BeritaDunia Islam

Menyayangi Hewan, Ajaran Rasulullah SAW

3 Mins read
Menyayangi Hewan, Ajaran Rasulullah SAW safe image

Pengakuan Yahya Waloni yang menabrak anjing dan tidak bertanggung jawab mengundang kontroversi. Pasalnya, ia menengarai hewan tersebut itu najis, beda halnya dengan kambing barang tentu rem akan diinjakkan agar hewan itu tidak tertabrak. Ini ironi, bagi pendakwah yang urat malunya sudah lepas. Dakwah yang mestinya mengajarkan menyayangi binatang sebagai ajaran Rasulullah SAW, tetapi justru sebaliknya ia menyakiti anjing dengan menabraknya hingga kakinya pincang. Oleh sebab itu, pentingnya kesadaran menyayangi binatang untuk kembali mentradisikan ajaran Rasulullah SAW dalam kehidupan kita sehari-hari.

Kepada semua makhluk hidup, Islam sebagai agama kasih sayang senantiasa mengajarkan umatnya agar berbuat baik dan tidak menyiksa, termasuk hewan sekalipun. Bahkan, Islam memerintahkan agar manusia berbuat baik dan memerhatikan hewan karena sama-sama ciptaan Tuhan. Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan (juga) umat seperti kamu. Tiadalah kami alpakan sesuatupun dalam kitab kemudian kepada Tuhanmulah mereka dihimpunkan (QS. Al-An’am: 38).

Pernyataan bahwa binatang juga seperti umat manusia, tentu tidak seutuhnya, menuntut manusia juga berbuat sama kepada hewan, yaitu berbagi makanan dan memperlakukannya binatang dengan sikap sewajarnya. Islam tidak pernah mengajarkan untuk melegalkan mencederai hewan disebabkan najis.

Sebagaimana kisah Nabi Sulaiman AS, yang dikisahkan tidak menginjak semut karena kelembutan hatinya. Jika semut, hewan kecil yang keberadaannya kerap mengganggu manusia masih tetap diperhatikan, lantas hewan lainnya pun demikian. Hukum bahwa anjing itu hewan najis juga masih ikhtilaf, yang jelas Rasulullah SAW tidak pernah menyakiti hewan. Karena itu, penyiksaan kepada hewan sama sekali tidak dibenarkan.

Kemudian disebutkan pula dalam hadis, dari ‘Amr Ibn Syarid ia mendengar Rasulullah SAW bersabda, Barangsiapa yang membunuh satu ekor burung dengan sia-sia, ia akan datang menghadap Allah SWT di hari kiamat dan melapor, Wahai Tuhanku, sesungguhnya si fulan telah membunuhku sia-sia, tidak karena untuk mengambil manfaatnya (HR. an-Nasa’i). Adapun seorang yang sengaja menabrak anjing juga termasuk perbuatan sia-sia, karena ia membiarkan hewan tersebut hidup kesusahan dengan kaki yang pincang.

Keimanan manusia diuji dengan berbagai hal, baik kepada manusia, hewan, tumbuhan, barang-barang yang dimiliki, dan lingkungan sekitarnya. Untuk memastikan apakah ia bisa konsisten berbuat baik terhadap semuanya atau sesuatu yang dibenci akan dirusaknya. Itu sebabnya, Allah SWT senantiasa meletakkan pahala tak terduga kepada perbuatan yang dinilai rendah, misal kisah masyhur seorang yang menolong anjing dalam kehausan.

Abu Hurairah meriwayatkan sebuah hadis, …Wahai Rasulullah apakah bagi kita dalam berbuat baik kepada hewan ada pahala? Rasul menjawab: di setiap hati yang basah ada pahala (HR. Bukhari Muslim). Sejatinya, perbuatan baik itu sekecil apapun di mata manusia, Allah SWT tetap menghitungnya sebagai pahala, meski perbuatan itu ditunjukkan kepada seekor hewan.

Di antara beberapa bentuk penyiksaan kepada hewan dalam Islam yakni, seperti menyembelih dengan pisau yang tidak tajam, larangan menjadikan hewan yang bernyawa sebagai sasaran – tembak panah (HR. Ahmad, Bukhari, dan Muslim), mengebiri semua hewan (HR. Ahmad), mengadu domba di antara hewan (HR. Abu Daud dan Timidzi), larangan mentatu dan memukul muka hewan (HR. Ahmad, Muslim, dan Tirmidzi mengesahkannya).

Dari sini kita dapat melihat, betapapun hewan tidak semulia manusia, Islam tetap memperhatikan hak-haknya untuk diberikan perlindungan. Sebab tuntunan ini juga berpengaruh dengan kehidupan manusia, baik secara fisik maupun psikis. Secara fisik, manusia membutuhkan hewan-hewan tertentu untuk dikonsumsi yang mana hewan itu harus dipelihara dengan baik dan terbebas dari inveksi yang menyebabkan virus berpindah pada tubuh manusia. Sedangkan hewan yang tidak dikonsumsi, tetap mendapat pelestarian sebagai bukti menjaga kebesaran Allah SWT agar tidak punah.

Sedangkan secara psikis, menurut The American Pet Products Manufactures Association melaporkan, indikasi kuatnya korelasi antara kepemilikan binatang peliharaan dengan kondisi kesehatan fisik dan mental (Baron, Robert A, dan Byrne: 2005). Oleh karena itu, aktivitas memelihara hewan kini makin banyak digemari hingga banyaknya komunitas pecinta kucing, kelinci, dan sebagainya. Bahkan, tak sedikit di media sosial kita temukan orang-orang di luar sana yang berani memelihara binatang buas yang sudah dijinakkan, seperti anjing, harimau, dan singa.

Kepedulian komunitas pecinta hewan juga sangat peduli terhadap hewan terlantar yang terkena trauma akibat disiksa atau ditabrak, cacat, dan membantu hewan yang tengah dalam kesulitan karena terperosok di sungai, dan sebagainya. Situasi seperti ini, sangat membangkitkan empati kita untuk terus berbuat baik tanpa pandang bulu, sekalipun kepada hewan.

Menurut Setianingrum yang dikutip dari Jurnal Raudhah (2020), ada tiga manfaat memelihara hewan, yakni pertama dapat memulihkan kesehatan dengan cara menerapkan gaya hidup sehat, misal mengajak bermain dan berjalan-jalan dengan peliharaannya. Kedua, membantu mengatasi stress dengan menganggap hewan sebagai hiburan dan teman bermain. Ketiga, bersosialisasi dengan lingkungan dan orang-orang baru seperti saat membawa hewan berkeliling komplek.

Aktivitas memelihara atau menyayangi hewan ini akan memunculkan kelekatan emosional kepada hewan yang dipelihara, hingga tak jarang kita temukan anjing yang setia dan melindungi tuannya. Memang di Indonesia sendiri memelihara hewan masih terbilang masih dinilai rendah, hingga kesadaran untuk meminimalisir hewan terlantar masih banyak ditemukan. Paling tidak, ketika masih enggan untuk memelihara hewan, semestinya seseorang tidak menyakitinya dengan memukul, melempar, apalagi menabraknya, tindakan seperti itu tidak memiliki hati nurani kepada sesama makhluk ciptaan Tuhan.

Kendati demikian, setelah menyadari bahwa Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk menyayangi hewan itu hal yang dapat dibuktikan secara ilmiah efek positifnya, sangat menakjubkan. Maka dari itu, mulai kini mari sayangi hewan yang ada di sekitar kita sebagai wujud ketaatan pada ajaran Allah SWT dan Rasulullah SAW.

Related posts
BeritaKolom

Edukasi Komunikasi Netizen Indonesia

Hasil laporan tahunan Microsoft tengah menampar netizen Indonesia. Pasalnya, netizen Indonesia dinilai paling tidak sopan se-Asia Tenggara oleh Microsoft dalam laporan yang…
Dunia IslamKolomNasihat

Rasulullah SAW, Teladan dalam Keluarga

Di samping kesibukan Rasulullah SAW dalam mengajarkan umatnya tentang Iman, Islam, dan Ihsan, beliau merupakan seorang teladan dalam keluarga. Sebab tidak hanya…
BeritaKolomNasihat

Wali Kota Bukittingi Gagal Paham Agama dan Negara

Erman Safar, seorang pejabat negara berkedudukan sebagai Wali Kota Bukittinggi baru-baru ini ramai menjadi perbincangan di dunia jaringan maya. Ia mengusulkan satu…