Kolom

Belajar Berdemokrasi dari Gus Dur

3 Mins read
Belajar Berdemokrasi dari Gus Dur 1596526254

Penyerangan brutal ke gedung Capitol Hall telah meninggalkan noda hitam pada demokrasi Amerika Serikat. Untuk pertama kalinya dalam sejarah pemilu AS diwarnai dengan unjuk rasa besar-besaran. Ketidaklapangan Donald Trump dalam menerima kekalahan di gelangang pilpres ke-59 telah membawa babak baru demokrasi. Berakhir sampai di sinikah perjalanan demokrasi AS? Respons Trump yang represif terhadap proses demokrasi cukup disayangkan. Pasalnya, dapat berdampak buruk pada persoalan vertikal dan horizontal sosio-politik Amerika Serikat. Rasa-rasanya, dalam hal ini Trump mesti belajar berdemokrasi dari Gus Dur.

Masih teringat dalam sanubari sekapur sirih dari Gus Dur, bahwa “tidak ada jabatan di dunia ini yang perlu dipertahankan mati-matian”. Pada dasarnya semua yang ada di dunia adalah sementara. Tidak ada yang abadi dan menjamin keabadian, kecuali yang Maha Abadi. Jabatan merupakan tanggung jawab berat, menguras pikiran, serta tenaga. Sebab, dalam jabatan terselip amanat sebagai abdi kepada masyarakat. Begitulah, demokrasi menempatka rakyat di atas pemimpin.

Maka dari itu, tidak keliru jika mengartikan jabatan adalah bencana. Layaknya bencana mestinya tidak ada yang mau berlama-lama dalam jeratan itu. Dan tentunya, tidak harus dipertahankan mati-matian. Apalagi, sampai mengorbankan nyawa rakyat dan martabat bangsa. Dalam hal ini menurut saya, Gus Dur merupakan sosok yang tepat sebagai teladan dalam berdemokrasi. Keluhuran semangat kebangsaanya yang menempatkan kemanusiaan di atas segala hal mesti menjadi pelajaran. Tidak saja untuk Trump, tetapi juga para pemimpin kita.

John L. Esposito dan John Obert Voll memuji dalam Makers of Contemporary Islam (2001), bahwa Gus Dur benar-benar sebuah teka-teki. Ia bukan tradisionalis konservatif, bukan pula modernis Islam. Ia seorang pemikir liberal, seorang pemimpin organisasi Islam berbasis tradisi terbesar. Ia seorang cendekiawan inovatif yang memeragakan profesional intelektual. Baik dalam pemikiran Islam, maupun kebangsaan kehebatan Gus Dur adalah konsistensinya berdiri di tengah-tengah kemanusiaan. Di mata Gus Dur yang terpenting dalam politik dan agama adalah kemanusiaan itu sendiri. Karena itu, tidak mencengangkan jika sosok Gus Dur dicintai oleh masyarakat, khususnya golongan minoritas.

Praktik demokrasi seperti itu, yang menurut Gus Dur dapat dirasakan adil. Dalam negara demokrasi, harus pula dihiasi dengan masyarakatnya yang demokratis. Masyarakat demokratis menurut Gus dur ialah tatkala semua warga negara mempunyai kedudukan yang sama di muka hukum, memiliki kebebasan berpendapat, serta adanya pemisahan yang tegas dalam fungsi ketatanegaraan antara eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Dalam menegakkan demokrasi Gusdur sangat menghindari terjadinya kekerasan, dan ia lebih percaya pada perjuangan kultural.

Demokrasi harus dipraktikkan utuh, tidak hanya lembaga, tetapi juga prilaku orang-orangnya harus demokratis. Melihat tragedi berdemokrasi di AS akhir-akhir ini sangat memprihatinkan. Posisi Amerika sebagai kiblat demokrasi abad ini tidak saja diciderai, tetapi juga mencoreng ruh demokrasi itu sendiri. keadilaan yang mestinya diperjuangkan untuk mencapai kemenangan rakyat, malah disalahfungsikan untuk kepentingan politik dan elite,

Kita harus dapat menyadari betul persoalan demokrasi ini. Jangan sampai keadilan dan kemenangan rakyat dalam bingkai demokrasi masuk dalam jurang kehancuran. Dalam merajut harapan itu semua, sedikitnya kita mesti menyadari dua hal penting pelajaran demokrasi dari Gus Dur. Pertama, menempatkan kepentingan umum (rakyat dan bangsa) di atas kepentingan kelompok dan pribadi. Sebaik apapun tujuan kita, dalam berdemokrasi rakyat yang memiliki kewenangan penuh untuk memilih siapa berhak menjadi pemimpin. Karena hakikat dari demokrasi memang dari, untuk, dan oleh rakyat. Dengan demikian, persoalan-persoalan yang berpotensi mengancam keutuhan bangsa dan negara akan dapat mudah dilerai.

Kedua, menjadikan kemanusiaan sebagai ruh demokrasi. Dalam praktik berbangsa dan bernegara Gus Dur baik saat menjadi presiden, maupun masyarakat sipil telah sukses menjadikan kemanusiaan sebagai landasan berdemokrasi. Berbekal kemanusiaan dan kelapangan hatinya menerima hasil demokrasi, Gus Dur telah menghalau gelombang besar disintegrasi bangsa.

Dengan praktik seperti ini, semestinya kita menghidupi demokrasi. Demokrasi adalah instrumen politik, maka siap tidak siap, kita harus menerima hasil. Barangkali itulah politik, harus rela menghadapi resiko pahit walau kita sudah berada dalam jalur yang benar. Dan Gus Dur sudah mendapat resiko paling pahit dari politik, yakni dilengserkan dari kursi kepresidenan. Namun, kehebatan Gus Dur adalah menerima hasil daripada proses demokrasi. Melihat lebih jauh dan luas, bahwa tidak ada jabatan yang mesti dipertahankan mati-matian. Keutuhan bangsa menjadi prioritas penting dalam berdemokrasi.

Pendek kata, langkah kesatria dan patriotik Gus Dur dalam berdemokrasi dapat menjadi pelajaran penting, tidak saja untuk Donald Trump, tetapi juga para pemimpin kita.

Related posts
Kolom

Hukum Perdata Internasional, Perkuat Hubungan Bilateral Negara

Pemerintah menargetkan pembahasan Rancangan Undang-Undang Hukum Perdata Internasional (RUU HPI) rampung di tahun 2022, pasalnya pemerintah sedang mempercepat penyusunan Naskah Akademik RUU HIP tersebut. Walaupun demikian, banyak dari pakar Hukum Perdata Internasional menilai RUU ini akan memperkuat hubungan bilateral antar negara.
Dunia IslamKadrun TVKolom

Aisyah RA Bukan Simbol Pernikahan Dini

Di zaman kita, pernikahan dini menjadi masalah sosial yang cukup serius. Berdasarkan publikasi laporan Pencegahan Perkawinan Anak (2020) yang dirilis Kementerian Perencanaan…
BeritaKolomNasihat

Zuhairi Misrawi, Santri Par-Excellence yang Cocok Menjadi Dubes Arab Saudi

“Jika Mekkah menjadi kota suci kaum Muslimin karena terdapat Ka’bah yang merupakan kiblat shalat, Madinah juga menjadi kota suci kedua kaum Muslimin karena terdapat Masjid Nabi yang merupakan simbol kebangkitan Islam,” begitu tulis Kiai Zuhairi Misrawi—atau lebih akrab disapa Gus Mis—dalam bukunya, Madinah: Kota Suci, Piagam Madinah, dan Teladan Muhammad SAW. (2009). Belakangan ini, tersiar kabar santer bahwa Gus Mis ditunjuk Presiden Jokowi menjadi Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk Arab Saudi.