Kolom

Bangsa Lain Bahas Teknologi, Kita Masih Bicara Perbedaan Ideologi

3 Mins read
Bangsa Lain Bahas Teknologi, Kita Masih Bicara Perbedaan Ideologi  Bangsa Lain Bahas Teknologi, Kita Masih Bicara Perbedaan Ideologi Bangsa Lain Bahas Teknologi Kita Masih Bicara Perbedaan Ideologi

Sehari setelah dilantik, Mentri agama Yaqut Cholil Qoumas atau yang sering disapa Gus Yaqut diisukan membuat kebijakan kontroversial. Ketua Umum GP Anshor itu diduga akan berencana mengafirmasi hak beragama warga Syiah dan Ahmadiyah di Tanah Air. Pada Minggu (27/12/2020). Meskipun, pernyataan itu sebenarnya tidak pernah dilontarkan oleh Gus Yaqut, akan tetapi terlepas dari konteks adanya media yang mengatasnamakan hal tersebut telah menimbulkan polemik berbagai opini di masyarakat. Sebagian dikalangan masyarakat ada yang pro dan kontra. Padahal yang dilakukan oleh media untuk menggiring pernataan tersebut terkait dengan perbedaan pendapat, jelas akan menimbulkan bibit-bibit perpecahan di negeri ini.

Memang, pembicaraan mengenai agama di Indonesia cukup sensitif untuk dibahas. Tidak hanya antar agama, bahkan perbedaan pandangan di dalam agama itu sendiri. Banyak di antaranya mencoba membatasi diri dari rasa ketersinggungan, perbedaan yang tidak ada ujungnya, hingga tersudutnya pemahaman atau keyakinan yang selama ini dibawa. Entah ada apa di bangsa kita ini sehingga masih memperdebatkan tentang perbedaan agama. Merasa agama atau ajarannya paling benar, dan lebih menyalahkan ajaran atau agama orang lain.  Padalah seharusnya,  kita justru sudah berbicara tentang bagaimana membangun bangsa yang sejahtera, sejuk, dan aman untuk dapat memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa di tengah Kebhinekaan.

Perang gagasan mempertahankan argumen kebenaran agama semakin tak terelakan. Opini yang terlanjur disampaikan akan dicari dalil pembenarannya. Sehingga perdebatan seolah terkesan ilmiah dan mendasar. Sementara penonton (jamaah) dijadikan pembeli, di mana pedagang akan menyajikan jajanan agama di pasar. Sampai-sampai di antaranya saling mengeluarkan diksi-diksi filsafat atau sains untuk menebalkan argumen, yang sayangnya tidak begitu dipahami arti dan sejarah akar katanya.

Merujuk pada permasalah itu, barangkali kita masih keliru dalam pembelajaran kehidupan yang terjadi saat ini. Sebab, seharusnya bangsa Indonesia sudah jauh beranjak membahas terkait dengan berbagai perkembangan dan revolusi membangun bangsa, akan tetapi permasalah kita masih saja berhadapan dengan perbedaan-perbedaan yang jelas akan menghancurkan keutuhan dan persatuan bangsa.

Jika permasalahan ini terus terjadi, maka dari itu anak bangsa akan disibukkan dengan berbagai masalah perbedaan ideologi yang tidak akan pernah usai. Sementara, bangsa lain sudah bicara berbagai macam perkembangan teknologi dan pengembangan. Misalnya saja, China yang baru saja membuat satu langkah maju dalam pencariannya untuk energi bersih melalui fusi nuklir terkendali, yakni menciptakan matahari buatan yang diluncurkan, pada Jumat (4/12/2020).

Dilansir situs South China Morning Post (SCMP) yang mengutip China National Nuclear Corporation (CNNC), fasilitas penelitian reaktor fusi nuklir generasi baru ini bisa beroperasi pada suhu 10 kali lebih panas dari matahari. Perangkat HL-2M Tokamak ini disebutkan mampu beroperasi pada suhu 150 juta derajat Celcius, hampir tiga kali lebih panas dari versi sebelumnya yang disebut HL-2A.

Kemampuan menghasilkan suhu ultra tinggi tersebut sangat penting untuk penelitian proses fusi, mereplikasi cara matahari menghasilkan energi dengan menggunakan gas hidrogen dan deuterium sebagai bahan bakar di mana matahari hanya beroperasi pada suhu 15 juta derajat Celcius. Kiranya, kita seharunya berkaca pada China dengan perkembangannya telah memiliki tujuan untuk teknologi fusi karena berencana membangun reaktor eksperimental paling cepat tahun depan, membangun prototipe industri pada 2035 dan mulai digunakan secara komersial skala besar pada 2050.

Meminjam data International Telecommunication Union (ITU) pada 2017, Indonesia berada di posisi ke-111 dari 176 negara dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi dengan indeks sebesar 4,34. Posisi ini lebih rendah daripada Singapura, Brunei Darussalam, Malaysia, Filipina, dan Vietnam. Sementara data Forum Ekonomi Dunia menunjukkan, daya saing global Indonesia dalam kesiapan teknologi yang jauh ke depan masih berada pada peringkat ke-72 dari 141 negara. Posisi ini lebih tinggi daripada Filipina, tetapi lebih rendah dibandingkan dengan Singapura, Brunei Darussalam, Malaysia, dan Cina.

Dari data tersebut, ketertinggalan yang terjadi di Indonesia merupakan fakta yang sebenarnya harus dapat diubah. Bahkan, bapak pendiri bangsa sudah berkorban untuk meletakkan pondasi bangsa agar negeri ini maju dan tidak mengalami ketertinggalan. Sebagai masyarakat, seharusnya wajib menghargai dan mengimplementasikan nilai dalam kehidupan, bukan justru mempermasalahkan perbedaan ideologi yang terus dan sering terjadi.  

Barangkali, yang dibutuhkan bangsa adalah gotong royong untuk dapat bahu-membahu membangun dan memajukan Tanah Air. Sebab, sebagai jalan tengah, Bangsa Indonesia memiliki Pancasila yang merupakan kesadaran (ideologis) Keindonesiaan. Tentu, akar sejarahnya telah menancap lama, membumi dalam benak tiap Founding Father bangsa Indonesia, tak terkecuali segenap komponen rakyat.

Bentuk Pancasila sebagai genuine persatuan dan gotong royong, semua entitas pendiri negara Indonesia telah setuju bahwa Bangsa Indonesia tak hanya merdeka secara ideologi saja, akan tetapi juga bisa berfungsi sebagai mata-baca dan rujukan “model” bagi pemerintah dan entitas rakyat menghadapi tantangan perubahan tiap zamannya. Persatuan Indonesia dengan  tidak mengenal sekat agama, ras, suku, golongan, bahkan pandangan individu manusia sudah menjadi hal yang harus ada dan tidak dipermasalahkan di negeri ini.

Jika masih ada sikap kurang menghargai atau bahkan melawan perbedaan pandangan, berarti masih belum pantas disebut sebagai negara yang berfikir jauh ke depan. Sebab, kecenderungan setiap manusia mempunyai sifat egoisme (merasa paling benar), sehingga menghiraukan opini atas kebenaran yang lain. Semua punya hak meyakini kebenarannya, asalkan tidak memaksakan semua yang dianggapnya benar kepada orang lain.

Dengan demikian, sebagai manusia yang diberi otak untuk berpikir dan dianjurkan untuk menuntut ilmu sebanyak-banyaknya, hendaknya kita lebih banyak belajar dari bangsa lain yang selalu membahas tentang perkembangan dan melakukan pembaruan teknologi yang lebih canggih, bukan justru masih bicara perbedaan ideologi agama yang sebenarnya berada di circle yang sama dengan perdebatan yang itu-itu saja.

Related posts
Kolom

Vaksinasi Lintas Agama, Memperkuat Persatuan Bangsa

Masjid Istiqlal menjadi tempat untuk melakukan vaksinasi para pemuka agama. Kegiatan tersebut dilaksanakan bukan hanya kepada yang beragama Muslim saja, tetapi untuk semua agama. Aktivitas yang melibatkan tokoh lintas agama ini menjadi salah satu alat untuk memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa. Pasti, nantinya hal tersebut akan menambah kerukunan warga antar agama. Sebab, para pemuka agama memiliki peran sentral demi meyakinkan masyarakat untuk membuktikan keamanan vaksin, sehingga program vaksinasi dapat berjalan dengan lancar.
Kolom

Indonesia Sehat Tanpa Hoaks

Angka penyebaran berita bohong atau hoaks masih terus tumbuh dengan pesatnya. Hoaks telah banyak menguasai media-media sosial, meracuni akal sehat pikiran manusia…
BeritaKolom

Edukasi Komunikasi Netizen Indonesia

Hasil laporan tahunan Microsoft tengah menampar netizen Indonesia. Pasalnya, netizen Indonesia dinilai paling tidak sopan se-Asia Tenggara oleh Microsoft dalam laporan yang…