Dunia IslamKolomNasihat

Menyelami Makna Sa’i

3 Mins read
Menyelami Makna Sa’i jalur sai baru jtc6p9 hl

Berlari kecil tujuh kali saat berhaji dikenal dengan prosesi sa’i. Sebagaimana kisah yang kerap dituturkan, sa’i merupakan ritus haji yang disadur dari perjuangan Siti Hajar saat mencari air demi kelangsungan hidupnya dan putra terkasihnya, Ismail. Semelimpah kucuran air yang kini dikenal sebagai Zamzam, sebanyak itu pula makna yang bisa diselami dari peristiwa sa’i.

Sa’i ialah pencarian, suatu gerak fisik. Yang diperagakan dengan lari-lari kecil serta sikap bergegas-gegas. Gerak lari sebanyak tujuh kali dari bukit Shafa ke bukit Marwa ini menggambarkan, bahwa usaha adalah wujud dari ibadah itu sendiri. Maka dari itu harus ditunaikan secara berkesinambungan dan sungguh-sungguh.

Dalam fase sa’i, kita sedang berperan sebagai Hajar, seorang budak kulit hitam. Sebuah status yang direndahkan, manusia lapis terbawah dalam tingkatan kasta, jauh dari lingkaran aristokrat. Namun, dialah wanita istimewa yang dipilih Tuhan untuk menjadi juru bicara-Nya. Hingga kini, kita pun diperintah untuk meniru laku serta langkahnya dalam ritual sa’i yang diabadikan sejarah dan teks suci. Siapapun kita, apapun jabatan, warna kulit, suku bangsa, semua perbedaan itu tak berarti. Semua setara di hadapan Tuhan. Kita sekalian diminta untuk melakoni pengalaman Hajar.

Keyakinan Hajar begitu tinggi. Ketika tahu bahwa ia ditinggalkan berdua di lembah tandus Mekah oleh  Ibrahim atas perintah Allah, Hajar pun lega karena Allah tak mungkin mengabaikannya. Allah pasti akan mengurusnya. Menyerahkan diri secara penuh kepada Allah bukan berarti tidak bergerak sama sekali. Ada porsi usaha yang harus dilakukan. Rasulullah SAW pun menegaskan hal demikian, agar terlebih dahulu berusaha sebelum pasrah. Beliau bersabda, Ikat untamu terlebih dahulu, baru bertawakal. (HR. Al-Tirmidzi). Mengikat unta adalah simbol upaya kita agar ia tak hilang atau lari. Selebihnya, Allah yang mengurus.

Ketaatan dan sikap pasrah adalah hal yang lekat dengan Hajar. Namun ia tidak duduk termangu menanti keajaiban. Dengan bermodal iman, ia tinggalkan putranya di lembah gersang dan panas itu. Ia adalah wanita yang bertanggung jawab, seorang ibu yang diliputi kasih. Hajar bergegas mencari sumber kehidupan. Dipandu harapan dan keyakinan, ia bolak-balik berlari dari satu bukit ke bukit lain untuk menemukan sumber air.

Ternyata bukit yang didaki oleh Hajar tak menampakkan adanya sumber air. Ia dirundung kegelisahan dan di ambang keputusasaan karena putranya amat kehausan, namun upayanya masih nihil. Allah pun kemudian memerlihatkan pertolongan dan mukjizat-Nya. Dari tumit Ismail yang menghentak-hentak di padang gersang itu, muncullah sumber air yang sangat deras. Sekarang kita mengenalnya dengan air Zamzam.

Rangkaian hal yang dialami Hajar dapat menjadi gambaran satu firman Allah yang berbunyi, Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. (QS. Ar-Ra’d [13]: 11). Dengan kata lain, untuk mencapai sesuatu yang dikehendaki, kita tak boleh berpangku tangan. Usaha adalah perantara agar kita pantas mendapat bonus hasil dari Allah. Dalam ungkapan Ali Syariati, menemukan air (Zamzam) bukan dengan ‘cinta’ ataupun usaha, melainkan ‘setelah melakukan usaha’.

Allah SWT pun menyukai hamba-Nya yang giat bekerja. Rasulullah SAW pernah bersabda, Allah mencintai setiap Mukmin yang bekerja untuk keluarganya dan tidak menyukai Mukmin pengangguran, baik untuk pekerjaan dunia maupun akhirat. (HR. Thabrani).

Di samping itu, dalam QS. At-Taubah [9]: 105, Allah sendiri berfirman, Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang Mukmin akan melihat pekerjaanmu itu. Dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.

Secara konseptual, perjalanan dari Shafa menuju Marwa menggambarkan suatu proses pengalaman kemanusiaan untuk berpartisipasi aktif dalam kehidupan. Shafa yang berarti kesucian dan ketegaran mengisyaratkan kita untuk memulai sesuatu dengan kebersihan niat, usaha dan kegigihan. Kemudian perjalanan berakhir di Marwah yang bermakna kehormatan, kebaikan. Marwah menunjukkan idealnya manusia, untuk bermurah hati, berlaku baik, peduli, dan tercapainya kehormatan berkat kerja keras yang telah dilakukan. Bukankah kehormatan seseorang memang terletak pada perjuangannya?

Satu hal lain yang penting untuk kita sadari ialah tentang air itu sendiri. Yang dicari oleh Hajar semata-mata adalah air, suatu hal yang bersifat bendawi. Hajar bukan mencari hal yang gaib, bukan ilham, bukan pandangan hidup filosofis, bukan menyoal surga ataupun akhirat. Ia sekadar mencari air di muka bumi ini dan murni bersifat materil. Air adalah kebutuhan esensial manusia yang menunjukkan relasi mereka dengan alam hidup.

Bilamana tawaf merujuk pada konsistensi gerak untuk memperdekat ‘jarak’ dengan Tuhan, upaya Hajar dalam mencari air melambangkan pencarian kehidupan materil di atas muka bumi. Artinya, baik kehidupan dunia maupun akhirat sama pentingnya. Bekerja adalah hal yang absah dan mulia. Allah menyuruh kita untuk mengambil dan mengelola baik urusan dunia maupun akhirat. Jangan meremehkan ataupun berlebihan pada salah satunya. Melalui budak wanita berkulit hitam itu, Allah memberikan jawaban atas persepsi dikotomis terhadap urusan dunia dan akhirat. Bahwa keduanya dapat berjalan beriringan dan tak saling menegasikan.

Adapun dalam kacamata tasawuf, menaiki bukit untuk mencari sumber kehidupan, ibarat pendakian spiritual seseorang menuju Tuhan. Yakni suatu mujahadah (usaha) manusia untuk mencapai musyahadah (persaksian) terhadap Tuhan.

Sa’i merupakan langkah untuk perjalanan kehidupan yang lebih baik. Semua bermula dari kepercayaan utuh Siti Hajar kepada Allah. Kemudian lahir ketabahan dan rasa ikhlas. Saat dihadapkan pada keadaan sulit, naluri kemanusiaan Hajar pun aktif bekerja. Ia meresponsnya dengan keyakinan Ilahiah disertai upaya fisik total yang hasilnya sepenuhnya ia serahkan kembali kepada Allah.

Seorang manusia harus melanggengkan usaha dalam konteks kehidupan. Lari-lari kecil dalam ritus haji itu menunjukkan optimisme, spirit juang, ikhtiar, dan kepasrahan kepada Tuhan. Sa’i adalah seruan untuk berusaha sebisa kita, bukan untuk kepentingan pribadi tapi umat manusia. Wallahu a’lam. []

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2021)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…