Kolom

Risma Ungkap Bobroknya Wajah Jakarta

2 Mins read
Mensos Risma  Risma Ungkap Bobroknya Wajah Jakarta Mensos Risma

Gebrakan Tri Rismaharini sebagai Menteri Sosial Republik Indonesia (Mensos RI) yang baru, nampaknya menimbulkan keirian dari lawan politiknya. Terlihat, kebijak-kebijakan yang diambil dan sepak terjangnya sebagai Mensos mendapatkan kritikan tanpa henti, sehingga memperlihatkan ketakutan dari beberapa politisi, terlebih Risma sapaan akrabnya tak segan-segan menunjukan wajah yang sebenarnya sebuah provinsi yang selama ini disembunyikan, dan lambannya dalam menyelesaikan berbagai permasalahan sosial-kemiskinan termasuk di Jakarta. 

Diketahui bahwa kerja blusukkan Risma memang sudah menjadi agenda harian saat menjadi Walikota Surabaya, apalagi Risma sangat diterima baik oleh masyarakat Surabaya dengan gaya dan etos kerjanya tersebut. Memang aneh, jika ada orang yang mengkritisi gaya kerja Risma dalam melaksanakan tugasnya, Apalagi ia sebagai seorang Menteri Sosial yang berkewajiban menelusuri setiap daerah, agar mengetahui kebijakan seperti apa yang harus diambil dan dieksekusi supaya berdampak baik pada masyarakat. Kehadiran Risma dan sifat blusukkannya di Jakarta tempo hari, membuat politisi seperti Anies Baswedan sembuh dari Covid-19, secara tidak langsung ia menerjunkan Kepala Dinas Sosial (Kadinsos) DKI Jakarta untuk mengkonfirmasi temuan Mensos tersebut, agar mengamankan citra politiknya yang kian memburuk. 

Dalam suatu kesempatan, sesaat setelah menjadi Mensos, Risma menegaskan bahwa ia tidak akan mengubah kebiasaannya dan mengubah profilnya. Ia tetap ingin menjadi dirinya sendiri seperti apa yang sudah ada sejak lama serta melekat pada dirinya saat ia masih menjabat Walikota Surabaya. Hanya saja, gaya yang seperti ini tidak disukai oleh politisi seperti Anies Baswedan, Fadli Zon, Ahmad Riza Patria, dan politisi yang memang berseberangan dengan paham Pemerintahan Jokowi sehingga Risma menjadi bahan baru untuk menarik massa yang kontra terhadap pemerintahan Joko Widodo. 

Saat Risma mulai menyusuri kolong jembatan hingga tepian kota, mulailah menampakkan wajah Jakarta yang sebenarnya. Dalam benak pendukung Anies Baswedan, Jakarta adalah kota yang bagus dan ramah dengan segala sesuatu serta menjadi kota yang sangat idealis bagi semua orang. Hanya saja, pemikiran tersebut langsung dipatahkan dengan fakta yang ada, bahwa Jakarta masih banyak yang harus dibenahi termasuk permasalahan sosial dan kemiskinan. Tentunya hal tersebut tidak akan diterima oleh pendukung Anies Baswedan dengan baik, fakta-fakta tersebut langsung dibantah dengan narasi-narasi yang menyudutkan dan lainnya.

Menggunakan Jakarta sebagai parameter untuk mengukur kesenjangan sosial setiap provinsi di Indonesia adalah hal yang terbaik. Selain sebagai penyangga ibukota, pemerintahan, Jakarta merupakan provinsi yang memiliki permasalahan sosial tertinggi dibandingkan provinsi yang lain. Jika mundur kebelakang, pada misi misi Anies Baswedan saat mencalonkan Gubernur DKI Jakarta 2017 lalu, dengan mengatakan bahwa tingkat kemiskinan di Jakarta sangat memprihatinkan tentunya akan mudah jika berkolaborasi langsung bersama Kemensos RI untuk mewujudkan hal tersebut. 

Namun sayangnya, memang pada dasarnya Anies Baswedan dan Ahmad Riza Patria menggunakan politik kekanak-kanakkan, yang mana harus ditegur terlebih dahulu barulah ia bekerja. Sehingga harus mencari-cari kesalahan Kemensos RI dan pura-pura tidak mengetahui bahwa ada tunawisma berada didaerahnya. Sangat tidak wajar, bagi seorang Gubernur dan Wakil Gubernur tidak mengerti dengan rahasia dapur daerahnya masing-masing. Permasalahan kemiskinan dan kesenjangan lainnya memang sudah menjadi rahasia umum, tidak hanya terjadi di Jakarta namun juga terjadi didaerah lainnya. Namun, tak elok bagi seorang pejabat menutup-nutupi demi mengamankan popularitas politiknya sehingga mengensampingkan kepentingan masyarakat banyak. 

Dalam beberapa hal, Anies dan Ahamad Riza Patria memang patut diberikan apresiasi setinggi mungkin, seperti bagaimana kedua pemimpin ini tenang menghadapi gempuran pertanyaan wartawan terkait permasalahan yang ada. Anies Baswedan memang terkenal dengan retorika yang efik dan baik, Sayangnya dalam bentuk bekerja untuk rakyat mungkin Anies Baswedan harus lebih keras lagi dan benar-benar mementingkan masyarakat, terlebih jika melihat kenyataan yang diungkap oleh Kemensos kepada publik. 

Singkatnya, segala urusan apapun akan selalu ada jawaban versi nyeleneh dari pasangan pejabat ibukota ini. Namun, nasi sudah menjadi bubur, pencitraan Anies tidak laku lagi dijual ditengah-tengah masyarakat terlebih tamparan ini telak mengenai wajahnya. Bagaimanapun, Mensos tetap menjalani tugasnya dengan baik berdasarkan Peraturan Presiden No. 46 Tahun 2015 tentang Kementerian Sosial, diterima ataupun tidak itu sudah hal biasa dalam lini politik Indonesia, terlebih setiap pejabat yang bekerja dengan baik akan selalu dikucilkan oleh lawannya, apalagi secara tidak langsung Risma mengungkapkan kepada publik bobroknya wajah Jakarta saat ini. 

Related posts
Kolom

Vaksinasi Lintas Agama, Memperkuat Persatuan Bangsa

Masjid Istiqlal menjadi tempat untuk melakukan vaksinasi para pemuka agama. Kegiatan tersebut dilaksanakan bukan hanya kepada yang beragama Muslim saja, tetapi untuk semua agama. Aktivitas yang melibatkan tokoh lintas agama ini menjadi salah satu alat untuk memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa. Pasti, nantinya hal tersebut akan menambah kerukunan warga antar agama. Sebab, para pemuka agama memiliki peran sentral demi meyakinkan masyarakat untuk membuktikan keamanan vaksin, sehingga program vaksinasi dapat berjalan dengan lancar.
Kolom

Indonesia Sehat Tanpa Hoaks

Angka penyebaran berita bohong atau hoaks masih terus tumbuh dengan pesatnya. Hoaks telah banyak menguasai media-media sosial, meracuni akal sehat pikiran manusia…
BeritaKolom

Edukasi Komunikasi Netizen Indonesia

Hasil laporan tahunan Microsoft tengah menampar netizen Indonesia. Pasalnya, netizen Indonesia dinilai paling tidak sopan se-Asia Tenggara oleh Microsoft dalam laporan yang…