Dunia Islam

Perintah Iqra’ dan Pentingnya Ilmu Pengetahuan

3 Mins read
Perintah Iqra’ dan Pentingnya Ilmu Pengetahuan baca

Seruan membaca (iqra’) menjadi instruksi pertama dari wahyu yang Allah SWT turunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Termuat dalam surat al-Alaq ayat 1-5. Penempatan membaca menjadi perintah nomor wahid dalam rangkaian penyampaian ayat suci, tentu menyimpan alasan penting. Membaca adalah kunci untuk menyibak apapun yang masih samar. Melalui proses berpikir reflektif, kita akan menemukan suatu pengetahuan.

Ilmu pengetahuan menjadi begitu penting karena ialah medium untuk membangun kesadaran dan sikap yang terarah setelah proses memahami terjadi. Dalam skala yang lebih luas, ilmu pengetahuan menjadi variabel yang mempengaruhi eksistensi dan perkembangan peradaban manusia. Dengan pemahaman dan pengetahuan, umat manusia selaku mandataris Tuhan, diharapkan mampu mengelola bumi dengan baik serta menyejahterakan penghuninya.

Sejumlah mufasir menggambarkan wahyu pertama al-Alaq tadi sebagai proklamasi sekaligus motivasi untuk menggali ilmu pengetahuan melalui pembacaan. Allah SWT tidak secara spesifik menyebut obyek bacaan. Menandakan luasnya sesuatu yang bisa ditelaah dan dibaca. Dalam pandangan Quraish Shihab, karena obyek bacaan bersifat umum, maka membaca di sini mencakup segala hal yang dapat terjangkau. Baik bersumber dari lembaran-lembaran kitab suci maupun hamparan ayat-ayat kauniah.

Membaca adalah proses menghimpun ilmu dan informasi, yang harus didasarkan pada semangat ke-Ilahi-an. Sebagaimana bunyi iqra’ bismi rabbika; Bacalah dengan (demi) nama Tuhanmu. Syekh Abdul Halim Mahmud (mantan imam besar al-Azhar) pernah menuturkan, bahwa iqra’ bismi rabbika memiliki kedalaman pesan. Membaca merupakan lambang dari segala yang dilakukan manusia, baik yang bersifat aktif maupun pasif.

Kalimat tersebut dalam pengertian dan spiritnya ingin menyeru untuk “bacalah demi Tuhanmu, bekerjalah karena Tuhanmu, bergeraklah demi Tuhanmu”. Demikian halnya, apabila kita berdiam atau berhenti melakukan aktifitas, maka nyatakan pula dengan bismi rabbika. Sehingga pada akhirnya, ayat tersebut mengandung perintah agar seluruh kehidupan dan wujud kita ditujukan kesemuanya demi karena Allah semata.

Dalam aksara Arab, kata iqra’ terdiri dari huruf qaf, ra, serta hamzah. Betapapun diotak-atik, ketiga huruf tersebut tetap bermakna. Misal, ketika susunan didahului hamzah, lalu qaf, dan ra hingga menghasilkan kata aqarra yang berarti “mantap”, “mengakui”, dan “tenang”. Dalam bentuk lain, huruf-huruf tadi dapat disusun menjadi kata ariqa yang bermakna “sulit tidur” atau “gelisah”.

Apabila dirangkai, kesemua arti yang dihasilkan tersebut mengisyaratkan satu makna yang berjejaring. Di mana tanpa aktivisme membaca atau menelaah, akan lahir perasaan gelisah karena ketidaktahuan. Dan kegelisahan akan menyebabkan kesulitan tidur. Begitupun sebaliknya, seseorang yang membaca dan tahu akan merasa mantap dan tenang.

Membaca dan ilmu pengetahuan dapat dibingkai dalam relasi kausalitas. Di mana proses pembacaan akan menumbuhkan tunas pengetahuan. Dalam kapasitas seorang individu, ilmu merupakan penghias bagi si empunya. Ilmu dan kemampuan memahami disebut sebagai anugerah luar biasa dan utama di dunia setelah derajat kenabian. Bahkan mencari ilmu disebut lebih utama daripada ibadah sunah.

Seorang yang berilmu akan lebih peka dalam mencerna pertanda, lebih piawai memahami dirinya, dan bermuara pada persaksian serta pengetahuan akan kebesaran Tuhannya. Al-Quran melalui surat az-Zumar ayat 9 pun tegas menyatakan, bahwa seorang yang berilmu dan tidak, mereka sama sekali berbeda. Ilmu pengetahuan akan menghasilkan kebijaksanaan. Dan secara otomatis akan menempatkan manusia pada martabat yang tinggi.

Dalam historisitas umat manusia, fakta sejarah telah menunjuk ilmu pengetahuan sebagai obor pembawa pencerahan. Tata peradaban begitu dipengaruhi oleh aktivisme intelektual. Peradaban Yunani kuno begitu otoritatif dan terkenang karena mengalami pergumulan ilmu pengetahuan yang mendalam, seperti filsafat dan kesusasteraan.

Peradaban kemudian bergulir pada dunia Islam sekitar abad ke-8 hingga ke-12. Di mana saat itu dunia Islam begitu tekun dan gandrung melakukan pembacaan, penelitian, dan pemahaman pada realitas yang ada. Keran pengetahuan begitu deras mengalir. Hingga mampu menorehkan satu peradaban khas hasil dari akulturasi beragam kebudayaan.

Demikian halnya abad modern (zaman renaisans). Eropa berhasil bangkit pasca kegelapan dan memangku peradaban berkat perkembangan ilmu pengetahuan dan di saat yang sama menanggalkan dogma-dogma yang mengekang. Tiga lintasan sejarah ini adalah preseden yang mengukuhkan arti penting wawasan keilmuan.

Urgensi ilmu pengetahuan semakin nampak ketika melihat sejumlah hadis Nabi SAW. Dalam satu riwayat dinyatakan bahwa, tiap Muslim diwajibkan menyelami samudera keilmuan. Kemanapun, di manapun, dan sejauh yang mungkin dijangkau. Pengulangan perintah iqra’ dari Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW saat pewahyuan, serta lafaz ganda kata iqra’ dalam al-Alaq juga meneguhkan skala prioritas untuk belajar.

Mendesaknya perintah membaca menemukan relevansinya dengan tugas berat umat manusia untuk menjadi khalifah yang mengatur bumi. Tugas kehambaan semacam ini tidak bisa dilakukan seenaknya, tapi harus berbekal ilmu.

Instruksi membaca ditujukan agar umat manusia berpengetahuan sehingga tidak didikte oleh keadaan. Aktivisme membaca menuntut kita agar memberdayakan pikiran untuk menghimpun dan menelaah suatu obyek. Iqra’ adalah syarat utama untuk membangun peradaban. Membaca pun harus meliputi baik teks maupun konteks. Kekayaan ilmu pengetahuan akan mengantarkan umat manusia pada transformasi. Yang puncaknya dapat membuka perbendaharaan dunia dan kebahagiaan akhirat. Wallahu a’lam. []

Related posts
BeritaDunia IslamKolom

Zuhairi Misrawi akan Harumkan Indonesia di Arab Saudi dan Timur-Tengah

Pengamat Timur Tengah, merupakan identitas pertama yang saya kenal dari seorang Zuhairi Misrawi atau yang kerap disapa Gus Mis. Persisnya, perjumpaan awal…
BeritaDunia Islam

Zuhairi Misrawi dari NU untuk Arab Saudi

Intelektual muda NU, Zuhairi Misrawi dikabarkan akan dilantik menjadi Duta Besar Arab Saudi. Ini kabar baik bagi kita semua. Mengingat konsistensi Zuhairi…
Dunia IslamKadrun TVKolom

Aisyah RA Bukan Simbol Pernikahan Dini

Di zaman kita, pernikahan dini menjadi masalah sosial yang cukup serius. Berdasarkan publikasi laporan Pencegahan Perkawinan Anak (2020) yang dirilis Kementerian Perencanaan…