Dunia IslamKolom

Vaksinasi Mengamalkan Ajaran Agama

3 Mins read
Vaksinasi Mengamalkan Ajaran Agama agama

Sepanjang sejarah wabah, vaksinasi menjadi salah satu ikhtiar mapan melawan virus. Hal ini bukan saja karena terbukti dengan ilmiah, tetapi didukung dengan ajaran agama yang juga memerintahkan kita untuk memelihara jiwa dari ancaman bahaya yang bisa merenggut nyawa. Demikian vaksinasi merupakan bagian dari ajaran agama yang mesti kita amalkan.

Dalam khazanah Islam, upaya memelihara jiwa disebut dengan hifdzun nafs. Nafs di sini dapat diartikan dengan beberapa makna, seperti jiwa, nyawa, dan lain-lain. Islam mengajarkan umatnya memelihara jiwa agar sesama manusia tidak saling membunuh, menyakiti, menjaga kesehatan, dan memelihara dari suatu perantara yang bisa melenyapkan nyawa. Berdasarkan hal tersebut, lantas apa kaitannya hifdzun nafs dengan vaksinasi sebagai ajaran agama?

Masih ingatkah dengan sejarah ditemukannya vaksin pertama di dunia pada tahun 1700-an oleh Edward Jenner di Inggris. Selama berabad-abad virus cacar yang menyerang kala itu menyebabkan kematian 10 persen populasi penduduk Inggris. Bahkan, kota-kota yang terinfeksi terserang lebih cepat menghampiri 20 persen penduduk. Ketika wabah melanda, korban-korban bergelimpangan di jalanan hingga menjatuhkan puluhan juta nyawa. Kehadiran vaksin menjadi obat efektif dalam mengendalikan wabah dan menurunkan angka kematian secara drastis.

Berangkat dari hal tersebut, vaksin diandalkan menjadi penangkal setiap wabah yang terjadi. Bayangkan jika di masa itu orang-orang menolak sains dan divaksinasi, sementara virus ganas terus menyerang atau vaksin masih belum ditemukan, mungkin sampai detik ini situasi suram itu masih terjadi. Namun beruntungnya, kemajuan dan penemuan-penemuan ilmu pengetahuan dapat menganalisir kondisi pelik menjadi lebih terkendali, hingga dapat memelihara nyawa dari kematian massal.

Agama yang memerintahkan hifdzun nafs, tentu akan mendukung kelahiran vaksin sebagai kemaslahatan memelihara nyawa. Memang mulanya hifdzun nafs diperuntukkan mengehentikan sikap orang-orang jahiliah di masa lampau yang kerap saling berperang, lantaran peperangan ini kemudian berdampak pada banyaknya nyawa yang melayang. Padahal, nyawa merupakan sesuatu yang sangat berharga. Memelihara nyawa manusia, sama halnya menghargai ciptaan Tuhan.

Allah SWT berfirman dalam surat al-Maidah ayat 32, Barangsiapa yang memelihara kehidupan Manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara manusia semuanya. Demikian para ahli sains tengah tertantang keilmuannya dengan dilahirkannya vaksin sebagai menjaga keberlangsungan kehidupan banyak manusia.

Meski begitu, kehadiran vaksin tak memberi faedah jika penduduk wilayah yang terdampak wabah tidak mau divaksinasi. Vaksinasi harus dilakukan pada banyak orang agar kekebalan komunitas atau hard immunity dapat terbentuk. Sebab virus Covid-19 merupakan virus yang menular dengan skala besar. Maka dari itu, masyarakat diharapkan untuk saling bersinergi dalam mengentaskan pandemi dengan mendukung program vaksinasi dan merawat protokol kesehatan.

Rasulullah SAW bersabda, Setiap penyakit ada obatnya. Apabila sesuai antara obat dan penyakitnya, maka (penyakit) akan sembuh dengan izin Allah SWT. (HR. Muslim). Sejumlah ulama, seperti Imam Nawawi menyebutkan bahwa hadis ini memotivasi manusia jika sakit, maka berobatlah. Senada dengan situasi vaksin yang kini melanda, orang yang terdampak positif Covid-19 barang tentu mereka sudah pasti akan berobat, karena cemas virusnya akan menular lantas membahayakan orang lain.

Sedangkan bagi mereka yang dalam kondisi sehat, di tengah wabah mereka harus tetap berusaha menjaga diri dengan divaksinasi. Hal ini sebagai tindakan preventif agar virus tidak masuk pada tubuh dan tidak membawa virus untuk orang lain. Penting ditekankan, bahwa vaksin itu bukan obat, tetapi dapat memicu imunitas agar tubuh lebih kuat dari potensi penularan virus Covid-19. Selain itu, vaksinasi juga mencegah datangnya kepanikan berlebihan terhadap situasi wabah yang hanya akan menimbulkan spesifikasi baru dan penanganan lain.

Adanya BPOM dalam menangani efikasi vaksin mestinya dapat memberikan kepercayaan bagi masyarakat. Terlebih, presiden Indonesia telah menjadi orang yang pertama dalam menerima vaksin dan para tenaga medis menjadi garda terdepan untuk memulihkan kembali keadaan yang payah. Jika di sini kita hanya sekedar menerapkan protokol kesehatan, tanpa ada upaya alternatif untuk membunuh virus, maka boleh jadi virus ini akan terus mewabah sampai waktu yang tidak bisa ditentukan lamanya. Jadi sudah sepatutnya kita turut mensukseskan program vaksinasi yang diselenggarakan pemerintah.

Mengutip tirto.id (6/1) Menteri Budi Gunadi Sadikin mengatakan, bahwa sepanjang pandemi, 500 tenaga medis yang memerjuangkan pemulihan wabah Covid-19 telah wafat. Dari sini apakah kita masih tega membiarkan mereka bertempur dengan virus  yang menular dan memicu kematian, sedangkan kita di sini menolak vaksinasi yang mestinya membantu meringankan beban mereka dan berpotensi masif memulihkan keadaan. Belum lagi dengan para lansia, anak-anak, dan mereka yang rentan terkena virus. Kita harus memikirkan mereka agar tetap terlindungi.

Pada situasi wabah seperti ini, kita tidak bisa mengkhawatirkan diri sendiri yang enggan untuk divaksinasi. Sebab wabah melibatkan banyak orang. Semakin banyak orang yang divaksinasi, maka semakin kuat pertahanan kita dalam memerangi virus tersebut. Meminjam adagium bahasa Latin, repetitio est mater studiorum yang maknanya pengulangan adalah inti dari pembelajaran, sehingga penekanan protokol kesehatan 3M harus selalu diingatkan, yakni mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak.

Sejatinya, wabah Covid-19 mengajarkan kita untuk kembali memperbaiki pola hidup yang sehat dan saling bergotong-royong. Kemaslahatan merupakan sifat dari ajaran agama itu sendiri. Oleh karena itu, jika vaksinasi yang efeknya baiknya dapat dirasakan banyak orang dan bisa menyelamatkan nyawa atau seseorang dari pesakitan, maka kesediaan kita divaksinasi menjadi bagian pengamalan ajaran agama. 

Related posts
Kolom

Demokrat Sudah Menjadi Partai Dinasti Bukan Demokrasi

Peralihan kekuasaan, posisi Ketua Umum (Ketum) Partai Demokrat (PD) dari orang tua ke anak, menjadikan organisasi tersebut dicap sebagai partai dinasti. Pada umumnya di negeri ini, partai-partai menganut sistem demokrasi. Namun, apa yang dilakukan PD telah melukai sistem demokrasi partai. Awalnya hal itu terjadi, karena dipilihnya secara aklamasi Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) pada Kongres ke-V PD tanggal 15 Maret 2020. Maka itu, terlihat sekali bahwa PD sudah menjadi partai dinasti, bukan lagi demokrasi.
KolomNasihat

Diskursif Agama dan Negara Kontemporer

Gelombang populisme Islam menguat sejak kran reformasi dibuka. Berbagai arus aliran Islam transnasional masuk dan menginfiltrasi kaum Muslim Indonesia. Negara penganut Islam…
BeritaKolom

Zuhairi Misrawi, Jubir Arab Saudi

Tersebar berita, bahwa Kiai Zuhairi Misrawi atau yang akrab disapa Gus Mis ditunjuk oleh Presiden Jokowi sebagai Duta Besar Indonesia untuk Arab…