BeritaKolom

Mati Syahid Mati Mulia, Bukan Mati di Jalan Tol

3 Mins read
Mati Syahid Mati Mulia, Bukan Mati di Jalan Tol enam anggota fpi yang tewas ditembak mati polisi

Wakil Sekretaris Jenderal PA 212 Novel Bakmumin, menyebut 6 laskar pengawal Muhammad Rizieq Syihab (MRS) yang tewas ditembak polisi di jalan Tol Jakarta-Cikampek sebagai syuhada perlu kritisi (7/12). Pasalnya, 10 simpatisan MRS tersebut ditengarai lebih dulu memantik penyerangan terhadap polisi dengan menyerempet mobil kepolisian dan menodong senjata api, samurai, dan clurit. Demikian syuhada tidak bisa diklaim kepada mereka yang terlebih dahulu melakukan penyergapan pada pihak konstitusi.

Berdasarkan kronologi penembakan di atas, menyebut korban simpatisan MRS sebagai syuhada adalah berlebihan. Sebab istilah syuhada yang diberikan kepada para penyergap dapat disalahartikan  masyarakat awam. Terlebih, istilah syuhada atau mati syahid oleh kelompok terorisme, tentu akan dimanfaatkan mereka untuk terus bermanuver dalam melancarkan misi penyerangannya, hingga dikhawatirkan banyak korban terus bermunculan dengan embel-embel syuhada, yang konon menjadi gelar para penghuni surga yang gugur berjihad di jalan tol.

Kekhawatiran ini bukan spekulasi belaka. Mengingat simpatisan FPI yang dikenal sangat militan, tentu peristiwa tersebut boleh jadi menjadi landasan untuk mati syahid bagi mereka. Meski begitu, upaya untuk meluruskan kembali istilah syuhada dalam konteks masa sekarang ini adalah memahami beberapa kategori di antaranya, seperti orang-orang yang berjihad di jalan Allah pada zaman modern kini bukan lagi berperang, melainkan bergulat dengan gagasan. Kendati, jika keadaan memaksa harus bertarung mempertaruhkan nyawa karena terjadi penyerangan secara sepontan, demi memelihara agama, jiwa, keturunan, akal, keturunan dan, maka mesti siaga kembali membela diri.

Maka dari itu, yang perlu digarisbawahi adalah seorang yang membela diri karena diserang, bukan menyerang, lalu terbunuh maka ia adalah syahid. Abu Daud dan at-Tirmidzi meriwayatkan bahwa Abu al-A’war Said Ibn Zaid Ibn ‘Amr Ibn Nufail, bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda, siapa yang terbunuh karena mempertahankan hartanya maka ia syahid, siapa yang terbunuh karena mempertahankan darah atau nyawanya maka ia syahid, siapa yang terbunuh karena membela agamanya maka ia syahid, siapa yang terbunuh membela keluarganya maka ia pun syahid (Tafsir al-Misbah: Vol. 5 h. 558). Termasuk seorang yang terbunuh karena membela Tanah Air juga disebut syahid menurut Hadratusyaikh Hasyim Asy’ari. Sebab penjajah yang memecah belah Tanah Air dapat membahayakan banyak nyawa dan berbuat dzolim.

Demikian mati syahid adalah sebuah kemuliaan bagi mereka yang terbunuh dalam membela kebenaran. Lalu bagaimana dengan mereka yang menyerang terlebih dahulu, tetapi menengarai bahwa dirinya sebagai pembela agama yang mati di jalan tol? Situasi seperti ini sebaiknya kita menghindar dari klaim apakah mereka meninggal dalam keadaan syahid yang khusnul khatimah (akhir yang baik) atau suul khatimah (akhir yang hina). Sebab bagaimana pun klaim kita, tidak bisa menjadi jaminan seseorang pasti masuk surga atau sebaliknya. Karena itu, jangan mudah terhasut kepada mereka yang mengobral surga dengan murah, apalagi dengan cara yang menyimpang.

Konyolnya, tak sedikit dari mereka termakan doktrin mati syahid dengan cara membunuh diri, terlebih ironisnya mereka yang punya keluarga, anak-anaknya pun turut diajak menjemput mati syahid dengan cara yang absurd. Saya merasa keruh kepada mereka yang tiada angin tiada hujan, tiada musuh tiada lawan yang menyerang, tiba-tiba berjihad dan bernyali membunuh diri dan orang lain. Bukankah ini krisis pemahaman makna mati syahid yang beredar pada masa kini? Para agamawan harus berpikir keras untuk mengurai benang kusut prihal mati syahid tersebut.

Hal lain yang mengusik pemikiran penulis adalah mengapa korban doktrin mati syahid kebanyakan orang-orang yang tak berdaya, rendah tingkat pendidikan, tidak memiliki kekuasaan dan hidup sederhana. Mestinya para pembesar FPI terlebih dulu mencontohkan mati syahid itu, karena orang-orang misal mereka, tentu sangat paham dan mengharapkan benar pahala surga mati syahid, yang dapat membawa 70 orang ke dalam surga serta nafsu ingin bertemu 72 bidadari, seperti ceramah andalanya MRS. Kiranya, mereka sungguh picik, karena hanya mengandalkan orang yang lemah sebagai pengimplementasian doktrin syuhadanya, sementara para pembesar FPI hanya bermain sebagai dalang belakang panggung. Masa iya sih, superior kalah dengan bawahannya yang berani mati di jalan tol?

Bila ingin meneladani Rasulullah SAW, maka jangan hanya bermain di balik layar. Dalam Perang Uhud yang pimpin Rasulullah SAW menoreh sejarah kekalahan yang akut karena kelalaian pasukan Muslimin. Pasukan Quraisy yang sebelumnya diprediksikan kalah melawan pasukan Muslimin, ternyata gagal total lantaran peperangan yang belum tuntas, tetapi pasukan Muslimin justru ramai memperebutkan ghanimah (harta rampasan), sehingga pasukan Quraisy yang masih siap siaga mengambil celah untuk kembali menumbangkan pasukan Muslimin. Alhasil, pasukan Muslimin pun kocar-kacir dan banyak yang terbunuh, meski begitu Rasulullah SAW tetap tinggal memerangi pasukan Quraisy, hingga gigi beliau tanggal dan terluka akibat peperangan.

Panutan pimpinan sebagai syuhada harusnya, seperti Rasulullah SAW. Berani memasang badan di depan orang yang dinilai sebagai lawannya. Tidak kabur meninggalkan pasukan dalam keadaan genting. Datang memenuhi panggilan polisi saja culas, apalagi ikut mempertahankan hidup orang lain. Dalam hal ini, insiden yang terjadi di jalan Tol Jakarta-Cikampek, MRS hanya memikirkan dan menyelamatkan diri sendirinya saja. Tak peduli, meski pasukannya bertaruh nyawa karena pahalanya surga, apakah demikian maksudnya?

Itu sebabnya, doktrin mati syahid mesti diwaspadai karena dapat memutuskan kehidupan manusia. Meski yang hidup pasti akan mati, bukan berarti manusia dapat menyia-nyiakan kehidupan tanpa manfaat, sehingga lebih memilih mati. Renungan bagi penyeru mati syahid, jangan mendoktrin orang lain kalau sendirinya saja gemetar memenuhi panggilan polisi, terlebih melindungi nyawa manusia lain.

Terlepas dari siapa yang salah dan menyerang lebih awal, tetapi kita tetap turut berbela sungkawa dan memanjatkan doa yang terbaik untuk keenam orang bangsa Indonesia yang telah tewas tersebut dan semoga mereka ditempatkan di sisi Tuhan. Jika mati syahid adalah mati yang mulia karena berada di jalan Tuhan, maka jangan sampai ada lagi korban yang mati di jalan tol.

Related posts
Berita

Zuhairi Misrawi Akan Lindungi WNI di Arab Saudi

Santer terdengar pada akhir-akhir ini, bahwa KH Zuhairi Misrawi atau yang lebih akrab dikenal dengan panggilan Gus Mis, mendapatkan tugas baru dari Presiden Jokowi Dodo, yaitu menjadi Duta Besar (Dubes) di Negara Timur Tengah yaitu Arab Saudi. Tentunya, tugas menjadi wakil negara di kota haramain tersebut tidaklah mudah, memerlukan ekstra kerja keras dan juga perhatian khusus terlebih kepada diaspora Indonesia.
Kolom

Demokrat Sudah Menjadi Partai Dinasti Bukan Demokrasi

Peralihan kekuasaan, posisi Ketua Umum (Ketum) Partai Demokrat (PD) dari orang tua ke anak, menjadikan organisasi tersebut dicap sebagai partai dinasti. Pada umumnya di negeri ini, partai-partai menganut sistem demokrasi. Namun, apa yang dilakukan PD telah melukai sistem demokrasi partai. Awalnya hal itu terjadi, karena dipilihnya secara aklamasi Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) pada Kongres ke-V PD tanggal 15 Maret 2020. Maka itu, terlihat sekali bahwa PD sudah menjadi partai dinasti, bukan lagi demokrasi.
KolomNasihat

Diskursif Agama dan Negara Kontemporer

Gelombang populisme Islam menguat sejak kran reformasi dibuka. Berbagai arus aliran Islam transnasional masuk dan menginfiltrasi kaum Muslim Indonesia. Negara penganut Islam…