Nasihat

Pandemi, Momen Persatuan Bangsa

3 Mins read
Pandemi, Momen Persatuan Bangsa lawan corona 200505161008 491

Wabah Covid-19 yang praktis mengisi hampir keseluruhan tahun 2020 ini menyisakan sekian banyak kepiluan. Tercatat per 7/12/2020 setengah juta lebih masyarakat kita positif terinfeksi virus korona. Korban jiwa di Indonesia pun disebut-sebut melebihi rata-rata kematian dunia. Seturut dengan itu, beban bagi tenaga medis menjadi luar biasa berat. Tanggungan hidup masyarakat pun kian sulit ketika sumber penghasilan harus terputus karena keadaan. Kita kalang kabut dibuatnya.

Sayangnya, masih ada masyarakat yang tidak percaya dan kurang mengindahkan protokol kesehatan yang dicanangkan. Dan yang lebih memprihatinkan, fokus penanganan pandemi terganggu oleh pelbagai kasus yang tak henti memberondong negeri ini. Namun demikian, perlu diingat, hikmah adalah bagian tak terlepas dari setiap musibah. Untuk itu, sikap optimis harus menjadi anasir yang dipegang selalu.

Setelah lolos dari jerat kolonialisme tujuh puluh lima tahun silam, masyarakat bangsa kita seakan kehilangan elan untuk merajut kesatuan dan kekompakan. Merasa sudah bebas, sehingga kurang awas dengan tantangan permasalahan domestik yang sejak dini telah diingatkan oleh Bung Karno akan jauh lebih sulit. Banyak realitas empirik yang meneguhkan tesis tersebut.

Pada arena sosial kemasyarakatan misalnya, perilaku intoleran berbasis primordial atau agama masih marak terjadi. Kesatuan atas nama kemanusiaan terurai, sering terkalahkan oleh sentimen mayoritas-minoritas yang masih nyaring bunyinya. Padahal merdekanya kita adalah hasil dari pintalan berbagai warna perbedaan yang dianggap memiliki rasa kebangsaan yang sama.

Preferensi politik juga menjadi pemicu andal dalam pecah kongsi masyarakat sipil. Perkara semakin runyam ketika identitas keagamaan diikutsertakan. Indeks literasi masyarakat yang masih rendah, menambah kerawanan mereka terjerumus konflik horizontal.

Perhelatan Pemilu yang sepatutnya menjadi ajang pendidikan demokrasi bagi masyarakat, justru difungsikan amat pragmatis oleh sebagian oknum untuk sekadar meraup suara, apapun caranya. Yang hampir dapat dipastikan ada pada hajatan lima tahunan ini adalah kampanye hitam, distribusi hoaks untuk saling menjatuhkan lawan politik, dan praktik politik uang. Amat jauh dari kesan suka cita bagi sesuatu yang dinamakan “pesta”. Yang ada hanyalah kegaduhan dan adu domba.

Ketika musuh terkonsep secara fisik, kesepahaman menjadi hal yang lebih mudah untuk digalang, layaknya dulu saat perang melawan kolonial. Namun, kini kita dihadapkan pada perang dalam dimensi yang kompleks dengan musuh-musuh yang tidak mudah untuk dipetakan (asimetris). Karena bisa jadi satu orang menganggap sesuatu sebagai lawan, sedangkan yang lain menyebutnya kawan. Amat subyektif. Demikian, mengapa kita seolah terberai, berjalan masing-masing, dan hanya menghalau apa yang dianggap sebagai ancaman bagi kita.

Sulit untuk meningkatkan level persatuan dengan peta kondisi kemasyarakatan yang semrawut semacam itu. Satu sama lain saling serang. Harus ada musuh bersama (common enemy) yang disadari keberadaannya. Perlawanan atasnya tidak akan efektif tanpa kerja sama tim. Dan seluruh masyarakat bangsa ini adalah bagian dari tim itu.

Pandemi jelas musuh bersama, meskipun wujudnya tak kasat mata. Ia adalah tanggungjawab kolektif. Ada pepatah sederhana yang jika dihayati amat bermakna: bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Persatuan akan menghadirkan kerja sama. Adapun ketika rasa apatis dan egoisme yang dipelihara, jangan menyesal jika kita akan runtuh bersama dalam kekalahan. Kesadaran untuk menjaga diri merupakan wujud kasih sayang kita kepada orang lain. Paling tidak solidaritas itu yang harus dihadirkan di tengah wabah, karena tidak ada satupun dari kita yang menghendaki sakit, dan semua orang potensial pula menjadi korban.

Wabah ini perlu kita maknai sebagai momentum untuk menebalkan semangat persatuan, penguat simpul kebangsaan, dan gotong royong seluruh elemen bangsa. Perasaan senasib sepenanggungan masyarakat, kiranya semakin menguat ketika satu per satu elite memberikan kado akhir tahun berupa bingkisan-bingkisan korupsi. Diawali dengan karamnya Menteri Kelautan beberapa waktu lalu oleh kasus benih udang, dan terbaru Menteri Sosial yang terbungkus kasus dana bansos korban pandemi. Praktik nir-nurani ini yang menjadi lumbung kekecewaan semua pihak, dan sepatutnya kian memantik kesepahaman untuk bersatu.

Lebih dari itu, melalui pandemi, Tuhan telah memberi kita kesempatan untuk belajar menanggalkan identitas-identitas yang selama ini merobek persaudaraan sebagai sesama manusia. Sudah waktunya kita menyudahi tensi dan ketidakdewasaan dalam ruang sosial-politik. Yang mendesak untuk dikembangkan adalah mentalitas altruis dan menekan terlebih dahulu ego pribadi dan/atau kelompok untuk gotong royong merawat Tanah Air ini.

Dengan sepakat menganggap pandemi Covid-19 sebagai common enemy, hal ini menjadi pondasi awal dalam melakukan perlawanan. Musuh bersama akan menumbuhkan keprihatinan bersama dan upaya untuk saling menguatkan, serta selanjutnya akan membentuk langkah konkret bersama. Alam bawah sadar kita akan menanamkan sugesti untuk berjuang dan perlahan akan menyisihkan friksi-friksi horizontal yang tak perlu.

Semangat persatuan yang terbentuk, diharapkan akan menjadi batu pijakan untuk kepaduan masayarakat dalam memerangi musuh-musuh lain yang laten. Selain pandemi, musuh kompleks bangsa kita adalah korupsi, intoleransi, kebencian, radikalisme, politisasi agama, dan ketidakadilan. Daripada merutuki keadaan, mari bersama mengasah ketajaman nurani untuk memetik hikmah di balik wabah; sebuah persatuan untuk mewujudkan kesatuan bangsa. Wallahu a’lam. []

Related posts
Dunia IslamKolomNasihat

Meluruskan Pemahaman Hadis Perempuan Penghuni Neraka Paling Banyak

Tersebar paham di kalangan masyarakat, bahwa perempuan adalah penghuni neraka paling banyak. Berdasarkan hal tersebut, publik bebas merendahkan kaum perempuan. Paradigma masyarakat…
BeritaNasihat

Dualisme Kepemimpinan Partai di Tengah Pandemi

Gonjang-ganjing terma “kudeta” dalam tubuh Partai Demokrat, heboh dalam sepekan terakhir ini. Prahara rumah tangga Partai Demokrat, kian menegang. Klaim kebenaran dengan…
Dunia IslamKolomNasihat

Pernikahan di Bawah Umur Bukan Sunnah

Orang-orang yang melangsungkan pernikahan di bawah umur kerap menganggap pernikahannya adalah sunnah Nabi. Praktik ini tak lain berlandaskan hadis Nabi Muhammad SAW…